Kumparan Logo
Konten Media Partner

Atonia Uteri: Gejala, Penyebab, dan Cara Mengobati

Kata Dokter

ยทwaktu baca 4 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ilustrasi wanita hamil akan melakukan persalinan. Foto: Unsplash
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi wanita hamil akan melakukan persalinan. Foto: Unsplash

Daftar isi

Atonia uteri adalah ketidakmampuan otot rahim untuk berkontraksi sehingga tidak mampu menutup pembuluh darah yang terdapat pada tempat implantasi plasenta. Kondisi ini menjadi penyebab lebih dari 90 persen perdarahan pascapersalinan yang terjadi dalam 24 jam setelah kelahiran bayi.

Pada kondisi normal setelah plasenta lahir, otot-otot rahim akan berkontraksi secara sinergis. Otot-otot tersebut saling bekerja sama untuk menghentikan perdarahan yang berasal dari tempat implantasi plasenta.

Namun, pada kondisi tertentu, otot-otot rahim tersebut bisa mengalami ketidakmampuan untuk berkontraksi. Kondisi demikian akan menyebabkan perdarahan pada tempat implantasi plasenta dan bisa berakibat membahayakan nyawa ibu apabila tidak segera ditangani.

Atonia uteri merupakan komplikasi yang diketahui terjadi pada sebagian besar perdarahan setelah persalinan. Kondisi ini juga dapat terjadi setelah keguguran atau aborsi.

Penyebab Atonia Uteri

Penyebab umum dari atonia uteri adalah otot-otot rahim yang tidak mampu berkontraksi. Mengutip jurnal Pregnancy-Related Hysterectomy for Peripartum Hemorrhage oleh Biomed Research International, kondisi ini bisa dipicu akibat beberapa faktor penyebab, seperti:

1. Distensi Rahim yang Berlebihan

Distensi rahim adalah kondisi rahim yang menjadi besar dan meregang. Beberapa penyebab distensi uterus yang berlebihan antara lain kehamilan ganda, polihidramnion (penumpukan cairan ketuban), dan makrosomia janin (kondisi bayi yang lahir dengan berat badan di atas rata-rata).

Peregangan rahim yang berlebihan karena sebab-sebab tersebut akan mengakibatkan rahim tidak mampu berkontraksi segera setelah plasenta lahir.

Ilustrasi bayi yang lahir dengan berat badan di atas rata-rata dapat menyebabkan distensi rahim pada ibu saat persalinan. Foto: Unsplash

2. Pemanjangan Masa Persalinan (Partus Lama)

Partus lama adalah kondisi persalinan yang ditandai tidak adanya pembukaan serviks dalam 2 jam dan tidak adanya penurunan janin dalam 1 jam. Pada partus lama, uterus dalam kondisi yang sangat lelah, sehingga rahim tidak mampu melakukan kontraksi untuk melahirkan janin.

3. Penyebab Lainnya

Selain beberapa penyebab di atas, atonia uteri juga dapat terjadi akibat faktor lain, seperti:

  • Menggunakan hormon oksitosin untuk menginduksi persalinan dalam waktu yang lama. Hormon oksitosin adalah hormon sintetis pemicu kontraksi rahim yang dimasukkan melalui pembuluh darah.

  • Menggunakan obat-obatan tertentu sebelum persalinan, seperti magnesium sulfat.

  • Munculnya fibroid rahim atau pertumbuhan jaringan otot yang bersifat jinak atau non-kanker.

  • Mengalami korioamnionitis atau komplikasi kehamilan berupa infeksi pada air ketuban dan plasenta selama masa kehamilan.

  • Endometrium tipis sehingga hanya sebagian plasenta yang mengganggu kontraksi otot rahim dan terjadi pendarahan.

  • Gangguan kontraksi rahim akibat ibu hamil yang kekurangan gizi dan anemia selama kehamilan.

Gejala Atonia Uteri

Atonia uteri adalah salah satu penyebab paling umum dari perdarahan postpartum. Perdarahan postpartum didefinisikan sebagai kehilangan lebih dari 500 mililiter darah pada ibu setelah kelahiran bayi.

