Menelisik Kekerasan Seksual terhadap Perempuan dalam Film Women from Rote Island

Resolving Legal Barriers through Education and Advocacy
·waktu baca 7 menit
Tulisan dari Kasus Pidana by Legal Market Lanprorate tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Netflix baru saja menayangkan sebuah film yang berhasil menyayat hati dan membuka mata betapa pentingnya kepedulian untuk membuat rumah aman bagi perempuan. Film yang ditulis dan disutradarai langsung oleh Jeremias Nyangoen ini, berhasil membawa warna baru dalam dunia perfilman Indonesia, dan berhasil membawa empat Piala Citra di Festival Film Indonesia (FFI) 2023.
Dalam perjalanannya, film yang diberikan judul dalam bahasa Indonesia yakni Perempuan Berkelamin Darah, bukan hanya akan menyorot tentang bagaimana kekerasan seksual dan pelecehan kerap terjadi bahkan di lingkungan yang akrab bagi perempuan itu sendiri. Namun, juga mengajak semua perempuan menjadi berani untuk dirinya sendiri. Berani dalam arti, berani untuk speak up, berani untuk berteriak, serta berani untuk bertindak dalam menolak segala macam kejahatan yang dapat terjadi pada dirinya.
Sinopsis Film
Women from Rote Island, mengisahkan perjuangan seorang ibu tunggal, bernama Orpa, dan anak perempuannya, Martha, dalam menghadapi kekerasan dan diskriminasi di tanah adat mereka di Rote, Nusa Tenggara Timur.
Orpa harus menelan pil pahit ketika ditinggalkan oleh suaminya, yang meninggal dunia. Tak lama setelah itu, ia juga dihadapkan pada kenyataan pahit lainnya: Martha, anak sulungnya, pulang dari Malaysia setelah menjadi Tenaga Kerja Indonesia (TKI) dalam kondisi trauma berat.
Martha hidup dalam bayang-bayang ketakutan akibat kekerasan seksual yang dialaminya selama di negeri orang. Trauma itu begitu mendalam hingga ia menjadi sangat takut terhadap laki-laki berpostur tinggi dan besar. Setiap kali berhadapan dengan sosok seperti itu, ia akan berteriak histeris dan menyebut-nyebut nama “Datuk,” nama yang diyakini sebagai pelaku kekerasan terhadapnya.
Akibat perilaku aneh Martha, ia akhirnya dipasung di rumahnya. Dalam keadaan dipasung, seseorang memperkosa Martha secara diam-diam berulang kali dan menyebabkan Martha akhirnya hamil.
Profil Tokoh Utama
Orpa, ia dikenal sebagai figur seorang ibu tunggal yang tegar dalam membesarkan ketiga anak perempuannya di tengah realitas sosial masyarakat yang masih sangat erat dengan budaya patriarki, diskriminasi gender, stigma negatif tentang single parent, dan isu pelecehan seksual. Selayaknya seorang ibu, Orpa memiliki motivasi yang sangat naluri keibuan yakni melindungi dan menyembuhkan Martha dari trauma yang ia alami selama ini.
Kemudian, ia juga ingin melawan ketidakadilan sosial akibat diskriminasi gender yang seolah meletakkan perempuan pada posisi yang lemah. Serta sebagai perempuan Rote, ia sadar dalam dirinya terdapat identitas budaya, tetapi dibalik itu ia juga paham betul bahwa budaya tak selalu adil bagi mereka para perempuan. Oleh karena itu, ia ingin membuka mata masyarakat bahwa perempuan adat pun berhak bicara, menentukan sikap, dan mendapatkan keadilan selayaknya manusia.
Martha, merupakan anak sulung dari Orpa. Sejak kecil, Martha dikenal sebagai gadis pendiam, rajin, dan penyayang adik-adiknya. Namun, karena tekanan ekonomi dan impian untuk mengangkat derajat keluarga, Martha memutuskan menjadi Tenaga Kerja Indonesia (TKI) ilegal di Malaysia.
