Pengangguran di Indonesia: Masalah Ekonomi yang Tak Kunjung Usai

Mahasiswa Universitas Pamulang
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Kartoni Gea tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Memiliki pekerjaan bukan sekadar tentang memperoleh penghasilan. Bagi banyak orang, pekerjaan merupakan jalan untuk memenuhi kebutuhan hidup, membangun masa depan, dan meningkatkan kesejahteraan keluarga. Namun, di Indonesia, kesempatan untuk mendapatkan pekerjaan yang layak masih menjadi tantangan bagi sebagian masyarakat.
Pengangguran bukan sekadar angka dalam laporan statistik. Di balik setiap angka, terdapat individu yang sedang berusaha mendapatkan pekerjaan, lulusan yang menantikan kesempatan, serta keluarga yang berharap pada kehidupan yang lebih baik. Karena itu, persoalan pengangguran perlu dilihat secara lebih luas, bukan hanya sebagai masalah individu, tetapi juga sebagai tantangan dalam pembangunan ekonomi.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) Indonesia pada Mei 2026 mencapai 4,65 persen. Angka tersebut menurun 0,03 persen poin dibandingkan Februari 2026. Pada periode yang sama, jumlah penduduk yang bekerja mencapai 148,19 juta orang.
Penurunan tingkat pengangguran merupakan perkembangan yang perlu diperhatikan. Namun, menurut saya, keberhasilan pembangunan ekonomi tidak cukup diukur dari menurunnya angka pengangguran. Kita juga perlu melihat apakah pekerjaan yang tersedia mampu memberikan penghasilan yang layak, perlindungan kerja, dan kesempatan untuk berkembang.
Pertumbuhan ekonomi seharusnya tidak hanya tercermin dalam meningkatnya aktivitas produksi atau investasi. Pertumbuhan tersebut juga perlu dirasakan oleh masyarakat melalui terbukanya kesempatan kerja yang lebih luas. Apabila perekonomian berkembang, tetapi sebagian masyarakat masih kesulitan memperoleh pekerjaan, manfaat pembangunan belum sepenuhnya dirasakan secara merata.
Salah satu tantangan yang perlu mendapat perhatian adalah kesesuaian antara keterampilan tenaga kerja dan kebutuhan dunia usaha. Perkembangan teknologi dan perubahan industri menuntut pekerja untuk terus belajar dan menyesuaikan diri.
Menurut pandangan saya, pendidikan tidak cukup hanya berorientasi pada pencapaian nilai akademik. Peserta didik juga perlu memperoleh keterampilan praktis, kemampuan berpikir kritis, komunikasi, serta kesiapan menghadapi perubahan dunia kerja.
Sekolah, perguruan tinggi, dan lembaga pelatihan memiliki peran penting dalam mempersiapkan generasi muda. Kerja sama dengan dunia industri melalui program magang, pelatihan, dan pengembangan kompetensi dapat menjadi salah satu upaya untuk memperkecil kesenjangan antara dunia pendidikan dan kebutuhan pekerjaan.
Namun, penting untuk dipahami bahwa pengangguran tidak selalu disebabkan oleh kurangnya keterampilan. Kondisi ekonomi, terbatasnya lapangan kerja, lokasi pekerjaan, dan persaingan tenaga kerja juga dapat memengaruhi kesempatan seseorang untuk bekerja.
Menurut saya, penyelesaian masalah pengangguran memerlukan kerja sama antara pemerintah, dunia pendidikan, dunia usaha, dan masyarakat.
Pemerintah perlu terus mendorong terciptanya lapangan kerja, mendukung perkembangan usaha mikro, kecil, dan menengah, serta memperluas akses pelatihan yang sesuai dengan kebutuhan tenaga kerja. Dunia usaha juga dapat berperan dalam menyediakan kesempatan magang dan membantu meningkatkan kompetensi calon pekerja.
Di sisi lain, generasi muda perlu membangun kemauan untuk terus belajar, mengembangkan keterampilan, dan memanfaatkan berbagai peluang yang tersedia. Meski demikian, tanggung jawab utama tidak boleh dibebankan kepada pencari kerja saja. Kesempatan kerja yang memadai juga membutuhkan kebijakan ekonomi dan pembangunan yang mendukung penyerapan tenaga kerja.
Pengangguran merupakan persoalan ekonomi yang tidak dapat diselesaikan secara instan. Penurunan angka pengangguran memang menunjukkan perkembangan positif, tetapi tantangan untuk menciptakan pekerjaan yang layak dan berkelanjutan masih perlu dihadapi.
Menurut saya, keberhasilan pembangunan ekonomi seharusnya tidak hanya dilihat dari seberapa tinggi pertumbuhan ekonomi, tetapi juga dari seberapa besar masyarakat memperoleh kesempatan untuk bekerja dan meningkatkan taraf hidupnya.
Indonesia memiliki sumber daya manusia yang besar dan potensi ekonomi yang luas. Dengan pendidikan yang relevan, kebijakan yang tepat, serta kerja sama berbagai pihak, potensi tersebut dapat dikembangkan menjadi kekuatan untuk menciptakan lebih banyak kesempatan kerja.
Pada akhirnya, mengatasi pengangguran bukan hanya tentang mengurangi jumlah orang yang belum bekerja. Lebih dari itu, persoalan ini menyangkut upaya membangun masa depan yang lebih baik, di mana setiap orang memiliki kesempatan yang adil untuk bekerja, berkembang, dan mencapai kesejahteraan.
