Konten dari Pengguna

Review Novel Dua Dini Hari: Kasus Pembunuhan Berantai Anak Jalanan

Kasus Pidana by Legal Market Lanprorate

Kasus Pidana by Legal Market Lanprorate

Resolving Legal Barriers through Education and Advocacy

·waktu baca 6 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Kasus Pidana by Legal Market Lanprorate tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Foto karya Katrina_S dari pixabay
zoom-in-whitePerbesar
Foto karya Katrina_S dari pixabay

Apa yang akan kalian lakukan ketika membuka mata di pagi hari menemukan tubuh kaku anak kecil yang digantung terlilit kabel di tiang listrik? Itulah yang dirasakan oleh masyarakat di salah satu sudut Kota Jakarta. Novel ‘Dua Dini Hari’ dari Chandra Bientang mencoba untuk mengajak pembaca menelusuri kejahatan pembantaian anak-anak jalanan yang penuh dengan intrik serta plot twist tak terduga di dalamnya.

Di awal cerita, pembaca diajak oleh penulis merasakan ketegangan dari korban pembunuhan yang merupakan salah satu anak jalanan, ia diburu di dini hari ketika semua orang sedang menikmati empuknya bantal dan hangatnya selimut yang membungkus tubuh mereka. Kesepian yang mencekam ditambah dengan perasaan was-was dari calon korban yang diburu dan diikuti oleh pembunuh menambah adrenalin dari pembaca. Ketika akhirnya anak jalanan tersebut tewas dan tidak ada lagi yang tersisa daripadanya termasuk nama.

Sebelum penemuan mayat tersebut, tiga mayat anak jalanan juga ditemukan tewas tergantung di pinggir flyover kawasan Jatinegara. Mirisnya, tragedi pembantaian anak-anak jalanan tersebut tidak menjadi perhatian khusus bagi para pihak tak terkecuali masyarakat setempat. Adanya persepsi bahwa korban pembantaian adalah gelandangan yang dianggap mengganggu dan harus disingkirkan serta tindakan penegak hukum yang cenderung lamban membuat kasus ini bak asap yang hanya datang sekejap mata.

Novel urban-thriller ini tidak hanya menyajikan satu tragedi pembunuhan berantai biasa tetapi di dalamnya pembaca akan diajak berteori dan menganalisa setiap petunjuk yang ditemukan oleh tokoh-tokoh di cerita tersebut. Setiap tokoh memiliki latar belakang yang akan membawa kalian ke dalam benang merah cerita pembantaian anak jalanan tersebut. Cerita ini memiliki alur yang kompleks dengan menggabungkan masalah sosial, tindak kejahatan dan penegakan hukum yang akan membuat kalian mempertanyakan alasan dari setiap langkah yang diambil oleh para tokoh.

Alur Cerita Novel

Kasus pembunuhan anak jalanan ini diceritakan tidak memiliki perkembangan yang signifikan dalam penyelidikan yang dilakukan oleh kepolisian daerah setempat. Suatu hari salah satu tokoh utama di cerita ini, Elang yang merupakan anak dari salah satu petinggi kepolisian daerah itu dan sedang dalam pendidikan Akademi Polisi diceritakan tertarik untuk menyelidiki tragedi pembunuhan anak-anak jalanan itu. Ia kemudian memulai penyelidikannya sendiri dan memutuskan untuk mengungkap misteri di balik peristiwa pembunuhan anak jalanan tersebut.

Ditengah penyelidikannya, Elang kemudian bertemu dengan tokoh lain yaitu Kanti, seorang freelancer di bidang kreatif sebagai penyedia jasa desain. Ia sejatinya merupakan seorang mahasiswi yang kemudian memutuskan untuk cuti dari pendidikannya karena keterbatasan biaya. Kanti diceritakan tinggal di sebuah kos-kosan sederhana, ia merupakan pribadi yang tertutup, depresif dan memiliki gangguan pada mentalnya.

Untuk memulai penyelidikannya, Elang menemui salah satu sahabat kecilnya bernama Rudi yang bekerja sebagai penjaga kasir di supermarket. Pertemuan tersebut memberikan sedikit petunjuk tentang Kanti kepada Elang. Pada akhirnya, Elang bertemu dengan Kanti di salah satu kafe milik kawan Elang lainnya. Keduanya menjadi saling terkait ketika mereka bertemu di kantor kepolisian pada saat Kanti sedang melaporkan mengenai dirinya yang merasa sedang dikuntit bahkan dikirimi bangkai ayam hitam.

Cerita kemudian semakin menarik ketika Rudi, sahabat kecilnya tersebut tewas dan membuat Elang semakin curiga dengan misteri di balik pembantaian anak-anak jalanan. Di sisi lain, Kanti yang merasa janggal dengan bangunan terbengkalai di depan kosnya kemudian di satu malam dengan rasa penasarannya memutuskan untuk melihat apa yang terjadi di balik tempat tersebut. Hingga akhirnya, Kanti menjadi saksi pembantaian anak jalanan yang dilakukan oleh ‘orang misterius’ di bangunan tersebut.

