kumparan
search-gray
Tekno & Sains21 Desember 2019 20:51

Milenial, Mulailah Meminimalisir Penggunaan Plastik dari Diri Sendiri

Konten Redaksi Karja
image.png
Kalau bukan kita, siapa lagi yang akan peduli pada lingkungan? Time to act now! | Photo by Markus Spiske from Unsplash
Isu lingkungan memang selalu menarik untuk diperbincangkan. Namun belakangan ini, nampaknya isu peduli lingkungan semakin gencar disuarakan dari berbagai pihak. Mulai dari pemerintah, swasta, masyarakat, hingga kaum milenial yang mulai menyadari pentingnya menjaga lingkungan.
ADVERTISEMENT
Di sharing session kali ini, Karja akan membahas mengelola sampah mulai dari diri sendiri bersama Idfi Septiani, yakni inisiator Komunitas Peduli Sampah di Samarinda. Komunitas Peduli Sampah adalah sebuah komunitas yang baru berdiri di tahun 2019 dan bergerak untuk mengedukasi berbagai pihak mengenai apa itu sampah, bagaimana kita memperlakukan sampah, serta belajar untuk meminimalisir timbulan sampah baru dimulai dari diri sendiri.
Menurutnya, salah satu yang bisa melakukan perubahan saat ini adalah generasi milenial. “Tidak hanya milenial, tapi aku juga mulai melirik generasi Z. Karena generasi Z ini benar-benar tingkat individualismenya mulai tinggi, mereka sibuk dengan dunianya sendiri sehingga awareness dengan lingkungan agak kurang,” ucap Idfi.
Banyak perkataan bijak bilang kalau semua dimulai dari diri sendiri. Jadi, apa saja, sih, yang bisa kita lakukan dari diri sendiri untuk meminimalisir penggunaan plastik? Millennials and Gen Z, here’s what you need to know!
ADVERTISEMENT
1. Gunakanlah Botol Isi Ulang
image.png
Bawa botol minum sendiri, yuk, mulai sekarang! | Photo by Houston Max from Unsplash
Buat kalian yang gampang haus, kini sudah saatnya beralih dari botol plastik sekali pakai ke botol isi ulang atau tumbler. Dengan membawa botol minum sendiri, kalian sudah meminimalisir sampah plastik air mineral kemasan sekali pakai.
Bahkan, beberapa kedai kopi pun sudah gencar menyuarakan isu peduli lingkungan melalui gerakan membawa tumblr sendiri dari rumah. Contohnya saja kedai kopi paling hits di kalangan anak muda, yakni Starbucks. Tak jarang Starbucks memberikan promo berupa potongan harga apabila konsumen membawa tumblernya sendiri.
Tidak hanya itu, kalian juga bisa berhemat dengan membawa tumbler karena tinggal refill tanpa harus membeli yang baru. Sudah hemat uang jajan, bisa menyelamatkan lingkungan pula! Asyik, kan?
ADVERTISEMENT
2. Hindari Pemakaian Sedotan Plastik
image.png
#NoStrawMovement: sebuah gerakan untuk tidak lagi menggunakan sedotan plastik | Photo by Skitterphoto from Pexels
Saat ini, sudah cukup banyak restoran cepat saji yang tidak lagi menyediakan sedotan plastik. Namun di satu sisi, masih banyak pula rumah makan lokal yang masih menyediakan sedotan plastik tersebut.
Daripada menunggu orang lain untuk melakukan gerakan #NoStrawMovement, lebih baik kita mulai dari diri sendiri, yuk! Salah satu yang sempat booming di masyarakat pada tahun 2018 adalah sedotan yang terbuat dari stainless. Stainless straw dianggap mampu menjadi sebuah alternatif yang ramah lingkungan. Tak sedikit yang sudah menggunakan reusable straw satu ini. Perlahan, muncul pula sedotan yang terbuat dari kertas bahkan bambu yang bisa digunakan berkali-kali.
Meskipun begitu, seiring kepopuleran sedotan ini, sempat muncul perbincangan di media sosial kalau sebenarnya stainless straw pun juga tidak sepenuhnya ramah lingkungan. Mulai dari proses pembentukannya sampai dampak yang ditimbulkan ke lingkungan.
ADVERTISEMENT
Akibatnya, muncul sebuah gerakan baru yakni minum tanpa menggunakan sedotan. Terlepas dari pro dan kontra tersebut, tentu diperlukan proses bertahap untuk yang satu ini. Yang penting, kita harus menyadari dampak penggunaan sedotan plastik sendiri terhadap lingkungan.
Kalau memang kalian ingin mencoba menggunakan reusable straw karena ingin meninggalkan sedotan plastik, ada hal-hal penting yang harus diperhatikan, salah satunya ialah menjaga kebersihan dari sedotan itu sendiri.
