Kumparan Logo
Konten Media Partner

Penyebab dan Ciri-Ciri Peranakan Turun yang Perlu Diketahui Wanita

Kata Dokter

·waktu baca 6 menit

clock
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ilustrasi peranakan turun pada wanita dapat menyebabkan nyeri di sekitar panggul. Foto: Unsplash
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi peranakan turun pada wanita dapat menyebabkan nyeri di sekitar panggul. Foto: Unsplash

Bagaimana cara mengecek peranakan turun? Peranakan turun atau dalam istilah medis dikenal sebagai prolaps uteri adalah penurunan sebagian atau seluruhnya bagian rahim ke vagina. Kondisi ini terjadi akibat melemahnya otot dan jaringan penyangga di sekitar panggul, sehingga tidak dapat menopang berat rahim.

Berdasarkan tingkat keparahannya, peranakan turun terbagi menjadi empat kondisi, antara lain:

  • Tingkat pertama, terjadi ketika leher rahim turun sampai ke vagina.

  • Tingkat kedua, terjadi ketika leher rahim turun sampai batas mulut vagina.

  • Tingkat ketiga, terjadi ketika leher rahim turun hingga keluar dari vagina.

  • Tingkat keempat, terjadi ketika seluruh keluar dari vagina.

Sebuah penelitian berjudul Uterine Prolapse oleh Cathy J. Chen dan Holly Thompson menyebutkan, umumnya hampir setengah populasi wanita antara usia 50 sampai 79 tahun mengalami peranakan turun.

Penyebab Peranakan Turun

Ilustrasi peranakan turun bisa disebabkan oleh berbagai faktor. Foto: Pexels

Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, peranakan turun disebabkan oleh otot dan jaringan panggul yang menjadi kendur dan lemah. Kondisi ini dapat terjadi karena beberapa faktor, yaitu:

  • Proses persalinan yang terlalu lama dan sulit.

  • Terjadi cedera saat proses melahirkan.

  • Kelemahan pada otot panggul seiring bertambahnya usia.

  • Melemahnya tonus otot dan rendahnya kadar estrogen setelah menopause.

  • Pada saat melahirkan, mengejan sebelum leher rahim terbuka sempurna.

  • Kehamilan dini.

  • Kurang istirahat pada waktu hamil dan setelah melahirkan.

  • Banyak melalui proses melahirkan (lebih dari empat kali).

  • Berbagai kondisi yang menyebabkan peningkatan tekanan di perut, seperti batuk kronis (bronkitis dan asma), tumor panggul, atau penumpukan cairan di dalam rongga perut.

  • Merokok, karena dapat menyebabkan batuk kronis.

  • Kelebihan berat badan atau obesitas.

  • Malnutrisi atau kekurangan gizi.

  • Mengalami komplikasi akibat operasi di daerah panggul.

  • Sering mengangkat barang terlalu berat.

Ciri-Ciri Peranakan Turun

Ilustrasi peranakan turun dapat terjadi pada wanita hamil. Foto: Unsplash

Salah satu cara mengecek peranakan turun adalah mengetahui ciri-ciri dari kondisi ini. Dikutip dari National Health Service of United Kingdom, ada sejumlah ciri-ciri peranakan turun yang dapat dialami wanita, di antaranya:

  • Perut terasa tegang dan berat di sekitar perut bagian bawah dan area vagina.

  • Merasa tidak nyaman di dalam vagina.

  • Merasa seperti ada sesuatu yang turun di dalam vagina.

  • Merasa ada yang mengganjal di dalam vagina, terutama saat duduk. Kondisi ini terasa seperti duduk di atas bola kecil.

  • Ada benjolan yang menonjol keluar dari vagina yang bisa diraba dan dilihat.

  • Merasa tidak nyaman atau mati rasa saat berhubungan intim.

  • Mengalami masalah buang air kecil seperti nyeri, merasa tidak tuntas, atau sering merasa ingin buang air kecil saat batuk atau bersin.

