Kaki Tak Sempurna Mengantar Saya untuk Jadi Juara

Atlet atletik Asian Para Games 2018
Tulisan dari Karisma Evi Tiarani tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Saya memang berbeda dari kebanyakan orang: secara fisik, demikian dengan cara berjalan. Sehari-hari saya berjalan dengan tertatih sebab kondisi kedua kaki saya panjang sebelah.
Selama 17 tahun, tak sekali dua kali saya dipandang rendah. Terutama semasa kecil, saya kerap dilihat teman-teman dengan pandangan tak biasa, sehingga membuat saya minder.
Rasa minder itu terus berlangsung hingga dua tahun lalu, seorang tetangga sesama penyandang disabilitas melihat kekurangan saya justru punya potensi tersendiri. Ia lantas mengajak untuk bergabung ke sebuah organisasi yang menaungi penyandang disabilitas untuk berprestasi di bidang olahraga.
Nama organisasi itu NPC (National Paralympic Committee). Bergabung dengan NPC, saya memilih cabang olah raga atletik. NPC membuka jalan saya untuk pertama kalinya ikut Pepaperda (Pekan Paralimpiade Pelajar Daerah).
Untuk kemudian saya berlanjut ikut klub PPLP (Pusat Pendidikan dan Latihan Pelajar) difabel Jawa Tengah. Klub tersebut mengantarkan saya hingga mendapat panggilan dari Pelatnas (Pemusatan Latihan Nasional).
Debut saya sebagai atlet para-atletik dimulai dengan lari jarak pendek 100 dan 200 meter, di nomor lompat jauh. Berbagai medali berhasil saya raih dari dua nomor yang menjadi spesialisasi saya hingga saat ini.
Muda dan Jauh dari Orang Tua
Usia saya masih 15 tahun, saat dipanggil berlatih di Pelatnas Solo. Orang tua di Boyolali sempat tak mengizinkan saya untuk pergi. Butuh waktu hingga akhirnya restu itu diperoleh.
Tangis dan rindu akan rumah mewarnai masa-masa awal saya di Pelatnas. Namun kehadiran teman-teman sesama atlet dapat sedikit menjadi obat.
Kalau tak pergi keluar dengan teman-teman, saya baca buku saja di kamar. Terutama buku pelajaran sekolah, sebab sekolah saya terhenti selama masa karantina.
ASEAN Para Games di Malaysia, Kejuaraan Internasional Pertama
Ada semacam perasaan beban ketika saya didapuk untuk mewakili Indonesia pada Ajang Asian Para Games 2018. Ini kejuaraan Asian Para Games pertama buat saya.
Kejuaraan internasional pertama yang pernah saya ikuti adalah ASEAN Para Games di Malaysia--diadakan tiap dua tahun sekali. Saya masih ingat betapa groginya saya waktu itu. dan betapa bersyukurnya saya pula dapat membawa 1 medali emas dan 2 perak.
Pada ajang Asian Para Games tahun ini, saya berharap dapat membawa hasil yang lebih baik. Meskipun tantangannya akan terasa sangat sulit. Perwakilan Jepang bisa jadi lawan terberat. Tak hanya itu, semua lawan saya lebih senior.
Terlebih lagi, saya berharap masyarakat Indonesia terus membantu menyukseskan event ini. Sebab, ini pertama kalinya Indonesia menjadi tuan rumah Asian Para Games.
Saya mohon doanya, semoga kelak dapat memberikan yang terbaik untuk Tanah Air tercinta.
Insya Allah.
