Apa yang Anda Pikirkan, Facebook?

Seorang guru SMP Negeri 1 Toboali Kecamatan Toboali Kabupaten Bangka Selatan
·waktu baca 5 menit
Tulisan dari Karto tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Sebuah Pertanyaan untuk Facebook.

Sebuah pertanyaan template Facebook yang setiap hari kita lihat ketika membuka ponsel seolah-olah merayu jemari kita untuk mengetikkan sesuatu tentang apa yang kita pikirkan. Dialah Facebook, sebuah aplikasi media sosial besar yang dibangun pada bulan Januari 2004 namun mulai dibuka untuk umum pada tahun 2006 dan mulai menggejala di Indonesia dimulai pada pertengahan tahun 2008. Facebook adalah sebuah sarana sosial yang membantu masyarakat untuk berkomunikasi secara lebih efisien dengan teman-teman, keluarga dan teman sekerja.
Penemu situs pertemanan ini adalah Mark Zuckerberg seorang mahasiswa Universitas Harvard Amerika Serikat. Awalnya tak ada yang menarik dari facebook, media sosial terdahulu seperti Friendster dan kawan-kawannya masih tetap setia digunakan oleh pengguna Internet, bahkan disebutkan juga hingga pertengahan 2007 Facebook nyaris tak dilirik pengguna Internet. Lonjakan pengguna Facebook pada pertengahan 2008 dibuktikan dengan statistik Facebook sebagai situs ranking kelima yang paling banyak diakses di Indonesia. Luar biasanya lagi, Indonesia tercatat dalam sepuluh besar negara pengguna jejaring sosial tersebut. Fitur-fiturnya pun terus berkembang seiring perkembangan zaman. Dari yang hanya bisa chatting dan menulis status hingga bisa video call dan ‘Live’ seperti sekarang ini.
Facebook di tahun 2021 masih tetap menjadi salah satu media sosial favorit. Namun yang menarik adalah, penggunanya tidak hanya didominasi anak-anak milenial maupun generasi X yang justru terbagi dengan Instagram, Tiktok dan Youtube sebagai media menyalurkan hobi fotogenik dan dance anak-anak muda ini. Facebook mulai beranjak digandrungi oleh pengguna rata-rata didominasi oleh bapak-bapak dan ibu-ibu paruh baya. Beragam tujuan bagi mereka, penggunaannya untuk mencari teman lama yang jarang bertemu, sekadar penasaran, bisnis, post jualan, kampanye, saling sindir, maupun berbagi hal-hal lain. Jadi saya sedikit terheran-heran belakangan ini di mana beranda facebook saya dipenuhi foto-foto Selfie bapak-bapak dan ibu-ibu ini bukan lagi didominasi status-status galau kawan-kawan lama saya terdahulu.
Di sisi lain, kontrol konten facebook masih sangat lemah, maraknya kasus-kasus yang tersebar di media sosial terutama facebook belakangan ini, telah membuat kita semestinya untuk selalu mawas diri dalam bermedia sosial. Banyak kasus-kasus viral, fenomena-fenomena alam palsu, judi online, prostitusi online dan kasus-kasus lain yang masih begitu meresahkan sebagian kalangan. Potensi postingan untuk viral di Facebook sangatlah tinggi. Viral dalam artian mampu menjadi sorotan bagi setiap netizen sebaiknya dibarengi dengan konten-konten yang bermanfaat pula. Dalam hitungan detik, postingan anda bisa langsung tembus ribuan viewers. Bayangkan jika yang kita posting merupakan produk jualan, kata motivasi, informasi-informasi valid, manfaatnya akan langsung tersebar tanpa harus menunggu berhari-hari.
Di dunia Pendidikan, media sosial baik facebook maupun yang lainnya merupakan sarana pembelajaran populer pada masa pandemi kemarin. Banyak kegiatan belajar seperti memposting imbauan pencegahan COVID-19, belajar mandiri, posting tugas dan lain-lain dilakukan di media sosial dikarenakan terbatasnya proses tatap muka antara guru dan siswa. Tak hanya sebagai sarana belajar, media sosial juga telah membuat satu mata pelajaran baru yang wajib diajarkan di sekolah-sekolah yakni pelajaran memilah informasi yang hoaks dan yang fakta. Ini sangat diperlukan agar anak-anak didik generasi bangsa ini tidak mudah terprovokasi pada hal-hal yang belum tentu benar, video yang dipotong, atau translate bahasa lain yang keliru.
Bagi para pelaku UMKM, Facebook sangat dibutuhkan sebagai sarana promosi produk. Memberikan video detail pembuatan produk tersebut agar pelanggan yakin dan percaya atas produk yang kita tawarkan. Facebook telah menawarkan banyak kesempatan seperti grup-grup jual beli untuk memposting barang dagangannya hingga laku, berjualan barang bekas, dan menjadi reseller dari suatu produk.
Dalam bidang pemerintahan, Facebook sebaiknya digunakan sebagai sarana aspirasi bagi warga dalam menyampaikan kendala-kendala di lapangan kepada pejabat pemerintahan. Banyaknya pengguna facebook, seharusnya pula dimanfaatkan oleh suatu instansi pemerintahan terutama dalam lingkup seperti pemerintahan tingkat kabupaten, kecamatan, maupun desa sebagai alat perwujudan transparansi.
Facebook bisa saja menjadi penunjang website dalam mem-posting segala bentuk hasil rapat, kebijakan, informasi yang berhubungan dengan khalayak ramai, agar mudah dan efisien dapat diakses setiap waktu oleh warga. Facebook bisa juga menjadi wadah klarifikasi jika ada suatu kebijakan yang bertentangan dengan kemauan warga namun terbentur oleh regulasi agar warga pun tau di mana letak batasan-batasan yang menjadi kendala atau sekadar ajang promosi potensi lokal daerah, publikasi kegiatan desa, penangkal dan klarifikasi hoaks, Meningkatkan SDM, branding image desa, galeri foto dan video, transparansi pemakaian dana desa, dan sebagai pusat statistik dan layanan informasi bagi penduduk.
Ke depan kita tidak akan tahu seberapa cepat perkembangan teknologi terutama sosial media dalam kehidupan ini. Baik kita sebagai kreator maupun kita sebagai konsumen teknologi itu sendiri. Melihat kebermanfaatan yang lebih luas dari penggunaan facebook, baik untuk psikis maupun fisik, mari bersosial media secara bijak dengan batasan-batasan yang berlaku di Indonesia. Namun sudah saatnya pula bangsa kita mulai memikirkan, untuk tidak hanya menunggu fitur-fitur apa yang akan muncul dari facebook tetapi menjadi bangsa yang memikirkan apa yang harus kita buat hari ini, besok dan seterusnya demi kemajuan manusia.
Maka dari itu, selain menunggu pertanyaan template itu muncul di beranda Facebook untuk mengetahui kegiatan dan perasaanmu hari ini, mari kita mulai hari ini dengan "mengintip" kiat-kiat kesuksesan Facebook dengan pertanyaan "apa yang anda pikirkan, Facebook?"