Kecurigaan Elang terhadap kematian Rudi dan juga kejadian yang dialami Kanti membuat mereka menjadi partner dan berusaha untuk mengungkap tabir misteri di balik tragedi yang sedang terjadi. Di tengah proses penyelidikan beberapa kejadian misterius menimpa mereka khususnya Elang. Tidak hanya itu, satu per satu latar belakang tokoh-tokoh lain juga terungkap dan menjadi bagian dari alur pembantaian anak-anak jalanan tersebut.

Kejahatan Pembantaian Anak Jalanan dalam Novel

Seperti yang sudah diceritakan di awal artikel, novel ini menceritakan tentang pembantaian sadis terhadap anak-anak jalanan yang bertempat di salah satu wilayah Kota Jakarta. Tidak hanya menggambarkan ngerinya pembunuhan yang dilakukan oleh orang-orang misterius, digantungnya mayat anak-anak jalanan menambah tragisnya peristiwa itu. Para korban yang tanpa nama, status, bahkan beberapa diantara mereka tidak diketahui siapa keluarga atau bahkan sanak saudaranya.

Tragedi pembunuhan anak-anak jalanan ini digambarkan sebagai salah satu resultan masalah sosial di dalam masyarakat yaitu kemiskinan yang memunculkan pandangan bahwa korban tersebut atau yang sering disebut sebagai gelandangan adalah hama yang memang harus dimusnahkan. Cerita ini menampilkan bagaimana masyarakat memiliki persepsi dingin terhadap pembantaian yang terjadi terhadap korban yang merupakan anak jalanan, sikap mereka yang cenderung tidak peduli ini menampilkan adanya jurang status sosial di antara mereka. Seperti ungkapan dari Thomas Hobbes, Homo Homini Lupus, manusia adalah serigala bagi manusia lain merupakan penggambaran yang sesuai dengan apa yang terjadi di balik pembantaian ini.

Review Novel

Novel ‘Dua Dini Hari’ penuh dengan kritik sosial terhadap apa yang sedang terjadi di masyarakat saat ini khususnya berkaitan dengan persepsi dari dua kelompok sosial yang berbeda. Novel ini sukses menggambarkan perasaan antipati dari kelompok sosial tertentu, memandang bahwa apa yang menurut mereka mengganggu memang sepatutnya untuk musnah atau mati. Tidak ada perasaan bersalah atau bahkan mencoba untuk menggali pokok permasalahan serta mencari pemecahan solusi yang tepat.

Tidak hanya itu, cerita ini juga menggambarkan bagaimana buruknya decision making oleh elit pejabat dalam pemecahan masalah sosial. Pengambilan keputusan dengan logika keliru membuat menghasilkan suatu lingkaran setan yang tak berujung dan tidak pernah putus. Selain itu, novel tersebut juga menggambarkan bagaimana bobroknya sistem hukum kita sesuai dengan realita yang sedang kita hadapi.

Polisi yang seharusnya memberikan perlindungan dan rasa aman bagi masyarakat justru dengan kewenangannya dapat membelokkan kejadian atau tindak kejahatan yang terjadi sesuai ‘pesanan’. Lebih parahnya konspirasi yang dilakukan bahkan melibatkan elit atau polisi dengan jabatan yang mentereng. Akhirnya, dengan segala kekuasan yang dimiliki polisi dapat menggerakkan orang dan membuat skenario sesuai dengan apa yang ‘dipesan’, tidak ada kata aman ketika kalian memutuskan untuk memberontak dengan kondisi yang ada.

Epiknya, Chandra Bientang tidak hanya menyajikan bagaimana kondisi penegakan hukum yang relate dengan keadaan saat ini tetapi juga membalutnya dengan adanya konflik kepentingan dua kelompok sosial. Persepsi sosial yang terbentuk karena adanya jurang ketimpangan sosial yang mengikis hati naluri manusia. Memecahkan masalah kemiskinan struktural dengan menjadi harimau bagi manusia lain.

Pantas jika novel karya Chandra Bientang ini menjadi salah satu buku bacaan populer di kalangan penyuka buku khususnya novel dengan genre thriller-mystery. Setiap scene memberikan petunjuk tidak hanya bagi para tokoh untuk berpikir tetapi pembaca juga terasa diajak untuk berteori dan memecahkan masalah. Penulis juga sukses menggambarkan suasana dan setiap sudut pandang dari para tokoh yang mana membuat adrenalin pembaca berpacu.

Kemudian, apakah novel ini layak untuk dibaca? Sangat layak, novel ini tidak memiliki begitu banyak halaman untuk dibaca, namun alur yang cepat dengan detail yang mengesankan akan membuat pembaca betah untuk duduk dan menikmati secangkir susu dengan buku di kedua tangan.

Jika kalian sudah pernah membaca novel ‘Dua Dini Hari’ karya Chandra Bientang, gimana menurut kamu? Apakah setuju dengan penggambaran penegakan hukum di cerita ini?

---------------------------

Ditulis oleh:

Anggi Alawiyah

Content Writer Kasus Pidana By Legal Market Lanprorate