Strategi Engagement Indonesian Idol dan The Voice Indonesia

Ajang pencarian bakat menyanyi menjadi tontonan yang cukup diminati. Program acara jenis ini kerap berhasil menuai banyak penonton dan peserta lomba.
Fenomena di atas, membuat banyak stasiun televisi yang berlomba untuk membuat program serupa. Dari aliran lagu pop hingga dangdut, semuanya sudah dilombakan.
Salah satu ajang pencarian bakat menyanyi terbesar di Indonesia adalah Indonesian Idol dan The Voice Indonesia. Penasaran bagaimana kisah menarik dibalik program acara ini? Simak artikelnya.
Awal Permulaan
Indonesian Idol, mulai tayang di televisi Indonesia pada tahun 2014, salah satu pelopor ajang pencarian bakat menyanyi. Di sponsori oleh rumah produksi Fremantle, dan ditayangkan di stasiun televisi RCTI.
Setia dipandu oleh VJ tampan, Daniel Mananta. Saat ini, Indonesia Idol sudah mencapai musim ke-10. Perlombaan ini mengadaptasi dari Pop Idol, sebuah acara pencarian bakat yang sukses di negara Inggris.
The Voice Indonesia, awal di tayangkan pada tahun 2013. Program acara ini juga diadaptasi dari luar negeri. Terlihat sukses, membuat Indonesia mengurus hak siaran The Voice Indonesia.
Disiarkan pertama kali di Indosiar. Setelah berjalan 1 season, program acara ini dipindahkan ke RCTI. Kemudian, pada tahun 2018, dipindahkan kembali ke GTV.
Target Peserta dan Babak Penentu
Untuk Indonesian Idol, ditetapkan syarat usia untuk peserta. Dari 16 hingga 27 tahun saja. Untuk babak awal, dilakukan audisi di berbagai kota besar di Indonesia. Seperti Jakarta, Surabaya, Bandung, dan masih banyak lagi.
Selanjutnya adalah babak showcase, dan dilanjutkan dengan babak spektakuler. Tahap ini membutuhkan dukungan dari penonton melalui suara SMS. Peserta dengan suara terendah, harus gugur, dan tidak bisa melanjutkan perjalanannya di ajang ini.
Hingga akhirnya tersisa dua orang bertahan. Dilanjutkan dengan babak grand final untuk memilih juara pertama. Proses di atas dilakukan selama beberapa pekan, hingga akhirnya terpilih suara merdu terbaik.
Untuk The Voice Indonesia, sudah menjadi ciri khususnya menggunakan blind audition. Dimana, juri duduk membelakangi peserta, dan menekan tombol untuk memutar kursi jika tertarik dengan suara yang didengar sebelumnya.
Jika juri yang membalikkan kursi lebih dari satu orang, peserta diperbolehkan untuk memilih coach atau pelatihnya selama masih tergabung sebagai peserta. Peserta di ajang ini juga wajib sudah berusia 16 tahun ke atas, namun tidak ada batasan hingga usia berapa.
Dilanjutkan dengan babak battle round, dimana sesama peserta harus berduel dengan tim dari pelatih lain. Dilanjutkan dengan babak knockout, yang mengharuskan peserta untuk bernyanyi solo. Coach bertugas untuk memilih siapa anggota yang bisa terus lolos ke babak selanjutnya.
Peserta yang bertahan, akan melaju ke babak live show. Disini, peserta akan kembali ditandingkan, dan hanya menyisakan empat kandidat terbaik yang layak untuk melaku ke babak akhir, yaitu grand final. Hingga akhirnya, ditemukan pemenang utamanya.
Target Audience
Sebagai bisnis yang bergerak di dunia hiburan, tentunya kedua program acara ini harus memiliki pangsa pasarnya masing-masing. Diduga, ajang Indonesia Idol menyasar remaja hingga dewasa dengan status sosial menengah ke atas.
Mengingat jam tayangnya yang cukup malam, yaitu pukul 21.00 hingga 00.00, juga adanya sesi voting yang dikenakan biaya 2 ribu rupiah per-SMS. Biaya ini, mungkin tergolong sedikit mahal untuk sebagian orang, namun untuk kelas sosial menengah ke atas, tidak akan keberatan dengan sistem tersebut.
Untuk The Voice Indonesia, diduga memiliki target penonton dari anak-anak, remaja, hingga dewasa. Mengingat jam tayangnya yaitu pukul 18.30, dimana memungkinkan untuk banyak orang dengan berbagai usia menontonnya.
Sistem voting yang digunakan pun cukup unik, yaitu menggunakan aplikasi Ruang Guru. Proses ini tidak dikenakan biaya apapun, sehingga, semua orang dapat bebas memilih tanpa harus menanggung beban biaya.
#terusberkarya
