Antihistamin: Manfaat, Dosis, Aturan Pakai, dan Efek Samping
ยทwaktu baca 5 menit

Antihistamin obat apa? Antihistamin atau antagonis histamin adalah golongan obat yang digunakan untuk mengobati gejala akibat reaksi alergi, seperti rhinitis alergi, urtikaria, dermatitis, dan konjungtivis. Obat ini juga dapat digunakan untuk meredakan mual atau muntah.
Antihistamin bukanlah nama obat tertentu, melainkan golongan obat untuk mengatasi alergi. Contoh obat golongan ini adalah Chlorpheniramine Maleate, Difenhidramin, dan Doxylamin. Dari berbagai contoh obat antihistamin, yang paling banyak digunakan adalah Chlorpheniramine Maleate atau disingkat CTM.
Table Embed
Menampilkan 10 data dari 8 data
Chlorpheniramine Maleate 4 mg (Obat Antihistamin) | |
|---|---|
Harga | Rp2.000 - Rp5.000 per strip (10 tablet) |
Indikasi dan Manfaat | Mengobati gejala akibat reaksi alergi, batuk, pilek, flu biasa, dan demam. |
Komposisi | Chlorpheniramine Maleate 4 mg (Obat Antihistamin) |
Dosis dan Aturan Pakai | Dewasa: dosis 4 mg diminum setiap 4-6 jam sekali. Dosis maksimal 24 mg per hari. |
Efek Samping | Mengantuk, sakit kepala, dan mulut kering. |
Cara Penyimpanan | Simpan pada tempat sejuk dan kering, serta terlindung dari cahaya matahari langsung. |
Peringatan | Tidak boleh digunakan untuk ibu hamil dan menyusui, memiliki gangguan ginjal dan hati, serta pasien yang hipersensitif terhadap kandungan obat. |
Golongan Obat | Obat Keras |
Pengertian Antihistamin
Antihistamin dikenal juga sebagai obat antialergi, yaitu golongan obat yang digunakan untuk mengobati reaksi alergi oleh berbagai alergen. Menurut jurnal Antihistamines and Allergy oleh Katrina L. Randall (2018), antihistamin bekerja dengan cara menetralkan histamin. Histamin merupakan bahan kimia yang diproduksi oleh sel-sel darah putih ketika tubuh mengalami reaksi alergi atau infeksi.
Terdapat beberapa jenis obat antihistamin yang dikelompokkan berdasarkan sasaran kerjanya terhadap reseptor histamin, yaitu:
1. Antagonis Reseptor Histamin H1 (Antihistamin-H1)
Antihistamin-H1 digunakan untuk pengobatan gejala-gejala akibat reaksi alergi. Contoh obatnya adalah Chlorpheniramine (CTM), Difenhidramin, Meclizine, Quetiapine, dan Prometazin.
2. Antagonis Reseptor Histamin H2 (Antihistamin-H2)
Antihistamin-H2 digunakan untuk mengurangi sekresi asam lambung, serta dapat pula dimanfaatkan untuk menangani ulkus peptik dan penyakit refluks gastroesofagus. Contoh obatnya adalah Simetidin, Famotidin, Ranitidin, Nizatidin, Roxatidin, dan Lafutidin.
Sediaan obat antihistamin ada yang berupa obat minum, obat semprot atau obat tetes, krim, hingga dalam bentuk suntikan. Sebagian besar obat ini termasuk ke dalam golongan obat keras, sehingga penggunaannya harus sesuai dengan anjuran dokter.
Kandungan dan Kegunaan Antihistamin
Antihistamin merupakan obat yang digunakan untuk mengatasi reaksi alergi. Obat ini bekerja dengan cara melawan bagian utama dari penyebab alergi, yaitu zat histamin. Histamin adalah zat yang dapat menimbulkan reaksi alergi bila tubuh dimasuki oleh partikel-partikel alergen.
Pada saat tubuh mengalami kontak dengan alergen, zat histamin akan menyebar ke seluruh tubuh dan menimbulkan reaksi alergi, seperti gatal-gatal, ruam kulit, dan berbagai reaksi lainnya. Untuk itulah, dibutuhkan obat jenis antihistamin untuk mencegah zat histamin semakin menyebar di dalam tubuh.
Antihistamin bekerja dengan cara memblokir zat histamin agar penyebaran tidak menjadi lebih luas. Golongan obat ini bekerja dengan sangat cepat. Biasanya, efeknya dapat terlihat setelah beberapa saat mengonsumsinya.
Menurut National Health Service (NHS), obat antihistamin digunakan untuk meredakan gejala alergi, seperti demam, gatal-gatal, konjungtivitis, dan reaksi terhadap gigitan atau sengatan serangga. Selain itu, obat ini juga digunakan untuk mengatasi sejumlah kondisi alergi akut, seperti:
Rhinitis alergi, yaitu peradangan yang terjadi di lapisan rongga hidung akibat reaksi alergi.