3. Bawa Tas Belanja Sendiri
image.png
Biasakan untuk membawa tas belanja sendiri dari rumah | Photo by Austin Kehmeier from Unsplash
Mari beri apresiasi untuk kota-kota berikut ini, yakni Banjarmasin, Bogor, Balikpapan, Denpasar, dan Samarinda karena telah melarang penggunaan kantong plastik sekali pakai! (Kalau ada kota lain yang sudah menerapkan larangan penggunaan plastik, bisa sharing di kolom komentar, ya!)
Tak bisa dipungkiri, kebiasaan untuk memakai kantong plastik sekali pakai ini masih sulit untuk dihindari. Selain praktis dan tahan air, terkadang kantong plastik ini pun bisa dipakai lagi untuk membungkus sampah di rumah ataupun digunakan untuk hal lain.
ADVERTISEMENT
Namun, sudah saatnya kita melek dan peduli kepada lingkungan. Berhenti menggunakan kantong plastik dan mulailah membawa tas belanja sendiri dari rumah. Hal ini tentu bisa meminimalisir limbah plastik.
Bisa karena biasa; hal ini berlaku pula pada membawa tas belanja sendiri. Untuk memotivasi diri, pilihlah tas belanja dengan motif kesukaan sehingga kita pun senang untuk membawanya. Jangan lupa juga, selalu sediakan kantong belanja cadangan di kendaraan kalau misalnya lupa untuk menyiapkan dari rumah.
4. Bawa Kotak Makan
image.png
Sekalian nostalgia saat jaman sekolah, nih! | Photo by Ella Olsson from Pexels
Mungkin yang satu ini masih terdengar aneh di benak kita. Apa hubungannya membawa kotak makan sendiri dengan upaya menyelamatkan lingkungan?
Worry not, Idfi pun menjelaskan kisah dibalik tips satu ini. “Pernah nggak kepikiran kalau mau beli martabak bawa kotak makan sendiri? Atau beli keriping singkong yang kiloan itu di toples yang kita bawa sendiri dari rumah?” ucap Idfi.
ADVERTISEMENT
Pengalaman selama enam pekan yang Idfi dapatkan di Amerika, tepatnya di Northampton, Massasuchetts saat program YSEALI (Youth South East Asian Leaders Initiative) tahun 2017 lalu masih banyak yang membekas di dirinya. Salah satunya tentang peduli lingkungan dengan tidak membuang-buang makanan.
“Orang Amerika itu sangat disiplin tentang uangnya. Jadi kalau kami makan di rumah makan, dan nggak habis, itu nggak ada yang ditinggal gitu aja. Dibungkus di kotak makan yang udah dibawa,” bebernya. “Aku waktu ke Amerika juga bawa food container, jadi kalau aku nggak habis makanannya, ya udah aku masukin ke kotak makan, nanti aku makan lagi.”
Diakui Idfi, teman-teman sekantornya sering melakukan hal tersebut dan menjadi hal yang wajar, malah bahkan harusnya patut ditiru. Dengan membungkus makanan yang tidak habis, maka tidak ada lagi yang namanya mubazir dan food waste. “Kalau sore di kantor masih lapar, tinggal dipanasin di microwave, terus dimakan lagi. Teman-teman di kantor pada gitu, dan akhirnya aku ikutan.”
ADVERTISEMENT
Namun, itu kisah di Amerika. Di Indonesia sendiri, mungkin sebagian sudah menerapkan hal tersebut. Sayang, tak jarang kita temukan orang Indonesia yang masih merasa malu untuk membungkus makanan yang tidak habis setelah makan di restoran. Alasannya satu: kesannya ‘malu-maluin’. Padahal, makanan tersebut masih bisa dimakan lagi di rumah. Jadi, mari kita ubah mindset satu ini, sobat!
“Aku nggak pernah malu untuk bungkus makanan, karena itu hal baik, daripada makanannnya terbuang dan jadi mubazir? Lebih baik dibawa pulang, kan masih bisa dimakan lagi,” pungkas Idfi.
Masih banyak hal yang bisa kita lakukan untuk menjaga lingkungan. Ingatlah, bahwa bumi tempat kita tinggal ini adalah tempat yang harus kita jaga. Maka, mulailah dari diri sendiri untuk berkontribusi pada lingkungan.
ADVERTISEMENT
Last but not least, ada pesan dari Idfi yang patut kita ingat : ”Yang dibutuhkan itu adalah konsistensi.”
#terusberkarya
Tulisan ini adalah kiriman dari publisher, isi tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab publisher. Laporkan tulisan
sosmed-whatsapp-white
sosmed-facebook-white
sosmed-twitter-white
sosmed-line-white