Konten dari Pengguna

Luka Tanpa Darah: Menggugat Normalisasi Pelecehan Verbal

Karolus Buulolo

Karolus Buulolo

Mahasiswa Fakultas Hukum universitas Katolik Santo Thomas Medan

·waktu baca 2 menit

comment
7
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Karolus Buulolo tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Oleh : Karolus Buulolo
zoom-in-whitePerbesar
Oleh : Karolus Buulolo

Pelecehan verbal adalah bentuk kekerasan yang licin. Ia tidak meninggalkan lebam biru atau luka terbuka yang bisa difoto sebagai bukti di pengadilan dengan mudah. Namun, ia bekerja seperti tetesan air yang jatuh terus-menerus ke atas batu; perlahan tapi pasti, ia melubangi harga diri, kepercayaan diri, dan kesehatan mental seseorang.

Seringkali, pelecehan ini berlindung di balik kedok "keakraban". Di lingkungan kerja, sekolah, bahkan dalam hubungan asmara, kata-kata yang merendahkan sering dianggap sebagai bagian dari dinamika sosial. Namun, ada garis tegas antara humor yang sehat dengan upaya sadar atau tidak sadar untuk mendominasi dan merendahkan orang lain. Ketika sebuah ucapan membuat seseorang merasa kecil, ketakutan, atau tidak berdaya, itu bukan lagi candaan. Itu adalah agresi.

Dampaknya tidak main-main. Korban pelecehan verbal sering kali mengalami "perang batin" yang berkepanjangan. Mereka mulai menginternalisasi hinaan yang mereka terima. Jika seseorang terus-menerus diberitahu bahwa mereka tidak kompeten, lambat, atau tidak menarik, mereka akan mulai memercayainya. Inilah kengerian utama dari pelecehan verbal: ia mampu mengubah narasi seseorang tentang dirinya sendiri menjadi sesuatu yang negatif.

Kita perlu berhenti memaklumi perilaku ini. Menghadapi pelecehan verbal bukan tentang menjadi "terlalu sensitif", melainkan tentang menuntut rasa hormat yang mendasar sebagai manusia. Kita harus mulai berani menetapkan batasan. Jika sebuah lingkungan menganggap pelecehan verbal sebagai hal yang lumrah, maka lingkungan itulah yang bermasalah, bukan mereka yang merasa tersakiti.

Pada akhirnya, kata-kata adalah cerminan dari isi kepala dan hati. Menggunakan kata-kata untuk menjatuhkan orang lain adalah tanda kelemahan karakter, bukan kekuatan. Sudah saatnya kita membangun budaya di mana empati lebih dihargai daripada ego, dan di mana kita sadar bahwa meski kata-kata tidak mematahkan tulang, ia bisa dengan sangat mudah mematahkan semangat hidup seseorang.