Di negeri orang, Martha bekerja sebagai salah satu karyawan di Perkebunan Sawit Malaysia. Namun, yang ia temui bukanlah harapan, melainkan kekerasan. Ia menjadi korban kekerasan seksual oleh majikannya yang ia panggil “Datuk”. Kekerasan itu terjadi berulang-ulang, menyebabkan trauma mendalam yang mengubah hidupnya selamanya.
Setelah berhasil pulang ke Indonesia, Martha kembali ke kampung halamannya dalam kondisi luka batin, diam, dan penuh ketakutan. Perilakunya aneh dan kerap berteriak histeris saat melihat laki-laki bertubuh besar, dan nama “Datuk” kerap meluncur dari mulutnya saat diserang ingatan traumatik.
Sebagai seorang anak, hal yang Martha inginkan adalah tidak ingin lagi melihat ibunya menderita, namun dibalik itu juga sebagai korban yang ingin pulih dan menemukan kembali jati dirinya sebagai seorang perempuan.
Jenis Kejahatan
Sebagaimana telah dijelaskan dalam sinopsis, Women from Rote Island menyoroti berbagai bentuk kejahatan sosial yang terjadi di lingkup komunitas masyarakat. Namun, isu utama yang menjadi sorotan dan garis besar narasi adalah berkaitan dengan pelecehan dan kekerasan seksual terhadap perempuan.
Permasalahan ini tergambar secara kuat melalui sejumlah adegan yang merefleksikan pengalaman traumatis tokoh utama, Martha, dan Orpa. Yang mana, Martha sebagai korban kekerasan seksual selama menjadi TKI di Malaysia. Sedangkan, Orpa di awal film mengalami tindakan pelecehan yang dilakukan oleh anak-anak usia remaja saat ia sedang berbelanja di pasar.
Sehingga, dapat disimpulkan bahwa film ini tidak hanya berhenti pada pengalaman kekerasan yang terjadi di luar tempat tinggal. Dalam alur yang lebih dalam, terungkap bahwa baik Martha maupun ibunya, Orpa, pernah mengalami bentuk kekerasan serupa dari orang-orang di lingkungan sekitar tempat tinggal mereka sendiri.
Hal ini memperkuat pesan bahwa kekerasan seksual bukan hanya persoalan “di luar sana”, melainkan juga masalah struktural dan kultural yang mengakar dalam kehidupan sehari-hari perempuan di wilayah adat. Film ini secara eksplisit menunjukkan bagaimana tubuh perempuan sering kali menjadi objek kekuasaan, baik di ranah publik maupun domestik, tanpa perlindungan yang memadai dari sistem sosial maupun budaya.
Bagaimana Film Menampilkan Kriminalitas
Dalam film Women from Rote Island, kriminalitas tidak disajikan secara gamblang atau eksplisit. Sebaliknya, film ini membuka ruang berpikir yang luas, memungkinkan penonton untuk menilai dan merasakan sendiri bagaimana bentuk-bentuk kejahatan berkembang secara halus dan senyap di sekitar para tokoh.
Kriminal dalam film ini tidak selalu hadir sebagai sosok yang asing atau mencolok, melainkan muncul dari struktur sosial dan lingkaran orang-orang terdekat mereka yang semestinya menjadi pelindung, justru menjelma menjadi ancaman. Sosok yang dipercayai, dihormati, bahkan dijadikan panutan, perlahan terbaca sebagai figur yang menakutkan dan menindas.
Melalui pendekatan ini, Women from Rote Island ingin memperlihatkan bahwa suatu kejahatan terhadap perempuan sering kali tidak datang dari luar, melainkan tumbuh dalam diam, ditutupi oleh relasi kuasa, dan dinormalisasi oleh budaya serta adat yang tak berpihak. Inilah yang membuat narasi kriminal dalam film ini terasa begitu nyata karena ia lahir dari keseharian masyarakat yang tampaknya normal, namun sebenarnya menyimpan kekerasan.
