Kumparan Logo
Konten Media Partner

Eritrosit Rendah dalam Tubuh, Ini Penyebab dan Cara Mengatasinya

Kata Dokter

ยทwaktu baca 5 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Eritrosit adalah kepingan sel darah merah yang berfungsi untuk mengantar oksigen ke seluruh tubuh. Foto: Unsplash.com
zoom-in-whitePerbesar
Eritrosit adalah kepingan sel darah merah yang berfungsi untuk mengantar oksigen ke seluruh tubuh. Foto: Unsplash.com

Eritrosit merupakan kepingan sel darah merah yang mengandung hemoglobin. Ketika kadar eritrosit rendah, tubuh akan merasakan sejumlah gejala yang bisa mengganggu.

Eritrosit sendiri memiliki fungsi yang penting bagi tubuh, yaitu menjadi alat transportasi oksigen dan pertukaran gas oksigen dan karbon dioksida. Kadar eritrosit perlu dijaga agar tetap normal untuk menjaga kondisi tubuh.

Kadar eritrosit rendah dalam tubuh adalah hal yang perlu dicegah karena bisa menyebabkan sejumlah gangguan kesehatan tubuh. Artikel ini akan membahas lebih lanjut mengenai kondisi eritrosit rendah. Simak informasinya di bawah ini.

Kadar Eritrosit Normal

Eritrosit adalah jenis sel darah yang paling banyak dan berfungsi membawa oksigen ke seluruh jaringan tubuh. Menurut Viktoria Kuhn, dkk dalam jurnal Red Blood Cell Function and Dysfunction: Redox Regulation, Nitric Oxide Metabolism, Anemia, eritrosit juga berfungsi untuk menjaga keseimbangan asam/basa dalam tubuh.

Jumlah atau kadar eritrosit dalam tubuh sendiri bisa berbeda-beda pada setiap orang. Biasanya hal tersebut dipengaruhi oleh usia serta jenis kelamin.

Berikut adalah kadar eritrosit normal dalam tubuh berdasarkan usia dan jenis kelamin:

  • Bayi baru lahir: 4.8-7.1 juta sel/mikroliter

  • Bayi 2-8 minggu: 4-6 juta sel/mikroliter

  • Bayi 2-6 bulan: 3.5-5.5 juta sel/mikroliter

  • Bayi 6-12 bulan: 4.5-5.2 juta sel/mikroliter

  • Anak 1-18 tahun: 4-5.5 juta sel/mikroliter

  • Pria dewasa: 4.7-6.1 juta sel/mikroliter

  • Wanita dewasa: 4.2-5.4 juta sel/mikroliter

Jika kadar eritrosit rendah dari kadar normalnya, tubuh akan merasakan sejumlah gejala, seperti kelelahan, sesak napas, lemas, pusing, denyut jantung berdetak kencang, sakit kepala, hingga kulit pucat.

Eritrosit rendah juga bisa menyebabkan gangguan tubuh yang lebih serius bisa menyebabkan organ dan jaringan dalam tubuh tidak bekerja secara maksimal. Oleh karena itu, kadar eritrosit rendah perlu dihindari.

Penyebab Eritrosit Rendah

Eritrosit rendah dalam tubuh bisa disebabkan oleh berbagai macam faktor. Berikut faktor-faktor yang bisa menyebabkan kadar eritrosit rendah.

1. Kekurangan Nutrisi

Jumlah eritrosit rendah dalam darah pada umumnya disebabkan oleh kurangnya sejumlah nutrisi, terutama zat besi. Tak hanya itu, kekurangan nutrisi, seperti zinc, asam folat, vitamin B6, dan vitamin B12 juga menyebabkan jumlah eritrosit rendah, sehingga tubuh bisa merasakan gejala anemia.

Untuk menghindari hal ini, cobalah untuk mencukupi kebutuhan nutrisi penting dalam tubuh dengan cara mengonsumsi makanan yang kaya akan nutrisi tersebut.

2. Kelainan Sumsum Tulang Belakang

Eritrosit adalah kepingan darah yang diproduksi oleh sumsum tulang belakang. Dalam kasus tertentu, sumsum tulang belakang akan menghentikan produksi sel darah merah yang baru. Kondisi ini bisa menyebabkan anemia aplastik.

Anemia aplastik merupakan penyakit autoimun. Kondisi ini umumnya disebabkan oleh penggunaan obat-obatan tertentu, infeksi virus, paparan racun, serta radiasi.

3. Hemolisis

Hemolisis adalah kondisi kerusakan sel darah merah dan keluarnya hemoglobin ke plasma darah. Hal ini bisa menurunkan kadar sel darah merah yang sehat.

Kondisi ini pada umumnya disebabkan oleh beberapa faktor, seperti reaksi tubuh terhadap transfusi darah, infeksi, atau gangguan bawaan, seperti anemia sel sabit.

4. Penyakit Kronis

Salah satu penyebab eritrosit rendah adalah penyakit kronis yang mempengaruhi hormon EPO dalam tubuh. Foto: Pexels.com

Beberapa penyakit kronis yang menyebabkan peradangan dapat mempengaruhi cara tubuh memproses erythropoietin (EPO). EPO adalah hormon yang menyebabkan sumsum tulang menghasilkan sel darah merah.

