Ketahui Efek Samping Vaksin Sinovac dan Cara Mengatasinya
ยทwaktu baca 3 menit

Vaksin Sinovac merupakan vaksin COVID-19 yang diproduksi oleh Sinovac Biotech, sebuah perusahaan farmasi yang berbasis di Beijing, Tiongkok. Vaksin ini mengandung virus SARS-CoV-2 yang sudah tidak aktif.
Vaksin Sinovac disuntikkan sebanyak dua kali dengan rentang jarak penyuntikan 2-4 minggu antara dosis pertama dan kedua. Jumlah setiap dosisnya 0,5 ml.
Di Indonesia, vaksin Sinovac menjadi vaksin COVID-19 pertama yang didistribusikan dan mendapat izin penggunaan darurat dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM). Vaksin ini direkomendasikan untuk individu berusia 18 tahun ke atas.
Vaksin Sinovac dapat diberikan kepada individu yang pernah terinfeksi COVID-19 sebelumnya. Namun, dianjurkan untuk memberikan jeda waktu selama 3 bulan sebelum melakukan vaksinasi.
Menurut laman Kementerian Kesehatan RI (Kemenkes RI), vaksin Sinovac sudah teruji secara klinis, sehingga aman untuk digunakan oleh masyarakat. Vaksin ini juga sudah tercatat halal, sehingga siapa saja bisa melakukan vaksinasi tanpa keraguan.
Penyuntikan vaksin Sinovac mampu meningkatkan kadar antibodi secara signifikan untuk melawan virus penyebab COVID-19. Vaksin ini juga mengandung bahan alumunium-hidroksida untuk membantu meningkatkan respons sistem kekebalan tubuh.
Efek Samping Vaksin Sinovac
Meskipun dapat dipastikan aman, vaksin Sinovac dilaporkan memiliki sejumlah efek samping yang bersifat ringan hingga sedang yang mungkin dialami sebagian orang. Efek samping ini muncul sebagai tanda bahwa tubuh sedang membentuk imunitas terhadap virus Corona.
Menurut Badan Kesehatan Dunia (WHO), efek samping yang paling umum setelah menerima vaksin Sinovac adalah rasa nyeri dan bengkak di sekitar area suntikan. Selain itu, ada juga beberapa efek samping lain pascavaksinasi, di antaranya:
Pusing dan sakit kepala
Demam ringan
Kelelahan
Pegal pada otot atau sendi
Menggigil
Mual dan muntah
Diare
Nafsu makan meningkat
Seperti obat lainnya, vaksin Sinovac juga memungkinkan untuk menimbulkan reaksi alergi. Biasanya, reaksi alergi ini ditandai dengan gatal-gatal, pembengkakan pada wajah dan tenggorokan, kesulitan bernapas, detak jantung yang cepat, atau tubuh yang terasa lemah. Namun, reaksi alergi pada vaksin Sinovac sangat jarang terjadi.
Sejumlah efek samping di atas umumnya lebih banyak dialami setelah melakukan vaksinasi dosis pertama. Beberapa laporan menyebutkan bahwa vaksinasi dosis kedua lebih jarang mengalami efek samping.
Meski begitu, sebagian orang mungkin tidak memiliki efek samping seperti yang disebutkan. Namun, tidak mengalami efek samping bukan berarti vaksin tidak bekerja di dalam tubuh.
Cara Mengatasi Efek Samping Vaksin Sinovac
Biasanya, petugas kesehatan akan meminta penerima vaksin menunggu sekitar 15 menit di lokasi untuk memastikan tidak ada efek samping yang perlu ditangani segera.
Apabila tubuh mengalami reaksi setelah vaksinasi beberapa jam kemudian, berikut beberapa cara mengatasi efek samping vaksin Sinovac yang bisa dilakukan:
Tetap tenang.
Jika terjadi reaksi seperti nyeri, bengkak atau kemerahan di area bekas suntikan, kompres dengan air dingin pada area tersebut.
Jika terjadi demam, kompres dengan air hangat dan perbanyak minum air putih.
Mengonsumsi makanan bergizi dengan teratur.
Beristirahat yang cukup setidaknya 7-9 jam setiap malam.
Jika dibutuhkan, minum obat (seperti obat penurun demam) sesuai anjuran dokter.
Segera periksakan diri ke dokter jika gejala berlangsung lebih dari tiga hari atau jika terjadi efek samping yang lebih berat.
(SFR)
Frequently Asked Question Section
Siapa produsen vaksin Sinovac?

Siapa produsen vaksin Sinovac?
Vaksin Sinovac merupakan vaksin COVID-19 yang diproduksi oleh Sinovac Biotech, sebuah perusahaan farmasi yang berbasis di Beijing, Tiongkok.
Apa kandungan vaksin Sinovac?

Apa kandungan vaksin Sinovac?
Vaksin ini mengandung virus SARS-CoV-2 yang sudah tidak aktif.
Apa efek samping paling umum dari vaksin Sinovac?

Apa efek samping paling umum dari vaksin Sinovac?
Efek samping yang paling umum setelah menerima vaksin Sinovac adalah rasa nyeri dan bengkak di sekitar area suntikan.
