Konten dari Pengguna

Darurat Sampah Plastik: Saatnya Aksi Nyata, Bukan Seremonial

Karolus Buulolo

Karolus Buulolo

Mahasiswa Fakultas Hukum universitas Katolik Santo Thomas Medan

·waktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Karolus Buulolo tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

OLEH: KAROLUS BUULOLO
zoom-in-whitePerbesar
OLEH: KAROLUS BUULOLO

Indonesia sedang tidak baik-baik saja. Predikat sebagai salah satu penghasil sampah plastik ke laut terbesar di dunia bukanlah prestasi, melainkan rapor merah yang memalukan. Fakta per awal 2026 menunjukkan bahwa darurat sampah bukan lagi sekadar slogan, melainkan krisis riil yang melumpuhkan ekosistem kita. Saatnya kita berhenti berpura-pura bahwa pembersihan simbolis di pantai sekali setahun dapat menyelesaikan masalah ini. Aksi nyata adalah harga mati, bukan sekadar seremonial.

Data menunjukkan bahwa dari sekitar 130.000 hingga 143.000 ton sampah yang dihasilkan setiap hari, baru sekitar 24-26% yang terkelola dengan baik. Sisanya? Mencemari laut, menyumbat sungai, membakar udara, dan—yang paling menakutkan—terurai menjadi mikroplastik yang masuk ke dalam tubuh manusia melalui rantai makanan. Ini adalah ancaman kesehatan jangka panjang yang serius.

Mengapa seremonial tidak lagi cukup?

Pertama, masalah ini ada di hulu, bukan hanya di hilir. Kampanye pungut sampah hanya memindahkan masalah dari satu tempat ke tempat lain. Aksi nyata harus fokus pada pengurangan plastik sekali pakai sejak dari sumbernya.

Kedua, penegakan hukum masih lemah. Kita butuh kebijakan tegas—seperti pelarangan kantong plastik, sedotan, dan styrofoam yang konsisten di seluruh ritel dan pasar tradisional—bukan hanya di beberapa kota percontohan.

Ketiga, ekonomi sirkular harus dijalankan. Industri harus bertanggung jawab atas kemasan yang mereka produksi (Extended Producer Responsibility), tidak bisa terus-menerus membebankan masalah sampah plastik ke konsumen atau pemerintah daerah.

Tahun 2026 ini harus menjadi titik balik. Pemerintah telah menetapkan "War on Waste" dengan target mengakhiri praktik open dumping (pembuangan terbuka) sepenuhnya. Ini adalah langkah yang baik, namun harus dibarengi dengan infrastruktur pengolahan sampah yang memadai di tingkat desa dan kecamatan.

Sebagai masyarakat, kita juga harus berhenti menunggu perubahan. Membawa tumbler, tas belanja, dan memilah sampah di rumah bukan lagi sekadar gaya hidup, melainkan bentuk pertahanan diri.

Darurat sampah plastik adalah pertarungan untuk kelangsungan hidup. Mari kita kubur seremonial dan mulai bertindak nyata. Sampah plastik tidak akan hilang sendiri hanya dengan seruan di media sosial. Reduce, Reuse, Recycle—terutama Reduce—harus menjadi napas peradaban kita saat ini.Darurat ini nyata, aksi kita harus lebih nyata.