  • Kesulitan buang air besar.

  • Merasakan kram perut dan nyeri panggul yang parah.

  • Nyeri punggung terutama saat mengangkat beban berat atau saat berhubungan intim.

Selain ciri-ciri di atas, peranakan turun berkemungkinan tidak menunjukkan tanda atau gejala tertentu. Terkadang, diperlukan pemeriksaan lebih lanjut untuk mengetahui apakah seseorang mengalami peranakan turun atau tidak.

Cara Mencegah Peranakan Turun

Ilustrasi salah satu cara mencegah peranakan turun adalah berolahraga secara teratur. Foto: Unsplash

Pada dasarnya, kondisi peranakan turun tidak selalu dapat dicegah. Namun, ada beberapa hal yang dapat dilakukan untuk mengurangi risiko mengalami kondisi ini, antara lain:

  • Berolahraga secara rutin dan memperbanyak minum air putih.

  • Menjaga berat badan tetap ideal.

  • Menjaga pola makan dengan mengonsumsi makanan bergizi seimbang.

  • Menghentikan kebiasaan merokok yang dapat memicu batuk kronis.

  • Mengobati masalah kesehatan penyebab adanya peningkatan tekanan di panggul, seperti mengobati sembelit atau batuk kronis.

Faktor Risiko Turun Peranakan

Ilustrasi salah satu faktor risiko turun peranakan adalah kelahiran normal lebih dari sekali. Foto: Pexels

Dikutip dari Mayo Clinic, ada beberapa faktor yang dapat memengaruhi kekuatan otot panggul, sehingga meningkatkan risiko terjadinya turun peranakan, yaitu:

  1. Faktor usia. Seiring bertambahnya usia, elastisitas dan kekuatan jaringan penyangga di dalam panggul dapat berkurang, sehingga berisiko mengalami turun peranakan.

  2. Penurunan kadar hormon estrogen saat memasuki masa menopause. Kondisi ini dapat menyebabkan berkurangnya kekuatan otot panggul, ligamen, dan jaringan penyangga rahim.

  3. Riwayat melahirkan bayi secara pervaginam (kelahiran normal) lebih dari satu kali. Proses persalinan dapat menyebabkan lemahnya otot panggul dan merusak jaringan penyangga rahim.

  4. Kegemukan atau memiliki berat badan yang berlebihan dapat memberikan tekanan ekstra pada otot panggul dan jaringan penyangga, sehingga berpotensi menyebabkan penurunan rahim dari posisi normalnya.

  5. Kondisi medis tertentu, seperti batuk kronis dan sembelit kronis. Tekanan yang dihasilkan dari batuk berulang atau mengejan saat buang air besar dapat menyebabkan lemahnya otot panggul dan ligamen.

  6. Riwayat operasi panggul. Wanita yang pernah menjalani operasi panggul sebelumnya memiliki risiko lebih tinggi untuk mengalami peranakan turun.

  7. Faktor genetik. Riwayat keluarga dengan kelainan jaringan ikat yang lemah atau riwayat peranakan turun dapat meningkatkan risiko kondisi ini.

Gejala Turun Peranakan

Ilustrasi seorang wanita yang mengalami nyeri di panggul dan perut. Foto: Pexels

Umumnya, turun peranakan ringan sering terjadi setelah melahirkan dan tidak menimbulkan gejala apa pun. Namun, pada kondisi turun peranakan yang lebih berat, ada beberapa gejala yang dapat muncul, seperti:

  • Nyeri di panggul, perut, dan punggung bagian bawah berat.

  • Sulit buang air kecil dan kandung kemih terasa penuh.

  • Sulit mengontrol buang air kecil atau disebut inkontinensia urine.

  • Kesulitan buang air besar.

  • Rasa mengganjal di vagina seperti sedang duduk di atas bola kecil.

  • Jaringan rahim tampak menonjol ke vagina.

