Pengertian Emboli Air Ketuban dan Bahayanya bagi Ibu Hamil

Konten Media Partner
23 November 2022 16:01
·
waktu baca 4 menit
sosmed-whatsapp-whitecopy-link-circlemore-vertical
Apa yang dimaksud dengan emboli air ketuban? Foto: Unsplash
zoom-in-whitePerbesar
Apa yang dimaksud dengan emboli air ketuban? Foto: Unsplash
ADVERTISEMENT
Emboli air ketuban adalah kondisi ketika air ketuban masuk dan bercampur ke dalam sistem peredaran darah sang ibu. Kondisi ini dapat terjadi secara tiba-tiba pada ibu hamil dan ada beberapa faktor risiko, salah satunya adalah gangguan plasenta, seperti robeknya plasenta dan plasenta previa.
ADVERTISEMENT
Jika dibiarkan terus-menerus, emboli air ketuban dapat menyebabkan komplikasi berbahaya, seperti kerusakan otak, gagal napas, syok, dan henti jantung. Untuk mengatasi kondisi ini bisa dengan mengonsumsi obat-obatan hingga melakukan terapi oksigen.
Ingin tahu lebih lengkap mengenai emboli air ketuban? Simak informasinya pada artikel di bawah ini.

Apa yang Dimaksud dengan Emboli Air Ketuban?

Emboli air ketuban termasuk salah satu gangguan pada ibu hamil. Foto: Unsplash
zoom-in-whitePerbesar
Emboli air ketuban termasuk salah satu gangguan pada ibu hamil. Foto: Unsplash
Menurut laman Cleveland Clinic, emboli air ketuban adalah kondisi di mana cairan ketuban, sel-sel janin, rambut, atau yang lainnya memasuki aliran darah ibu melalui dasar plasenta rahim.
Kondisi ini terjadi karena air mata kecil di bagian bawah rahim, bagian leher rahim yang membentuk saluran yang menghubungkan vagina ke rahim (endoserviks), atau karena kerusakan atau kelainan yang mempengaruhi plasenta.
ADVERTISEMENT
Komplikasi ini lebih sering terjadi selama proses persalinan berlangsung atau segera setelahnya. Oleh karena itu, kondisi ini cukup sulit untuk didiagnosis. Terlebih, kebanyakan kasus emboli air ketuban ini terjadi secara tiba-tiba dan cepat.
Dalam laman Mayo Clinic disebutkan bahwa tahap awal dari komplikasi ini biasanya meliputi serangan jantung dan sulit untuk bernapas atau gagal pernapasan yang cepat. Setelah kondisi ini terjadi, ada beberapa gejala lain yang biasanya dialami oleh ibu hamil, seperti:
  • Jantung mendadak gagal untuk memompa darah dengan efektif
  • Masalah pembekuan darah yang mengancam nyawa
  • Ritme jantung cepat atau gangguan dalam ritme jantung
  • Pendarahan dari rahim, sayatan, atau lokasi intravena (IV)
Umumnya, emboli air ketuban ini kebanyakan terjadi karena kerusakan pada penghalang plasenta, seperti adanya trauma atau luka. Ketika terjadi kerusakan, tubuh akan memberikan respon untuk melepaskan suatu bahan yang menyebabkan reaksi inflamasi hingga mengaktifkan pembekuan abnormal pada paru-paru dan pembuluh darah ibu.
ADVERTISEMENT

Emboli Air Ketuban Apakah Berbahaya?

Terapi oksigen dapat membantu mengatasi emboli air ketuban. Foto: Unsplash
zoom-in-whitePerbesar
Terapi oksigen dapat membantu mengatasi emboli air ketuban. Foto: Unsplash
Jika dilihat dari penjelasan di atas, emboli air ketuban memiliki gejala yang berpotensi membahayakan si ibu hamil itu sendiri. Menyadur laman Medscape, emboli air ketuban adalah kondisi yang berbahaya dan perlu segera ditangani oleh dokter atau tenaga ahli.
Jika tidak ditangani, ibu yang mengalami emboli air ketuban berpotensi menyebabkan komplikasi yang berbahaya, seperti kerusakan otak, gagal napas, syok, dan henti jantung. Untuk mengatasi kondisi ini, ada beberapa hal yang dapat dilakukan, di antaranya:
  • Terapi oksigen. Terapi ini dapat dilakukan untuk memberikan ibu dan janin tambahan oksigen. Tidak hanya itu, tindakan ini juga dilakukan untuk menjaga pasokan oksigen pada organ-organ vital, seperti paru-paru, jantung, dan otak, agar dapat berfungsi dengan baik.
  • Transfusi darah. Emboli air ketuban juga bisa diatasi dengan melakukan transfusi darah. Sebab tidak sedikit kasus di mana ibu yang mengandung mengalami perdarahan berat dan sulit untuk dihentikan selama persalinan atau setelahnya.
  • Obat-obatan. Pemberian obat-obatan ini bertujuan untuk menghindari terjadinya gangguan kesehatan. Salah satu obat-obatan yang dapat dikonsumsi adalah obat-obat kortikosteroid.
ADVERTISEMENT

Faktor Resiko Apa Saja yang Mendukung Terjadinya Emboli Air Ketuban

Sebagaimana dijelaskan sebelumnya, emboli air ketuban memang terjadi karena kerusakan pada penghalang plasenta, seperti adanya trauma atau luka. Namun perlu diketahui bahwa ada berbagai macam faktor yang dapat meningkatkan risiko emboli air ketuban.
Menyadur laman Mayo Clinic, beberapa faktor tersebut di antaranya:

1. Hamil di atas usia 35 tahun

Ketika ibu hamil sudah memasuki usia 35 tahun ke atas, emboli air ketuban ini berpotensi akan meningkat. Perlu diketahui juga bahwa semakin tua usia ibu hamil, maka semakin besar juga risiko untuk mengalami komplikasi kehamilan.

2. Masalah pada plasenta

Selain usia kehamilan, masalah pada plasenta juga bisa memicu terjadinya emboli air ketuban. Ada beberapa gangguan plasenta yang dapat menyebabkan kondisi ini, seperti plasenta yang mengelupas dari dinding dalam rahim sebelum persalinan hingga plasenta yang menutupi leher rahim atau plasenta previa.
ADVERTISEMENT

3. Preeklampsia

Preeklampsia adalah komplikasi yang terjadi pada masa kehamilan. Kondisi ini ditandai dengan tekanan darah yang mencapai angka 140/90 mmHg. Umumnya, kondisi ini terjadi setelah kehamilan sudah memasuki usia 20 minggu.
Selain menyebabkan emboli air ketuban, kondisi ini juga bisa membahayakan organ-organ tubuh lainnya, seperti ginjal dan hati. Kondisi ini termasuk yang paling sering dialami oleh ibu hamil.

4. Persalinan caesar

Faktor risiko lainnya adalah persalinan caesar atau forceps. Kondisi ini bisa menyebabkan emboli air ketuban karena penggunaan alat tersebut dapat menghancurkan penghalang fisik, antara ibu dan bayi.
(JA)
Apa itu emboli ibu hamil?
chevron-down
Apa yang menjadi penyebab emboli pada ibu hamil?
chevron-down
Apakah emboli pada ibu hamil berbahaya?
chevron-down
Baca Lainnya
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020