Analisis
Di dalam film ini, Woman from Rote Island secara eksplisit berani menghadirkan realitas sosial berkaitan dengan pelecehan dan kekerasan perempuan secara nyata tanpa berusaha menyamarkannya yang membuat film terasa ambigu. Film ini memperlihatkan bahwa kekerasan terhadap perempuan bukan hanya terjadi secara fisik, tetapi juga berlangsung melalui respons sosial yang menyudutkan korban dan menormalisasi pelaku.
Sebagaimana di dalam beberapa scene, Orpa yang mengalami pelecehan oleh seorang anak laki-laki di pasar. Alih-alih diberikan perlindungan, beberapa orang dengan sadar menyalahkan Orpa yang keluar rumah. Kemudian, hal serupa dialami pula oleh putri sulungnya Martha yang mengalami trauma berat setelah menjadi korban kekerasan seksual saat bekerja sebagai TKI di Malaysia. Bukannya mendapat perlindungan atau empati dari lingkungan setempat, Martha justru menjadi bahan gunjingan masyarakat setempat. Yang lebih tragis, setelah pulang ke kampung halamannya pun, Martha kembali mengalami kekerasan seksual hingga menyebabkan kehamilan. Ini menggambarkan bahwa tempat yang semestinya menjadi ruang aman, justru memperpanjang penderitaan korban.
Apresiasi
Dari segi karakterisasi, film Women from Rote Island berhasil menghadirkan dinamika yang kuat dan beragam dari setiap tokohnya. Masing-masing karakter memiliki kedalaman emosi dan latar belakang yang membuat cerita terus hidup, menciptakan hawa baru di setiap detik film berjalan. Hal ini membuat penonton tetap terikat secara emosional, tanpa merasa jenuh, meskipun film ini mengangkat tema yang berat dan sensitif.
Keberhasilan narasi ini juga diperkuat dengan pilihan latar visual yang sangat tepat. Footage pemandangan Pulau Rote, Nusa Tenggara Timur, dihadirkan tidak sekadar sebagai latar, tetapi menjadi elemen penting yang memperkaya pengalaman menonton. Keindahan alam Rote dan pantainya, bukit-bukit kering yang eksotik, serta warna langit yang dramatis memberikan kontras yang menarik terhadap tema kekerasan dan luka yang dibahas.
Tak hanya itu, film ini juga memperkenalkan penonton pada upacara adat, nilai-nilai budaya lokal, serta kehidupan komunitas adat, yang semuanya digambarkan secara otentik. Elemen-elemen ini membuat film terasa lebih membumi, sekaligus memperluas wawasan penonton tentang keberagaman budaya Indonesia.
Kesimpulan
Dari setiap butir pembahasan ini, apakah dapat menyimpulkan bahwa film Women from Rote Island sangat layak untuk ditonton? Tentu saja sangat layak untuk ditonton, terutama bagi mereka yang ingin memahami lebih dalam tentang realitas kekerasan terhadap perempuan dalam konteks sosial-budaya di Indonesia, khususnya bagaimana realitas sosial yang hidup berdampingan dengan adat.
Hanya saja selama Anda ingin menonton film ini, penting untuk dicatat bahwa Women from Rote Island tidaklah ditujukan bagi semua kalangan. Hal ini dikarenakan, dengan menyajikan tema yang berat dan sensitif, serta sejumlah adegan yang menampilkan kekerasan seksual, trauma psikologis, ketelanjangan, dan situasi emosional yang intens, film ini berpotensi memunculkan triggered response, terutama bagi penonton yang merupakan penyintas kekerasan dan pelecehan seksual.
Selain itu, beberapa adegan dewasa yang ditampilkan dalam film menuntut kedewasaan emosional dan pemahaman kritis dari penonton. Oleh karena itu, disarankan agar film ini dapat ditonton oleh penonton mulai dari usia 20 tahun ke atas, atau paling tidak dengan klasifikasi usia dewasa (21+), demi menjaga kenyamanan dan keamanan psikologis selama menonton.
--------------
Ditulis oleh:
Dwi Najwa Aulia Putri
Content Writer Kasus Pidana by Legal Market Lanprorate
Penyunting:
Angelene Vivian Gunawan
Content Manager Kasus Pidana by Legal Market Lanprorate