Gejala utama atonia uteri adalah perdarahan. Kondisi ini dapat menyebabkan penderitanya kehilangan sejumlah darah yang berisiko mengancam nyawa. Gejala-gejala lainnya meliputi:

  • Perdarahan yang berlebihan dan tidak terkontrol setelah kelahiran bayi

  • Tekanan darah menurun

  • Denyut jantung meningkat

  • Rasa sakit pada area perut bawah

  • Sakit punggung

  • Sulit buang air kecil

  • Kulit pucat

  • Pusing atau sakit kepala

Beberapa pendarahan setelah melahirkan memang umum terjadi. Namun, jika mengalami pendarahan hebat atau harus sering mengganti pembalut, segera periksakan diri ke dokter untuk mendapat penanganan medis segera.

Cara Mengobati Atonia Uteri

Ilustrasi salah satu cara mengatasi atonia uteri adalah dengan tindakan operasi. Foto: Unsplash

Atonia uteri merupakan kondisi medis yang membutuhkan penanganan segera. Setelah kehilangan darah dihentikan, pasien mungkin memerlukan satu atau lebih transfusi darah untuk memulihkan diri.

Dokter mungkin juga memberikan infus intravena, oksigen, dan obat-obatan lain jika tekanan darah pasien rendah. Mengutip jurnal Uterine Atony oleh Prabhcharan Gill dan Anjali Patel, beberapa perawatan untuk mengatasi kondisi atonia uteri mencakup:

1. Pemberian Hormon Oksitosin

Dokter dapat memberikan hormon oksitosin melalui infus intravena kepada pasien. Oksitosin berfungsi untuk merangsang otot-otot rahim agar dapat berkontraksi. Hormon ini dapat menekan arteri spiral uterus dan menghentikan perdarahan.

2. Pemberian Obat Methylergonovine

Obat methylergonovine dapat membantu menghentikan perdarahan pada atonia uteri. Namun, dokter tidak akan menggunakan obat ini apabila pasien memiliki hipertensi atau tekanan darah tinggi,

3. Pemberian Prostaglandin

Pemberian prostaglandin seperti 15-metil-PGF2, misoprostol, dan dinoprostone melalui suntikan atau supositoria (pemberian obat melalui vagina atau anus) dapat membantu menghentikan perdarahan.

4. Operasi

Tindakan operasi dilakukan apabila perawatan medis lainnya tidak dapat menghentikan perdarahan. Beberapa jenis tindakan operasi yang dapat direkomendasikan termasuk:

  • Pembungkusan rahim dengan kain kasa. Metode ini dilakukan untuk menghentikan perdarahan atonia uteri dengan memberikan tekanan langsung pada pembuluh arteri yang berdarah.

  • Induksi persalinan dengan balon kateter. Metode ini dilakukan dengan menempatkan balon khusus ke dalam rahim. Balon akan diisi air untuk menekan leher rahim supaya menghentikan perdarahan.

  • Ligasi arteri uterina. Metode ini dilakukan degan cara mengikat arteri yang membawa darah ke rahim untuk menghentikan perdarahan. Dokter mungkin harus melakukan cara ini jika metode lain tidak berhasil.

  • Histerektomi. Jika tidak ada lagi cara yang mampu menghentikan pendarahan, dokter mungkin harus mengangkat rahim pasien. Operasi besar ini disebut histerektomi dan hanya dilakukan sebagai upaya terakhir. Setelah histerektomi, pasien tidak mampu untuk hamil lagi.

Artikel ini telah direview oleh dr. Mikhael Yosia, BMedSci, PGCert, DTM&H.

(SFR)

Frequently Asked Question Section

Apa saja gejala atonia uteri?
chevron-down

Gejala atonia uteri meliputi perdarahan yang berlebihan, tekanan darah menurun, dan denyut jantung meningkat.

Apa itu perdarahan postpartum?
chevron-down

Perdarahan postpartum didefinisikan sebagai kehilangan lebih dari 500 mililiter darah pada ibu setelah kelahiran bayi.

Apa itu distensi rahim?
chevron-down

Distensi rahim adalah kondisi rahim yang menjadi besar dan meregang.