Kumparan Logo
Konten Media Partner

Radang Usus Buntu: Penyebab, Gejala, Diagnosis, dan Pengobatannya

Kata Dokter

ยทwaktu baca 4 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Radang usus buntu biasanya ditandai dengan munculnya kram perut pada bagian bawah. Foto: Pexels.com
zoom-in-whitePerbesar
Radang usus buntu biasanya ditandai dengan munculnya kram perut pada bagian bawah. Foto: Pexels.com

Radang usus buntu (atau sering juga dikenal dengan apendisitis) adalah jenis gangguan yang umum terjadi pada orang yang berumur 10-30 tahun. Kondisi ini mengakibatkan munculnya rasa sakit perut pada bagian kanan bawah.

Usus buntu atau apendiks adalah kantong kecil yang melekat pada usus. Ketika usus buntu tersumbat, bakteri akan berkembang biak di dalamnya, sehingga menyebabkan pembengkakan dan radang dalam perut.

Jika tidak segera ditangani, radang usus buntu dapat mengakibatkan kantong ini pecah. Hal tersebut kemudian akan mengakibatkan bakteri tersebar ke seluruh rongga perut dan bisa menyebabkan komplikasi yang serius dan fatal.

Penyebab dan Faktor Risiko Radang Usus Buntu

Radang usus buntu terjadi akibat adanya penyumbatan pada lapisan usus buntu. Penyumbatan ini menyebabkan penumpukan bakteri pada bagian tersebut hingga akhirnya menginfeksi dan menimbulkan peradangan.

Namun, sampai saat ini, penyebab penyumbatan pada apendiks belum diketahui dengan pasti. Meskipun demikian, banyak ahli percaya bahwa penumpukan bisa diakibatkan oleh:

  • Penumpukan kotoran yang mengeras dalam perut

  • Kantung limfoid yang membesar

  • Cacing-cacing parasit di saluran pencernaan, seperti infeksi cacing kremi, dan lain-lain

  • Gangguan saluran pencernaan tertentu, seperti tumor pada perut

Radang usus buntu bisa menyerang siapa saja. Namun, sebagian orang dengan kondisi berikut lebih mungkin terkena radang usus buntu:

  • Remaja dan orang dewasa berumur 20-an. Menurut data National Institute of Diabetes and Digestive and Kidney Diseases, orang pada rentang usia ini lebih banyak mengalami radang usus buntu dibandingkan kelompok usia lainnya.

  • Laki-laki lebih banyak terserang penyakit radang usus buntu dibandingkan wanita. Dikutip dari jurnal World Journal of Surgery karya Wan-Ching Lien, dkk, penderita usus buntu pria juga lebih rentan terkena penyakit radang usus buntu berulang dibandingkan perempuan.

  • Faktor genetik.

Gejala Radang Usus Buntu

Salah satu gejala radang usus buntu adalah gangguan pada sistem pencernaan. Foto: Pexels.com

Radang usus buntu awalnya ditandai dengan gejala berupa sakit perut biasa yang kemudian berkembang menjadi sangat sakit saat bergerak dan batuk.

Setelah itu, ada beberapa gejala lainnya yang muncul akibat adanya radang usus buntu. Dalam dari jurnal Appendicitis karya Jones MW, berikut adalah gejala-gejala dari radang usus buntu:

  • Kehilangan nafsu makan

  • Gangguan pada sistem pencernaan

  • Mual dan muntah

  • Pembengkakan pada bagian perut tertentu

  • Demam ringan

Selain gejala-gejala di atas, sebagian kecil penderita usus buntu juga akan merasakan gejala lainnya, seperti:

  • Diare

  • Sembelit

  • Perut kembung

  • Sering ingin buang air besar

Diagnosis Radang Usus Buntu

Apabila merasakan sejumlah gejala radang usus buntu seperti yang telah disebutkan sebelumnya, segera periksakan ke dokter untuk melaksanakan pemeriksaan secara medis.

Diagnosis radang usus buntu biasanya akan dilakukan dengan cara melakukan wawancara riwayat kesehatan, penggunaan obat-obatan, dan pemeriksaan fisik dengan cara menekan area perut yang terasa nyeri. Selain itu, dokter juga akan melakukan pemeriksaan penunjang, seperti:

  • Tes darah. Apabila hasil tes menyebutkan bahwa jumlah sel darah putih lebih banyak, artinya terdapat infeksi dalam tubuh

  • Tes urine, yakni jenis tes yang digunakan untuk menghapus kemungkinan gejala lain, seperti infeksi saluran kemih atau batu ginjal

  • USG perut, yaitu tes yang dilakukan untuk melihat gambar organ dalam perut

  • CT scan atau MRI, yaitu pemeriksaan untuk melihat organ dalam perut lebih jelas

  • Rontgen dada, yakni pemeriksaan dengan tujuan untuk memastikan nyeri tidak disebabkan oleh gangguan pada saluran pernapasan

  • Pemeriksaan panggul, yaitu tes yang dilakukan untuk mengetahui apakah ada masalah pada organ reproduksi

  • Tes kehamilan, yakni pemeriksaan yang dilakukan untuk menghapus kemungkinan rasa nyeri diakibatkan oleh kehamilan ektopik

Cara Mengobati Usus Buntu

Sebagian besar usus buntu diobati dengan operasi pengangkatan usus buntu. Foto: Unsplash.com

Ada sejumlah penanganan medis yang akan dilakukan untuk mengobati usus buntu. Sebagian besar kasus usus buntu diobati menggunakan perawatan medis, seperti:

  • Penggunaan obat antibiotik untuk mengobati infeksi yang mengakibatkan radang usus buntu. Biasanya, antibiotik diberikan melalui infus.

  • Operasi pengangkatan usus buntu atau apendektomi yang dilakukan untuk mengangkat bagian usus buntu yang meradang. Operasi dilakukan untuk menghindari pecahnya organ tersebut.

Selama melakukan perawatan medis, penderita usus buntu harus melakukan beberapa hal yang dapat mendukung proses pemulihan, di antaranya:

  • Banyak istirahat

  • Perbanyak asupan cairan

  • Berjalan-jalan santai setiap hari

  • Hindari aktivitas berat, seperti olahraga berat dan mengangkat beban

  • Jika sudah dilakukan operasi, jagalah kebersihan jahitan bekas operasi dengan baik.

Artikel ini telah direview oleh dr. Mikhael Yosia, BMedSci, PGCert, DTM&H.

(SAI)

Frequently Asked Question Section

Apa itu usus buntu?

chevron-down

Usus buntu atau apendiks adalah kantong kecil yang melekat pada usus.

Apa penyebab orang terkena usus buntu?

chevron-down

Radang usus buntu terjadi akibat adanya penyumbatan pada lapisan usus buntu.

Di mana rasa sakit usus buntu?

chevron-down

Kondisi radang usus buntu menyebabkan rasa nyeri pada perut bagian kanan bawah.