Urtikaria atau biduran, yaitu kondisi peradangan yang menyebabkan timbulnya ruam kemerahan dan benjolan di kulit.
Dermatitis atopik, yaitu peradangan kulit yang ditandai dengan kulit kering, gatal-gatal, dan ruam kemerahan.
Edema, yaitu pembengkakan yang mirip urtikaria yang terjadi pada area kulit di sekitar mata, pipi, atau bibir.
Anjuran Dosis Antihistamin
Sebagian obat jenis antihistamin ada yang dijual bebas di apotek dan sebagian lagi harus ditebus dengan resep dokter. Namun, penggunaan obat antihistamin sebaiknya sesuai dengan anjuran dokter dan kondisi pasien.
Dokter umumnya meresepkan obat antihistamin tergantung pada kondisi alergi yang dialami pasien. Berikut anjuran dosis dan aturan pakai obat antihistamin secara umum, sesuai dengan jenis obatnya.
Anjuran Dosis Chlorpheniramine (CTM)
Chlorpheniramine digunakan untuk meredakan gejala alergi, seperti hidung tersumbat, pilek, bersin-bersin, mata berair, batuk, serta gatal pada kulit, hidung, mata, dan tenggorokan.
Dewasa: dosis 4 mg diminum setiap 4-6 jam sekali. Dosis maksimal adalah 24 mg per hari.
Anjuran Dosis Difenhidramin
Difenhidramin digunakan untuk mengobati gejala alergi dan batuk pilek.
Dewasa: dosis 25-50 mg diminum setiap 4-6 jam sekali. Dosis maksimal adalah 300 mg per hari.
Anjuran Dosis Fexofenadine
Fexofenadine digunakan untuk meredakan gejala pada rhinitis alergi dan biduran kronis.
Dewasa: dosis 60 mg diminum 2 kali sehari. Dosis maksimal adalah 120 mg per hari.
Jika ingin mengonsumsi obat golongan antihistamin, pastikan sudah mengikuti anjuran dosis dengan benar. Sebab, penyalahgunaan obat ini dapat mengakibatkan komplikasi, seperti anafilaksis (syok akibat reaksi alergi yang berat) dan pembengkakan wajah.
Kontraindikasi Antihistamin
Sebelum mengonsumsi obat golongan antihistamin, konsultasikan dengan dokter tentang obat-obatan yang sedang dikonsumsi dan riwayat penyakit yang dimiliki agar tidak terjadi kontraindikasi.
Pada dasarnya, jangan mengonsumsi obat ini apabila memiliki hipersensitif terhadap kandungan obat. Konsultasikan kepada dokter apabila memiliki kondisi berikut:
Pasien yang memiliki penyakit tukak lambung.
Pasien yang menderita asma, emfisema, bronkitis kronis, hipertensi, penyakit jantung, dan penyakit liver.
Pasien yang menderita gangguan ginjal dan fungsi hati.
Pasien yang memiliki infeksi paru-paru dan gangguan sistem imun.
Ibu hamil dan menyusui.
Efek Samping Antihistamin
Obat-obatan yang termasuk antihistamin umumnya memiliki sejumlah efek samping. Dikutip dari Medical Surgical Nursing: Hematological and Immunological Disorders oleh Joyce M. Black (2021), beberapa efek samping umum yang dapat muncul setelah mengonsumsi obat antihistamin, di antaranya:
Mengantuk
Gelisah
Sakit kepala
Mulut atau tenggorokan kering
Gangguan pencernaan, mual, mulas, atau perut kembung
Pemakaian obat jenis antihistamin dapat memiliki efek samping yang berbeda-beda bagi setiap orang. Selain itu, obat ini juga dapat memicu efek samping yang lebih serius, seperti demam, menggigil, nyeri telinga, atau muncul batuk yang menjadi lebih parah.
Jika mengalami efek samping yang tidak kunjung membaik, segera lakukan pemeriksaan ke dokter. Konsultasikan kondisi yang dialami kepada dokter agar bisa mendapatkan penanganan medis segera.
Artikel ini telah direview oleh dr. Mikhael Yosia, BMedSci, PGCert, DTM&H.
(SFR)
Frequently Asked Question Section
Apa kegunaan antihistamin?

Apa kegunaan antihistamin?
Antihistamin adalah golongan obat yang digunakan untuk mengobati gejala akibat reaksi alergi, rhinitis alergi, urtikaria, dermatitis, dan konjungtivis.
Apa saja efek samping obat antihistamin?

Apa saja efek samping obat antihistamin?
Beberapa efek samping umum obat antihistamin adalah mengantuk, gelisah, sakit kepala, dan mulut kering.
Apa itu zat histamin?

Apa itu zat histamin?
Histamin adalah zat yang dapat menimbulkan reaksi alergi bila tubuh dimasuki oleh partikel-partikel alergen.
