Melampaui Formalitas ASN: Mengembalikan Ruh Etika di Ruang Kelas

Pengajar di SMA Negeri 1 Berastagi
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Kartina Anggraini tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Beberapa waktu ini, media sosial diramaikan dengan perbincangan citra ASN yang dianggap dengan rutinitas datang, absen, lalu menghilang hingga jam pulang. Sebuah potret yang telah beredar di media sosial beberapa kali sebelumnya tidak hanya fenomena sementara yang membuat para netizen marah tetapi lebih seperti kaca yang retak yang mencerminkan pantauan yang semakin besar dalam budaya kerja kinerja ASN. Bagi kita yang mengemban Amanah sebagai aparatur sipil negara, menyaksikan sorotan tajam telah melahirkan rasa miris sekaligus gusar. Di Tengah perjuangan ribuan pegawai yang berdedikasi tinggi melayani masyarakat sejak menit pertama jam dinas. Tindakan sebagian kecil oknum ini seolah meruntuhkan reputasi dan kepercayaan publik yang telah dibangun dengan susah payah.
Sebagai seorang guru ASN PPPK yang sehari-hari mengabdi di SMA Negeri 1 Berastagi, saya merasakan betul betapa berharganya setiap menit di awal jam sekolah. Di Tengah hembusan hawa dingin dataran tinggi Karo setiap pagi, jam pertama adalah waktu yang penting Ketika bel sekolah berbunyi dan ratusan siswa telah duduk rapi di dalam kelas dengan penuh antusiasme. Ada anak-anak yang menempuh perjalanan jauh dari berbagai pelosok desa demi menuntut ilmu dan menggantungkan cita-cita mereka kepada kami. Ketika ruang kelas kosong atau guru tidak kunjung hadir hanya karena memilih bersantai di luar lingkungan sekolah pada jam efektif, rasa kecewa para murid adalah tamparan keras bagi martabat dunia pendidikan.
Secara administratif, mereka yang mangkir mungkin tercatat memiliki tingkat kedisiplinan yang sempurna. Pemindaian wajah mereka terekam tepat waktu di aplikasi presensi berbasis GPS, atau sidik jari mereka menempel mulus di mesin fingerprint sebelum bel masuk berbunyi. Sistem manajemen kepegawaian akan otomatis mencatat kehadiran mereka 100 % tanpa cela. Justru di situlah letak tragedi birokrasi yang sesungguhnya. Ada jurang pemisah yang sangat lebar antara kepatuhan administratif dan integritas moral yang sejati. Ketika presensi hanya dimaknai sebagai ritual formalitas demi mengamankan tunjangan kinerja, fungsi utama pelayanan publik dan tugas mulia mencerdaskan bangsa otomatis langsung ditanggalkan begitu saja.
Mengapa fenomena “absen lalu meninggalkan tugas” seolah terus berulang dan sulit dikikis habis. Akar masalahnya tidak semata-mata terletak pada karakter individu pegawai melainkan pada budaya organisasi yang masih menempatkan kehadiran fisik di atas efektivitas hasil kerja. Fenomena absentisme terselubung ini semakin subur Ketika fungsi pengawasan di tingkat unit kerja melonggar. Sikap ewuh perkewuh atau rasa tidak enak hati antar rekan sejawat kerap disalahartikan sebagai bentuk solidaritas, padahal itu adalah pemakluman yang salah kaprah sehingga merusak kualitas pelayanan.
Pengabaian tanggung jawab pada jam kerja efektif yang dipertanggungjawabkan kepada rakyat. Setiap rupiah gaji dan tunjangan yang diterima ASN dipotong dari hasil keringat rakyat termasuk para orang tua murid yang bekerja keras sebagai petani, pedagang dan buruh harian. Ketika jam kerja yang seharusnya dialokasikan untuk bersantai, di situlah letak pergeseran etika yang sangat fatal. Ini bukan lagi sekadar masalah rasa malas individu, melainkan tumpulnya empati sosial kita sebagai pelayan Masyarakat. Maka setiap tindakan kita bukan hanya jam kehadiran adalah bentuk pertanggungjawaban moral kepada publik yang kita layani. Nilai ini sejalan dengan semangat Akuntabel dan Loyal dalam BerAKHLAK, yang menegaskan bahwa ASN dituntut bertanggung jawab atas kepercayaan yang diberikan, bukan sekadar patuh pada aturan administratif.
Saya percaya, jutaan ASN di seluruh Indonesia sebagai tenaga pendidik, tenaga kesehatan, staff pelayanan publik, menjalani pergulatan serupa yaitu beban personal yang berat, namun tetap memilih menjaga Amanah profesinya. Di tempat saya mengajar, tidak sedikit rekan guru ASN yang juga menempuh rute Medan-Berastagi setiap hari, dengan alasan dan beban masing-masing yang tak kalah berat. Kisah-kisah seperti ini jarang terlihat, karena memang tidak pernah tercatat di aplikasi absensi di manapun. Namun justru di sinilah nilai sejati ASN diuji dan dibuktikan. Dalam situasi seperti itu, sebenarnya ada banyak alasan "sah" untuk sekadar hadir tanpa benar-benar memberikan yang terbaik. Tidak ada yang akan menegur, karena secara administratif saya tetap "hadir".
Integritas seorang ASN pada akhirnya tidak pernah diukur dari seberapa cepat jari kita menyentuh mesin presensi di pagi hari, melainkan dari apa yang kita perbuat setelah prosesi presensi itu usai. Sebagai guru ASN PPPK di SMA Negeri 1 Berastagi, saya meyakini bahwa setiap materi Pelajaran yang kita sampaikan dan setiap keteladanan etika yang kita tampilkan di dalam kelas adalah bentuk pertanggungjawaban moral kepada Tuhan dan bangsa.
Integritas justru sering diuji paling keras saat lelah menumpuk, saat tidak ada atasan atau rekan kerja yang tahu seberapa besar usaha yang kita keluarkan untuk tetap professional. Jika integritas hanya muncul saat diawasi maka itu bukan integritas, melainkan kepatuhan yang dipaksakan. Hanya melalui keberanian menjaga etika di tempat kerja masing-masing, kita dapat mengembalikan marwah birokrasi menuju Indonesia yang lebih baik.
