Menangis sebagai Mekanisme Biopsikologi dalam Regulasi Emosi

Mahasiswa Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyah Surakarta
·waktu baca 5 menit
Tulisan dari Kartika Tri Wulandari tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Kata "menangis" dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia merujuk pada pengungkapan perasaan sedih (seperti kecewa, menyesal, dan lain-lain) yang ditandai dengan keluarnya air mata dan suara (seperti tersedu-sedu, menjerit-jerit, dan sebagainya). Menangis merupakan bagian dari kehidupan, dan menjadi sangat dekat dengan kita. Tangisan berfungsi sebagai obat, meskipun kesedihan dan duka bukanlah suatu penyakit. Tetapi memiliki tempat tersendiri dalam jiwa manusia. Kesedihan tidak dapat disamakan dengan sifat-sifat seperti amarah, keberanian, dendam, atau dengki. Penyebab seseorang menangis bisa berasal dari kesedihan dan duka lara. Namun, menangis juga dapat disebabkan oleh kebahagiaan dan kesenangan. Jika menangis dianggap sebagai tanda kelemahan jiwa, maka seharusnya kebahagiaan dan kesenangan juga dapat dipandang sebagai kelemahan jiwa, sama halnya dengan kesedihan dan duka lara yang dianggap sebagai kelemahan.
Alasan saya memilih topik ini adalah karena salah satu sifat yang dominan pada diri saya adalah suka menangis. Karena itu saya ingin mencari tau lebih dalam mengenai menangis sebagai mekanisme Biopsikologi dalam regulasi emosi. Saya ingin mencari tau tentang penyebab menangis serta cara mengatasi agar tidak mudah menangis. Menurut saya, menangis adalah hal yang sangat wajar terjadi. Karena menangis adalah sebuah emosi yang dikeluarkan oleh tubuh dalam memproses suatu masalah. Bahkan menurut saya, menangis bisa menyelesaikan masalah karena biasanya setelah menangis, pikiran bisa mencerna lebih luas lagi dan mendapatkan jalan keluar dari suatu masalah tersebut.
Riset yang dilakukan oleh Lauren Bylsma, PhD, dari University of Pittsburgh dan dipublikasikan dalam Journal of Research in Personality pada tahun 2011, mengungkapkan alasan mengapa perempuan lebih sering menangis dibandingkan laki-laki. Secara biologis, tubuh perempuan memiliki kadar hormon prolaktin yang lebih tinggi dibandingkan laki-laki. Hormon ini, menurut Lauren, cenderung mendorong individu untuk menangis. Di sisi lain, pada laki-laki, hormon testosteron berfungsi untuk mengurangi kecenderungan seseorang untuk menangis. (Muhyidin, 2008)
Judith Kay Nelson, PhD, seorang psikoterapis, dalam bukunya yang berjudul "Seeing Through Tears: Crying and Attachment" menyatakan bahwa menangis sering terjadi di dekat orang-orang yang kita anggap dekat. Ia juga menekankan bahwa menangis adalah emosi yang normal dan sehat. Seseorang yang mengalami masalah ketidakamanan dengan dirinya sendiri sering kali tidak dapat menangis dengan cara yang wajar. Bagi beberapa individu yang sulit mengekspresikan emosi dan cenderung tertutup, mereka lebih memilih untuk menyembunyikan perasaan mereka dan tidak lagi mampu menangis karena menganggapnya sebagai tanda kelemahan. (Mardeli, 2016)
Tidak semua air mata dapat diartikan sebagai tangisan, karena tangisan memiliki karakteristik tertentu yang kadang-kadang tidak harus dipenuhi oleh alasan keluarnya air mata. Jika tertawa dianggap menyehatkan, dan menangis juga menyehatkan, tentu dengan kriteria tertentu, di antara kriteria menangis adalah sebagai berikut:
1. Air Mata Kesedihan
Air mata kesedihan biasanya muncul ketika seseorang ditinggalkan oleh orang yang dicintainya, contohnya seperti anak yang kehilangan ayahnya. Tangisan ini sering disebut sebagai tangisan kasih sayang. Menangis karena kesedihan adalah hal yang umum dalam kehidupan manusia. Kesedihan muncul ketika sesuatu menekan jiwa manusia. Kesedihan merupakan sisi lain dari stres, dan semakin besar tekanan yang dialami seseorang, semakin besar pula rasa sedih dan stres yang dirasakannya.
