kumparan
search-gray
News15 Januari 2020 16:57

Samarinda: Hujan Lagi, Banjir Lagi

Konten Redaksi Karja
image.png
Akibat hujan deras sejak Sabtu (11/01), kini Samarinda kembali lumpuh karena banjir | Photo by Karja/Nadya
Hujan deras mengguyur kota Samarinda sejak Sabtu (11/01) dini hari. Beberapa orang menarik selimutnya lebih tinggi lagi sembari bersyukur dalam hati, “Alhamdulillah, hujannya pas nggak ngantor. Tambah nyenyak tidur pagi ini.”
ADVERTISEMENT
Namun, hujan deras selama hampir seharian penuh itu membuat beberapa orang di beberapa kawasan di Samarinda terpaksa terjaga dan tidak melanjutkan scrolling media sosial sambil rebahan. Mereka (lagi dan lagi) harus terpaksa memantau kondisi air yang turun dari langit dan betah menari-nari di jalanan depan rumah.
Untuk beberapa orang, hujan mungkin menjadi sebuah nyanyian pengantar tidur. Namun untuk sebagian yang lain, hujan hanya bermakna satu kata: banjir.
Hujan deras hari Sabtu lalu itu mengakibatkan banjir di beberapa daerah yang memang menjadi langganan banjir. Sebut saja Simpang Sempaja, Simpang Lembuswana, daerah Lempake, Jalan Antasari, Jalan Pramuka, dan daerah lainnya, di mana hanya Tuhan yang tahu berapa kali sudah tergenang banjir setiap hujan turun.
ADVERTISEMENT
Bahkan, satu hari setelahnya, genangan air pun terlihat masih menggenangi beberapa titik yang memang terkenal rawan banjir.
Hujan yang begitu deras itu mengakibatkan air di Bendungan Benanga pada Minggu (12/01) mengalami peningkatan yang cukup pesat, dari 55 cm di sore hari menjadi 70 cm pada malam harinya. Keesokan harinya, pada Senin (13/01), ketinggian air kembali naik hingga berada di posisi 80 cm.
Hal ini tentu menyebabkan beberapa pihak cemas; takut kejadian banjir besar pada Juni tahun lalu kembali terulang. Ditambah pula berita yang beredar bahwa hari-hari ke depan, hujan deras masih akan turun. Bahkan, beberapa rumah di kawasan Perumahan Griya Mukti Sejahtera dan Jalan Bengkuring sudah mengalami kebanjiran karena air pasang.
image.png
Situasi banjir pada hari Selasa (14/01) di kawasan Perumahan Griya Mukti Sejahtera. Pada hari Rabu (15/01) ketinggian air di kawasan ini sudah mencapai pinggul orang dewasa | Photo by Karja/Nadya
image.png
Warga Perumahan Griya Mukti Sejahtera menaruh kendaraan mereka di jembatan yang aman dari banjir | Photo by Karja/Nadya
Kali ini, lirik lagu Kunto Aji di lagu Rehat “yang kau takutkan takkan terjadi’ rupanya menjadi tidak relevan pada hari Selasa (13/01) bagi warga Samarinda. Walaupun ketinggian air di Bendungan Benangan turun menjadi di posisi 70 cm, namun hujan turun begitu derasnya. Hujan seharian penuh itu mengakibatkan beberapa daerah tergenang banjir.
ADVERTISEMENT

Sudah Bendungan Benanga penuh, ditambah hujan pula.

Air coklat itu tidak hanya menghiasi rumah-rumah warga, jalan raya, namun juga beberapa sekolah-sekolah di Samarinda, bahkan salah satu panti asuhan, yakni Panti Baitul Walad di Jalan Flamboyan RT 9 No 79, Loa Buah, Samarinda.
Dari mulut ke mulut, terdengar dari telinga ke telinga; ada kabar burung yang menyatakan bahwa banjir di awal tahun 2020 ini akan menjadi lebih besar dibanding bulan Juni 2019 kemarin. Pasalnya, langit Samarinda mendung terus sejak hujan hari Sabtu lalu, dan ditakutkan ketinggian air di bendungan akan semakin meningkat.
Hingga hari ini, Rabu (15/01), terpantau beberapa titik di Samarinda masih tergenang banjir, bahkan ada yang semakin dalam ketinggian airnya, contohnya di Perumahan Bumi Sempaja, Perumahan Griya Mukti Sejahtera, Jalan Remaja, Jalan Hasan Basri, dan Jalan Ahmad Yani.
ADVERTISEMENT
Seperti biasa, pemandangan khas banjir pun kembali menghiasi awal tahun 2020 di Samarinda. Mulai dari anak-anak yang bermain banjir dengan riang gembira, deretan panjang kendaraan yang mengantri di jalanan bebas banjir, sampai beberapa warga yang menggunakan ketinting untuk ‘berlayar’ di jalanan.
image.png
Banjir di Jalan P.M. Noor mengakibatkan macet yang cukup panjang pada Rabu (15/01) | Photo by Karja/Charles
Tidak hanya itu, lelucon-lelucon internal orang Samarinda pun ramai menghiasi media sosial, seperti :
  1. ‘Ikam hanyar kah di Samarinda?’ yang bermakna ‘apakah kamu baru tinggal di Samarinda?’,
  2. ‘Dunia aja ini wal’ atau ‘semua ini hanya duniawi’.
  3. Ada pula kalimat yang akhir-akhir ini menjadi viral di kalangan warga Samarinda, yaitu mengenai masalah banjir di Samarinda yang katanya sudah ada ‘dari jaman kuda makan tembaga’.
Pada akhirnya, kita sebagai warga Samarinda yang baik juga harus menjaga lingkungan mulai dari hal kecil, misalnya tidak membuang sampah sembarangan. Warga yang baik tidak hanya memberi masukkan kepada Pemerintah, tetapi juga mendukungnya melalui kontribusi-kontribusi dari hal yang paling kecil.
ADVERTISEMENT
Semoga banjir di Samarinda cepat surut, dan stay safe everyone!
#terusberkarya
Jangan lupa follow Karja di Instagram (@karjaid) dan klik tombol 'IKUTI' di kumparan.com/karjaid untuk mendukung dan mengikuti konten menarik seputar entrepreneurship, kisah inspiratif, karya anak bangsa, dan isu sosial seputar milenial ya, Sobat!
Tulisan ini adalah kiriman dari publisher, isi tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab publisher. Laporkan tulisan
sosmed-whatsapp-white
sosmed-facebook-white
sosmed-twitter-white
sosmed-line-white