Hiperventilasi: Gejala, Penyebab, dan Cara Mengobatinya
ยทwaktu baca 4 menit

Daftar isi
Daftar isi

Daftar isi
Hiperventilasi adalah istilah medis yang menggambarkan kondisi seseorang di mana pasien bernapas dengan cepat dan berlebihan. Kondisi ini biasanya muncul ketika pasien tersebut mengalami beberapa gangguan kesehatan, seperti kehamilan, infeksi pada paru-paru, hingga sakit jantung.
Untuk mengatasinya, pasien yang mengalami hiperventilasi perlu mengonsumsi obat-obatan yang sudah direkomendasikan oleh dokter. Selain itu, pasien juga bisa mengelola stres agar tidak memicu kecemasan di dalam tubuh yang pada akhirnya menimbulkan hiperventilasi.
Pengertian Hiperventilasi
Menurut laman Hopkins Medicine, hiperventilasi adalah suatu kondisi di mana pasien akan mengeluarkan lebih banyak karbon dioksida daripada menghirupnya. Sederhananya, hiperventilasi membuat seseorang bernapas lebih cepat daripada rata-rata normalnya.
Sebagai informasi, frekuensi pernapasan normal untuk orang dewasa ketika beristirahat adalah 12-20 kali per menitnya. Apabila frekuensi pernapasan menunjukkan keterangan di bawah 12 atau lebih dari 25 napas per menit, kondisi tersebut bisa menjadi indikasi dari suatu gangguan kesehatan.
Penyebab Hiperventilasi
Hiperventilasi sering disebut sebagai bentuk atau respons tubuh seseorang yang mengalami kecemasan hingga panik. Namun, ada beberapa penyebab lainnya yang menjadi pemicu terjadinya hiperventilasi, yaitu:
Terjadi perdarahan dalam jumlah yang cukup banyak
Penggunaan obat stimulan yang meningkatkan denyut jantung
Mengidap sakit yang cukup parah atau kronis
Infeksi pada paru-paru
Sakit jantung, salah satunya adalah serangan jantung
Komplikasi gula darah tinggi
Gejala Hiperventilasi
Hiperventilasi kondisi yang sebetulnya bisa terjadi kapan pun, terlebih ketika kondisi kesehatan sedang tidak dalam kondisi yang baik-baik saja.
Sebelum terjadi hiperventilasi, ada beberapa gejala yang ditimbulkan selama kurang lebih 20-30 menit, yaitu:
Perasaan cemas, gugup hingga tertekan
Detak jantung yang berdebar-debar cukup kencang
Perasaan pengap, sehingga tubuh terus membutuhkan udara tambahan
Muncul masalah keseimbangan, seperti vertigo atau perasaan melayang
Mati rasa yang terjadi di sekujur tubuh hingga mulut
Sering mendesah atau menguap
Anggota tubuh mengalami kedutan
Gangguan penglihatan
Hilangnya kesadaran
Cara Mengobati Hiperventilasi
Seperti yang sudah disebutkan sebelumnya, hiperventilasi tidak bisa disebut sebagai penyakit, melainkan gejala atau kondisi yang menunjukkan bahwa seseorang mengalami gangguan penyakit. Ketika hiperventilasi dan gejalanya terjadi secara berulang, disarankan untuk mengobati kondisi tersebut sesegera mungkin.
Lantas, bagaimana cara mengobati hiperventilasi yang perlu diketahui? Berikut informasinya, seperti yang dikutip dari laman National Library of Medicine.
1. Akupuntur
Akupuntur adalah teknis kesehatan yang dilakukan merangsang titik-titik tertentu pada tubuh dengan cara memasukkan jarum tipis ke dalam kulit. Tujuan akupuntur ini sendiri, yakni untuk mengobati berbagai macam penyakit, salah satunya yang berhubungan dengan pikiran atau stres.
Sebagaimana yang diketahui, stres menjadi pemicu yang tanpa disadari bisa menyebabkan hiperventilasi. Untuk penggunaannya, jarum akan dibiarkan di tempat atau titik-titik tertentu selama 5 hingga 20 menit, namun tidak akan lebih dari 60 menit.
Supaya tidak menimbulkan efek samping, pastikan bahwa kegiatan akupuntur ini diawasi oleh orang-orang yang memang ahli di bidangnya.
2. Atur pernapasan dengan baik
Melatih pernapasan bisa menjadi solusi untuk mengatasi hiperventilasi. Dengan mengatur pernapasan, tubuh bisa menjadi lebih rileks dan mencapai ketenangan. Trik yang bisa dilakukan, yakni menghirup napas dan tahan selama mungkin, lalu embuskan dan lakukan kegiatan tersebut berkali-kali.
Adapun beberapa latihan pernapasan yang bisa dilakukan untuk mengurangi stres, di antaranya pernapasan perut, pernapasan hidung, hingga square breathing.
3. Mengonsumsi beberapa obat-obatan
Selain menggunakan teknik-teknik yang sudah disebutkan, hiperventilasi juga perlu diatasi dengan mengonsumsi beberapa obat-obatan, tergantung dari tingkat keparahan yang dialami. Umumnya, obat-obatan yang disarankan dokter adalah:
Alprazolam adalah obat yang dikonsumsi untuk mengatasi gangguan kecemasan dan panik. Biasanya obat alprazolam ini digunakan untuk pengobatan yang berjangka pendek.
Doxepin adalah golongan obat antidepresan yang bisa mengatasi gangguan mood, seperti depresi hingga perasaan cemas.
Paroxetine adalah obat yang digunakan untuk mengobati depresi, serangan panik, hingga gangguan kecemasan yang lainnya.
Cara Mencegah Hiperventilasi
Hiperventilasi termasuk kondisi yang tidak bisa ditebak kapan akan terjadi. Namun tidak perlu khawatir, sebab ada beberapa langkah pencegahan yang bisa dilakukan. Menyadur laman Very Well Health, berikut informasinya.
Rutin melakukan meditasi di sela-sela waktu, disarankan untuk dilakukan di pagi hari dan dalam keadaan yang tenang.
Terus-menerus melatih pernapasan agar tubuh bisa tetap rileks, meski dalam kondisi panik sekalipun.
Melatih fisik dan pikiran, seperti melakukan tai chi hingga yoga.
Berolahraga secara teratur, mulai dari lari, berjalan kaki, hingga bersepeda.
Kurangi memikirkan hal-hal yang membuat otak bekerja dengan keras.
Artikel ini telah direview oleh dr. Mikhael Yosia, BMedSci, PGCert, DTM&H.
(JA)
Frequently Asked Question Section
Apa yang dimaksud dengan hiperventilasi?

Apa yang dimaksud dengan hiperventilasi?
Hiperventilasi adalah suatu kondisi di mana pasien akan mengeluarkan lebih banyak karbondioksida daripada menghirupnya.
Kapan hiperventilasi terjadi?

Kapan hiperventilasi terjadi?
Kondisi hiperventilasi biasanya muncul ketika pasien tersebut mengalami beberapa gangguan kesehatan, seperti kehamilan, infeksi pada paru-paru, hingga sakit jantung.
Berapa frekuensi napas yang normal?

Berapa frekuensi napas yang normal?
Frekuensi pernapasan normal untuk orang dewasa ketika beristirahat adalah 12-20 kali per menitnya.
