Hipospadia pada Bayi: Gejala, Penyebab, hingga Cara Mengobatinya
ยทwaktu baca 4 menit

Daftar isi
Daftar isi

Daftar isi
Hipospadia pada bayi adalah kelainan yang mengakibatkan uretra atau lubang kencing bayi laki-laki menjadi tidak normal. Kondisi ini menyebabkan masalah pada saat buang air kecil serta fungsi seksual.
Jika bayi laki-laki menderita hipospadia, biasanya akan menjalani operasi bedah ketika mereka berusia beberapa bulan untuk mencegah gangguan buang air kecil, dan lain-lain.
Apa Itu Hipospadia?
Menurut H.J.R van der Horst, dkk dalam artikel ilmiah berjudul Hypospadias, hipospadia adalah cacat lahir yang mana uretra tidak berkembang dengan baik di penis bayi. Uretra sendiri merupakan saluran yang membawa urine dan sperma melalui penis untuk keluar dari tubuh.
Dalam kondisi normal, lubang dari uretra terletak di ujung penis untuk mengeluarkan urine. Akan tetapi, pada kasus hipospadia, lubang uretra justru berada di bagian lain di bawah ujung penis dan skrotum.
Hipospadia pada bayi biasanya diklasifikasikan menjadi beberapa jenis, seperti:
Hipospadia subcoronal adalah kondisi ketika lubang uretra terletak di bagian yang dekat dengan kepala penis. Jenis hipospadia ini adalah jenis yang paling umum dan terjadi pada 80% penderita hipospadia.
Hipospadia midshaft, yakni kondisi lubang uretra yang terletak di sepanjang batang penis.
Hipospadia penoscrotal, yaitu kondisi lubang uretra berada di tempat antara batang penis dan skrotum (kantong yang membungkus testis).
Hipospadia skrotum atau perineum, yaitu kondisi ketika lubang uretra terletak di skrotum atau di belakangnya.
Gejala Hipospadia pada Bayi
Gejala hipospadia yang paling jelas adalah lubang uretra tidak terletak di ujung alat kelamin pria, melainkan berada di bagian lain dari penis. Selain itu, terdapat gejala lain dari hipospadia pada bayi, berupa:
Bentuk kemaluan laki-laki melengkung ke bawah. Kondisi ini terjadi pada sekitar 15 persen pasien hipospadia
Kesulitan buang air kecil. Hal ini terjadi karena urine keluar dari area lain selain ujung kemaluan
Kulup atau bagian kulit yang menutupi kepala alat kelamin laki-laki belum terbentuk sempurna. Dalam kondisi ini, bayi laki-laki dengan hipospadia tidak boleh disunat
Testis tidak turun yang mana salah satu testis atau keduanya masih berada dalam tubuh dan tidak turun ke skrotum.
Penyebab Hipospadia pada Bayi
Dalam jurnal The Genetic and Environmental Factors Underlying Hypospadias oleh Bouty A, dkk, hipospadia disebabkan oleh adanya kelainan perkembangan uretra yang terjadi pada awal perkembangan janin yang terjadi pada minggu ke-9 hingga ke-12 kehamilan.
Sampai saat ini, belum diketahui apa penyebab pasti dari adanya perkembangan uretra yang abnormal tersebut. Para ahli percaya bahwa kondisi ini disebabkan oleh beberapa faktor, seperti genetik, lingkungan, dan hormon yang mengubah atau menghentikan perkembangan alat kelamin bayi saat masih dalam rahim.
Faktor-faktor dan kondisi tertentu pada ibu hamil dapat meningkatkan risiko bayi mengalami hipospadia, seperti:
Memiliki berat badan yang berlebihan (obesitas)
Berusia di atas 35 tahun
Menggunakan perawatan kesuburan untuk hamil, seperti paparan hormon progesteron, yakni hormon yang digunakan selama pembuahan
Terpapar zat kimia, seperti pestisida atau bahan kimia industri lainnya selama kehamilan
Memiliki kebiasaan merokok
Komplikasi Hipospadia pada Bayi
Hipospadia pada bayi bisa mengakibatkan komplikasi berupa:
Pertumbuhan lubang baru atau fistula yang terbentuk di tempat lain pada penis
Tampilan penis yang tidak normal
Alat kelamin dapat melengkung secara permanen
Mengalami gangguan ejakulasi
Munculnya jaringan parut pada lubang uretra dan sekitarnya mengakibatkan bayi sulit untuk buang air kecil.
Komplikasi di atas biasanya terjadi setelah dilakukan tindakan medis, tetapi kemungkinan kecil terjadinya komplikasi ini sangatlah kecil.
Diagnosis Hipospadia pada Bayi
Dokter akan melakukan diagnosis hipospadia setelah bayi dilahirkan. Diagnosis dilakukan dengan cara pemeriksaan fisik untuk mengidentifikasi lokasi lubang uretra, melihat kelengkungan dari alat kelamin bayi, dan menilai seberapa parah kasus hipospadia.
Dalam kondisi hipospadia yang parah, dibutuhkan pemeriksaan lebih lanjut untuk memastikan ada tidaknya gangguan dan kelainan pada alat kelamin dari bayi.
Cara Mengobati Hipospadia pada Bayi
Sebagian besar kasus hipospadia pada bayi diatasi dengan metode pembedahan. Hipospadia memiliki gejala yang berat biasanya disarankan untuk melaksanakan operasi dengan tujuan:
Membuat dan memperbaiki kembali dengan cara memposisikan uretra pada tempat tepat
Membuat urine mengalir keluar dari tempat yang tempat
Agar alat kelamin tidak membengkok saat ereksi
Namun, bayi dengan kondisi lubang uretra yang terletak dekat ujung kelamin dan tidak mengalami gejala kelengkungan pada kelamin biasanya tidak memerlukan untuk dioperasi.
Operasi pembedahan bisa dilakukan kapan saja, tetapi idealnya dilakukan saat bayi berusia 4-16 bulan. Setelah dilaksanakan operasi, sebaiknya bayi dirawat selama pemulihan dengan cara:
Memandikan dan membersihkan tubuh
Membersihkan bekas operasi dengan baik
Mengenali tanda-tanda terjadinya komplikasi
Perawatan bayi dengan hipospadia setelah operasi perlu dilakukan untuk menghindari risiko infeksi dan munculnya komplikasi lainnya.
Artikel ini telah direview oleh dr. Mikhael Yosia, BMedSci, PGCert, DTM&H.
(SAI)
Frequently Asked Question Section
Apa itu uretra?

Apa itu uretra?
Uretra merupakan saluran yang membawa urin dan sperma melalui penis untuk keluar dari tubuh.
Apa gejala utama dari hipospadia pada bayi?

Apa gejala utama dari hipospadia pada bayi?
Gejala hipospadia yang paling umum adalah lubang uretra tidak terletak di ujung alat kelamin pria, melainkan berada di bagian lain dari penis.
Apa yang dimaksud dengan hipospadia penoscrotal?

Apa yang dimaksud dengan hipospadia penoscrotal?
Hipospadia penoscrotal adalah kondisi lubang uretra berada di tempat antara batang penis dan skrotum.