EPO pada umumnya diproduksi ginjal. Jika menderita penyakit ginjal kronis, seseorang mungkin akan menghasilkan hormon EPO lebih sedikit dari biasanya.

Penyakit kronis lainnya yang bisa menyebabkan eritrosit rendah adalah sebagai berikut:

  • Penyakit autoimun, seperti lupus, rheumatoid arthritis, dan lain-lain

  • Infeksi dalam tubuh, seperti infeksi virus HIV atau virus penyebab penyakit tuberkulosis (TBC)

  • Kanker, seperti leukemia atau multiple myeloma

  • Penyakit radang usus, seperti penyakit Crohn dan kolitis ulserativa

5. Penggunaan Obat-obatan Tertentu

Beberapa obat tertentu memiliki efek samping, yaitu bisa menurunkan jumlah sel darah merah sehingga tubuh memiliki eritrosit rendah. Obat-obatan tersebut adalah:

  • Obat-obatan yang digunakan pada kemoterapi

  • Kloramfenikol, yaitu jenis obat mengobati infeksi bakteri

  • Quinidine, yang dapat mengobati detak jantung tidak teratur

  • Hydantoin yang digunakan untuk mengobati epilepsi dan kejang otot

Selain beberapa kondisi di atas, eritrosit rendah juga bisa disebabkan oleh beberapa faktor lainnya, yaitu pendarahan internal atau eksternal yang secara langsung menurunkan jumlah sel darah merah, kehamilan, serta gangguan tiroid.

Cara Mengatasi Eritrosit Rendah

Eritrosit rendah membutuhkan beberapa cara penanganan tertentu berdasarkan penyebabnya. Berikut beberapa langkah penanganan eritrosit rendah.

1. Mencukupi Kebutuhan Nutrisi

Eritrosit rendah dapat diatasi dengan mengonsumsi zat besi, asam folat, vitamin B12, dan vitamin A. Foto: Pexels.com

Eritrosit rendah bisa disebabkan oleh kekurangan nutrisi tertentu. Untuk mengatasi kondisi tersebut, cobalah untuk mengonsumsi makanan berikut:

  • Makanan kaya akan zat besi, seperti daging tanpa lemak, kacang-kacangan, makanan laut, kismis, ayam, bebek, dan lain-lain.

  • Makanan dengan asam folat yang tinggi, seperti bayam, hati, kubis, asparagus, atau roti dan sereal yang diperkaya.

  • Makanan yang mengandung vitamin B12, seperti daging, ayam, ikan, susu, produk olahan susu, telur, dan lain-lain.

  • Makanan yang kaya akan vitamin A yang membantu zat besi sampai ke sel darah merah, seperti ikan, telur, hati, sayur hijau, tomat, dan lain-lain.

Selain mengonsumsi makanan-makanan di atas, kebutuhan nutrisi dapat dipenuhi dengan minum suplemen nutrisi tersebut yang membantu mencukupi kebutuhan harian seseorang.

2. Perubahan Gaya Hidup

Perubahan gaya hidup bisa membantu meningkatkan eritrosit dalam tubuh. Contohnya adalah:

  • Mempertahankan pola makan yang sehat

  • Menghindari kondisi kekurangan vitamin dan kebiasaan merokok

  • Berolahraga secara teratur

  • Menghindari konsumsi aspirin dan alkohol yang berlebihan.

Cobalah untuk menerapkan gaya hidup di atas untuk mengatasi eritrosit rendah.

3. Perawatan Medis

Beberapa kasus eritrosit rendah disebabkan oleh kondisi kronis. Perawatan medis dibutuhkan untuk membantu menangani kondisi tersebut. Berikut beberapa perawatan medis yang mungkin akan diberikan untuk mengatasi eritrosit rendah.

  • Kelainan sumsum tulang belakang akan ditangani dengan meresepkan obat-obatan khusus. Jika obat-obatan tidak membantu, penderita mungkin akan dianjurkan untuk melakukan transplantasi sumsum tulang belakang

  • Kondisi kronis yang menyebabkan EPO terganggu ditangani dengan pengobatan faktor penyebabnya. Dokter mungkin akan meresepkan agen perangsang EPO

  • Kehilangan darah akibat beberapa faktor bisa ditangani dengan prosedur transfusi darah.

Eritrosit adalah kepingan sel darah yang paling banyak dalam tubuh. Kadar eritrosit rendah perlu dihindari untuk menjaga kesehatan dan mencegah kondisi yang lebih serius, seperti gangguan pada jantung hingga kematian.

(SAI)

Frequently Asked Question Section

Apa itu eritrosit?
chevron-down

Eritrosit merupakan kepingan sel darh merah yang mengandung hemoglobin.

Apa fungsi eritrosit?
chevron-down

Eritrosit adalah sel darah yang berfungsi membawa oksigen ke seluruh jaringan dan menjaga keseimbangan asam/basa dalam tubuh.

Apa saja gejala eritrosit rendah?
chevron-down

Eritrosit rendah ditandai dengan beberapa gejala, seperti kelelahan, sesak napas, lemas, pusing, denyut jantung berdetak kencang, sakit kepala, hingga kulit pucat.