Konten dari Pengguna

Pendidikan yang Tak Lepas dari Kemajuan Teknologi: Pedang Bermata Dua?

Gilang Praba Adiguna
Siswa Sekolah SMA Citra Berkat Tangerang
14 Agustus 2025 9:51 WIB
·
waktu baca 4 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Kiriman Pengguna
Pendidikan yang Tak Lepas dari Kemajuan Teknologi: Pedang Bermata Dua?
Artikel berbentuk esai yang dapat membantu menjawab dan memberi pandangan mengenai bagaimana "Ketergantungan Pendidikan Terhadap Kemajuan Teknologi".
Gilang Praba Adiguna
Tulisan dari Gilang Praba Adiguna tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Sumber Foto: Ilustrasi Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Sumber Foto: Ilustrasi Shutterstock
ADVERTISEMENT
Transformasi dari pendidikan tradisional menuju pendidikan modern berbasis digital atau E-Learning dapat disadari oleh sebagian besar peserta didik dan lingkungan masyarakat yang terdampak. Perubahan ini diawali dan didukung oleh timbulnya pandemi COVID-19 yang secara langsung menghambat sistem pembelajaran tatap muka, serta menghentikan sejenak segala aktivitas kontak langsung secara global.
ADVERTISEMENT
Berdasarkan data resmi dari situs web “Transformasi Digital” oleh Kementerian Komunikasi dan Digital, penggunaan jumlah mobile connection meningkat sebesar 3.6% sejak terjadi pandemi COVID-19, sehingga bisa disimpulkan bahwa hal ini juga menjadi faktor yang memaksa sistem pendidikan untuk beralih menjadi berbasis digital.
Perubahan yang terjadi secara serentak membentuk model mengajar baru dalam sistem pendidikan secara menyeluruh yang mempengaruhi pola interaksi antara para peserta didik dan pembimbing, sehingga diperlukan adaptasi oleh para pihak penyedia layanan pendidikan, seperti pembelajaran secara daring atau Distance Learning. Namun, perubahan ke sistem daring secara tiba-tiba pada masa tersebut membuat para wali dan orang tua “terpaksa” untuk mempersiapkan media digital sesuai kebutuhan para anaknya untuk melanjutkan kegiatan pembelajaran.
ADVERTISEMENT
Kesiapan dunia pendidikan untuk beradaptasi terhadap kemajuan teknologi juga sangat diperlukan. Kemajuan teknologi menyebabkan perubahan pesat terhadap cara manusia dapat berkomunikasi, terutama pada bidang pendidikan yaitu berbasis digital. Pandemi COVID-19 telah mengubah sebagian besar cara belajar mengajar seperti bertemu melalui aplikasi pertemuan online, yaitu Google Meet dan Zoom, tetapi hal ini hanya dilakukan sebagai solusi sementara agar para murid dan guru tetap terhubung walaupun secara tidak langsung.
Hingga sekarang, terdapat beberapa program pendidikan yang masih terbawa bahkan setelah pandemi usai, yaitu penggunaan platform e-learning seperti Google Classroom dan video edukatif yang mewajibkan para murid untuk mampu menggunakan media digital. Perubahan ini berdampak terhadap penggunaan teknologi yang semakin meningkat, tetapi perlu diketahui bahwa untuk mengakses pendidikan digital juga harus disertai fasilitas yang mencukupi dari murid itu sendiri.
Siswa mengerjakan tugas sekolah di rumahnya di Pekanbaru, Riau, Kamis (16/4/2020). Foto: ANTARA FOTO/Rony Muharrman
Kesenjangan akses media pembelajaran digital menyebabkan ketimpangan terhadap sistem belajar mengajar. Di berbagai wilayah negara Indonesia, masih terdapat kesenjangan dalam fasilitasi akses internet antara warga pedesaan dan penduduk kota yang menjadi hambatan terhadap pelaksanaan transformasi digital dalam belajar mengajar.