  • Rasa tidak nyaman dan tertekan di panggul atau punggung bawah.

  • Keluar darah atau cairan dari vagina.

Pengobatan Turun Peranakan

Ilustrasi salah satu pengobatan turun peranakan untuk kasus yang parah adalah tindakan operasi. Foto: Pexels

Pengobatan untuk turun peranakan pada dasarnya tergantung pada tingkat keparahan kondisi pasien. Oleh sebab itu, penting berkonsultasi dengan dokter terlebih dahulu untuk menentukan pilihan pengobatan yang tepat.

Dalam kebanyakan kasus, dokter dapat merekomendasikan perawatan non-bedah untuk mengatasi turun peranakan ringan, seperti perubahan gaya hidup, terapi tertentu, dan sebagainya. Namun, pada kasus yang parah, dokter mungkin menyarankan tindakan pembedahan.

Perawatan Non-Bedah

Perawatan non-bedah untuk mengatasi peranakan turun meliputi:

  • Perubahan gaya hidup, seperti menurunkan berat badan jika mengalami obesitas, menghindari mengangkat beban yang berlebihan, dan konsumsi makanan sehat.

  • Senam kegel, yaitu latihan untuk memperkuat otot-otot panggul dan vagina. Latihan ini dapat membantu meningkatkan fungsi struktur panggul dan mengurangi gejala peranakan turun.

  • Penggunaan pessary, yaitu alat yang dimasukkan ke dalam vagina untuk membantu mendorong dan menstabilkan posisi rahim.

  • Terapi estrogen vaginal dapat digunakan untuk meningkatkan regenerasi dan kekuatan jaringan vagina. Terapi ini bermanfaat untuk mengurangi gejala peranakan turun.

Perawatan Bedah

Sementara itu, dokter dapat merekomendasikan tindakan bedah untuk mengatasi kondisi turun peranakan yang berat, seperti:

  • Suspensi rahim, yaitu tindakan bedah untuk mengembalikan rahim ke posisi semula dengan cara menyambungkan kembali ligamen panggul.

  • Histerektomi, yaitu prosedur pengangkatan rahim melalui perut atau vagina. Tindakan ini umumnya direkomendasikan dokter jika kondisi turun peranakan sangat parah dan pasien tidak berencana untuk memiliki anak lagi.

Komplikasi Turun Peranakan

Ilustrasi seseorang bisa mengalami komplikasi turun peranakan. Foto: Pexels

Turun peranakan sering kali menyebabkan gangguan pada organ panggul lainnya. Kondisi ini bisa menimbulkan komplikasi tertentu, seperti:

  • Sistokel atau prolaps anterior, yaitu kondisi yang terjadi akibat melemahnya jaringan ikat pada kandung kemih dan dinding vagina. Kondisi ini dapat menyebabkan kandung kemih menonjol ke dalam vagina.

  • Rektokel atau prolaps vagina posterior, yaitu kondisi yang terjadi ketika jaringan ikat yang memisahkan rektum dan vagina melemah, sehingga menyebabkan rektum menonjol ke dalam vagina. Kondisi ini dapat menyebabkan penderita kesulitan buang air besar.

Artikel ini telah direview oleh dr. Mikhael Yosia, BMedSci, PGCert, DTM&H.

(SFR)

Frequently Asked Question Section

Apa yang dimaksud dengan peranakan turun?

chevron-down

Peranakan turun adalah penurunan sebagian atau seluruhnya bagian rahim ke vagina.

Apa saja gejala peranakan turun?

chevron-down

Nyeri di panggul, perut, dan punggung bagian bawah berat, sulit buang air kecil dan kandung kemih terasa penuh, sulit mengontrol buang air kecil atau disebut inkontinensia urine, kesulitan buang air besar, dan lain-lain.

Apa faktor penyebab peranakan turun?

chevron-down

Beberapa faktor penyebabnya antara lain proses persalinan yang terlalu lama, kehamilan dini, dan kelebihan berat badan.