2. Air Mata Kebahagiaan
Air mata kebahagiaan muncul ketika seseorang merasakan kebahagiaan yang mendalam, yang menimbulkan rasa haru dan bahagia itu sendiri. Air mata ini merupakan hasil dari kabar baik dan keharuan yang dirasakan oleh jiwa.
3. Air Mata Kemunafikan
Air mata kemunafikan adalah air mata yang tidak tulus. Air mata ini tidak berasal dari hati dan akal sehat, serta tidak muncul akibat sebab-sebab fisik. Biasanya, air mata ini dimiliki oleh para aktor film, teater, dan sinetron.
4. Air Mata Ketidakberdayaan
Air mata ketidakberdayaan sebenarnya sangat mirip dengan air mata kesedihan. Perbedaannya adalah air mata ini bukan berasal dari kesedihan, melainkan dari ketidaksabaran, kemarahan, dan ketidakmampuan.
5. Air Mata Fisis
Air mata fisis adalah air mata yang keluar akibat sebab-sebab fisik, bukan psikis. Contohnya adalah air mata yang muncul karena iritasi pada kulit. (Muhyidin, 2008)
Menangis didefinisikan sebagai fenomena sekremotor yang kompleks, ditandai dengan keluarnya air mata dari kelenjar lakrimal, tanpa adanya iritasi pada struktur mata. Sering kali, proses ini disertai dengan perubahan pada otot-otot ekspresi wajah, vokalisasi, dan dalam beberapa kasus, terisak-isak, yang merupakan proses menghirup dan menghembuskan udara secara kejang pada kelompok otot pernapasan dan batang tubuh (Patel, 1993). (Gračanin et al., 2014)
Dalam bagian otak, terdapat beberapa komponen yang berperan dalam proses menangis, antara lain:
1. Sistem Limbik atau bagian otak yang memiliki peran signifikan dalam mengatur emosi dan memori. Beberapa struktur penting yang terlibat adalah:
- Amigdala (bertanggung jawab untuk memproses emosi)
- Hipotalamus (berfungsi untuk mengatur respons fisiologis tubuh terhadap emosi)
- Hippocampus (membantu mengaitkan emosi dengan memori)
2. Sistem Saraf Otonom berfungsi sebagai pengatur bagian tubuh yang tidak disadari, seperti pernapasan, detak jantung, dan pencernaan. Dalam sistem ini dibagi menjadi dua bagian yaitu:
- Sistem Simpatik (meningkatkan respons stres tubuh)
- Sistem Parasimpatik (mengembalikan tubuh ke keadaan tenang, membantu mengurangi stres, dan meningkatkan keseimbangan tubuh)
3. Neurotransmiter berperan dalam menenangkan atau memodulasi emosi. Terdapat tiga hormon yang termasuk dalam kategori ini, yaitu:
- Oksitosin (membantu mengurangi rasa stres dan meningkatkan ikatan sosial)
- Endorfin (pereda nyeri alami)
- Kortisol (hormon stres yang diproduksi tubuh saat mengalami stres emosional) (Sarah Lewaherilla, 2024)
Analisis dan kesimpulan dari esai di atas adalah bagaimana menangis dapat berfungsi sebagai metode untuk kesehatan mental. Dengan menangis, kita memperoleh berbagai hal positif setelahnya dan dapat menjaga kesehatan mental kita. Beberapa hal positif yang dapat diperoleh antara lain adalah pikiran yang lebih tenang, berkurangnya beban pikiran, kemampuan untuk mengendalikan diri, dan lain-lain. (Şahin, 2014)