ADVERTISEMENT
Dampak dari kesenjangan sistem belajar-mengajar modern juga diperburuk oleh rendahnya kemampuan literasi digital oleh para peserta didik wilayah pedesaan khususnya murid yang berada di sekolah terpelosok atau wilayah 3T (Tertinggal, Terdepan, dan Terluas). Mata pencaharian para wali atau orang tua, terutama di wilayah pedesaan dengan mayoritas pekerjaan di bidang pertanian maupun peternakan juga belum tentu dapat mencukupi kebutuhan anaknya untuk mengikuti kegiatan pembelajaran digital.
Kehadiran dari "blank spot" internet juga mempengaruhi sebagian besar kehidupan murid pada bagian wilayah sekolah 3T, hal ini terbukti mengganggu aktivitas pembelajaran siswa yang terhambat oleh keterbatasan internet terutama untuk mengakses aplikasi pesan instan dan media peramban atau penjelajah.
Kesiapan pemerintah terhadap penyediaan infrastruktur digital juga diperlukan untuk melaksanakan pendidikan berbasis digital. Penyediaan infrastruktur digital yang baik oleh pemerintah merupakan kunci utama kesuksesan pendidikan berbasis digital, terutama penyebaran internet secara merata yang dibutuhkan para peserta didik untuk mengakses media belajar digital. Hal ini menegaskan bahwa kemajuan pendidikan berbasis digital bergantung pada peran aktif pemerintah dalam menyediakan infrastruktur pendukungnya.
ADVERTISEMENT
Berdasarkan data dari Kementerian Komunikasi dan Digital, di beberapa provinsi di Indonesia, kecepatan unduh mobile broadband telah lebih dari 25 Mbps, tetapi ini hanya terdapat di beberapa bagian negara Indonesia dan belum mencakup keseluruhan wilayah yang tertinggal. Namun, melalui data ini juga dapat diketahui bahwa pihak pemerintah juga telah melakukan upaya nyata untuk memperluas akses internet ke wilayah pedesaan.
Keterlibatan peserta didik sebagai pengguna yang bertanggung jawab terhadap perkembangan sistem digital juga dibutuhkan untuk menghadapi risiko kemajuan teknologi. Meskipun pembelajaran digital dapat memberikan berbagai macam manfaat dan kemudahan baik bagi para murid maupun pengajar, kemajuan teknologi yang dapat dikatakan “terlalu maju” juga membawa tantangan baru, terutama bagi para guru dalam menilai kompetensi para murid yang didiknya.
Ilustrasi dihasilkan oleh AI melalui ChatGPT - Open AI, atas permintaan penulis.
Timbulnya kecerdasan buatan atau yang sering dikenal sebagai AI (Artificial Intelligence), yang awalnya terlihat sebagai fitur menjanjikan untuk membantu masalah sehari-hari manusia dapat berefek sebaliknya, terutama di dunia pendidikan. Penyalahgunaan kecerdasan buatan atau AI oleh para murid menjadi masalah besar yang dapat membatasi kreativitas dan daya berpikir kritis para peserta didik dalam menjawab pertanyaan, tren ini juga menimbulkan pertanyaan mengenai “kemurnian” dari hasil belajar murid.
ADVERTISEMENT
Selain itu, penggunaan kecerdasan buatan yang terlalu sering juga menjadi sarana penumbuh sikap negatif murid terutama pada aspek kejujuran, penggunaan fitur AI juga dapat dikategorikan sebagai kegiatan menyontek yang secara umum dilarang untuk dilakukan.
Melalui pembahasan ini, bisa disimpulkan bahwa kemajuan teknologi menciptakan banyak perubahan, baik bagi dunia pendidikan dan aktivitas sehari-hari. Adanya kemungkinan untuk timbul tantangan dan ancaman yang lebih besar di masa yang akan datang juga perlu disadari. Begitu pula dengan kehadiran kecerdasan buatan yang kepastiannya masih dipertanyakan hingga sekarang. Namun, kembali lagi bahwa semua dampak yang diakibatkan dari kemajuan teknologi dapat ditangani dengan penguasaan pemahaman yang cukup. Sudah sepatutnya bagi penduduk Indonesia untuk menyadari perkembangan teknologi, serta memanfaatkan hal tersebut dengan bijak dan bertanggung jawab.
ADVERTISEMENT