Konten dari Pengguna

Ketika Ekonomi Tumbuh, Mengapa kesejangan Masih Terasa?

Kartoni Gea

Kartoni Gea

Mahasiswa Universitas Pamulang

·waktu baca 3 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Kartoni Gea tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

(Created Image by ChatGPT)
zoom-in-whitePerbesar
(Created Image by ChatGPT)

Pertumbuhan ekonomi sering menjadi salah satu ukuran keberhasilan pembangunan. Ketika ekonomi tumbuh, produksi meningkat, aktivitas usaha bergerak, dan kesempatan kerja bertambah. Namun, ada pertanyaan yang tidak kalah penting: apakah pertumbuhan tersebut benar-benar dirasakan secara merata oleh masyarakat?

Pertanyaan ini relevan bagi Indonesia. Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa ekonomi Indonesia terus bertumbuh, sementara pada saat yang sama persoalan pemerataan pendapatan dan kesempatan ekonomi tetap perlu mendapat perhatian.

Indikator terbaru menunjukkan adanya perkembangan positif. Pada September 2025, Gini Ratio Indonesia tercatat 0,363, turun dari 0,375 pada Maret 2025 dan 0,381 pada September 2024. Gini Ratio merupakan indikator yang menggambarkan ketimpangan pengeluaran masyarakat. Artinya, secara statistik, ketimpangan pengeluaran mengalami penurunan. Namun, penurunan Gini Ratio tidak berarti persoalan kesenjangan otomatis selesai.

Pertumbuhan belum tentu berarti pemerataan

Salah satu alasan mengapa kesenjangan masih terasa adalah karena pertumbuhan ekonomi tidak selalu memberikan manfaat dalam proporsi yang sama kepada seluruh kelompok masyarakat. Seseorang yang memiliki modal, keterampilan, akses pendidikan, teknologi, dan jaringan usaha yang lebih besar dapat memiliki peluang memperoleh pendapatan yang berbeda dibandingkan mereka yang akses ekonominya terbatas.

Kondisi pasar kerja memberikan gambaran penting. BPS mencatat bahwa pada Februari 2026 terdapat 147,67 juta penduduk yang bekerja, sementara rata-rata upah buruh mencapai Rp3,29 juta per bulan. Pada periode yang sama, tingkat pengangguran terbuka berada pada 4,68 persen.

Angka tersebut menunjukkan bahwa pasar kerja tetap menjadi bagian penting dalam menentukan bagaimana hasil pertumbuhan ekonomi diterjemahkan menjadi pendapatan rumah tangga. Pertumbuhan ekonomi yang menciptakan lapangan kerja produktif dan meningkatkan pendapatan pekerja akan lebih mudah dirasakan masyarakat dibandingkan pertumbuhan yang manfaatnya terkonsentrasi pada sektor atau kelompok tertentu. Bukan hanya soal siapa yang punya uang lebih banyak

Ketimpangan juga berkaitan dengan kesempatan.

Akses terhadap pendidikan berkualitas, pekerjaan formal, modal usaha, teknologi, infrastruktur, dan layanan publik dapat menentukan kemampuan seseorang untuk meningkatkan pendapatannya. Karena itu, membicarakan ketimpangan tidak cukup hanya dengan melihat angka pendapatan atau Gini Ratio.

BPS bahkan dalam Statistik Pendapatan Februari 2026 menyoroti adanya perbedaan kondisi pendapatan antara pekerja berstatus buruh dengan pekerja bukan buruh, seperti pekerja yang berusaha sendiri dan pekerja bebas. Publikasi tersebut menjelaskan bahwa kelompok pekerja bukan buruh tidak memiliki perlindungan terkait penetapan upah minimum seperti pekerja berstatus buruh.

Ini menunjukkan bahwa tantangan pemerataan tidak hanya berada pada angka pertumbuhan ekonomi, tetapi juga pada kualitas pekerjaan dan kemampuan masyarakat memperoleh pendapatan yang layak dan berkelanjutan.

Pertumbuhan harus diterjemahkan menjadi kesejahteraan

Penurunan Gini Ratio menjadi perkembangan yang patut dicatat. Namun, angka tersebut sebaiknya tidak menjadi alasan untuk mengabaikan persoalan kesenjangan yang masih dihadapi masyarakat.

Pertanyaan yang lebih penting adalah: apa yang menyebabkan ketimpangan menurun, dan apakah perbaikan tersebut dapat dipertahankan?

Kebijakan pemerataan perlu berjalan bersama dengan pertumbuhan ekonomi. Peningkatan kualitas pendidikan dan keterampilan, perluasan kesempatan kerja produktif, penguatan usaha kecil, akses terhadap pembiayaan, serta perlindungan pekerja merupakan beberapa aspek yang dapat menjadi bagian dari upaya memperluas manfaat pembangunan. Dengan demikian, keberhasilan pembangunan seharusnya tidak hanya dilihat dari seberapa tinggi ekonomi tumbuh, tetapi juga dari seberapa luas masyarakat memperoleh kesempatan untuk ikut tumbuh.

Pertumbuhan ekonomi memang penting. Tetapi pertumbuhan yang berkelanjutan membutuhkan pemerataan kesempatan agar manfaat pembangunan tidak berhenti pada angka statistik.

Pada akhirnya, pertanyaan “ketika ekonomi tumbuh, mengapa kesenjangan masih terasa?” bukan berarti meniadakan capaian ekonomi Indonesia. Justru pertanyaan tersebut diperlukan agar pertumbuhan ekonomi tidak berhenti sebagai angka, melainkan benar-benar diterjemahkan menjadi peningkatan kualitas hidup masyarakat secara lebih luas.

Ekonomi yang tumbuh adalah tujuan penting. Namun, ekonomi yang tumbuh sekaligus membuka kesempatan bagi lebih banyak orang untuk meningkatkan kesejahteraannya adalah tantangan yang lebih besar.