Konten dari Pengguna

Balaskan Dendam Kami, Garuda Muda!

Katarak ID

Katarak ID

clock
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Katarak ID tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Balaskan Dendam Kami, Garuda Muda!
zoom-in-whitePerbesar

Masih terngiang jelas dalam ingatan bagaimana tandukkan kepala Asraruddin Putra Omar menghujam tajam ke pojok kanan gawang Kurnia Meiga pada laga final cabang olahraga sepak bola Sea Games 2011 Jakarta yang mempertemukan Indonesia vs Malaysia. Sebuah gol jahanam pemupus asa jutaan rakyat Indonesia yang ingin menyaksikan timnas garuda muda berjaya di kandang sendiri, sebuah gol yang menjadi anomali dari permainan apik nan mengesankan Andik Vermansyah dan kolega di sepanjang turnamen, sebuah gol yang seketika langsung membungkam seisi Stadion Utama Gelora Bung Karno (SUGBK) yang kala itu dijubeli oleh hampir seratus ribu pasang mata.

Tandukan kepala Asraruddin di Senin malam kelabu itu memang bukanlah gol penentu kemenangan tim harimau Malaya, namun gol bedebah tersebutlah yang memaksa wasit harus menyudahi laga prestisius itu dengan adu tendangan penalti yang akhirnya dimenangi oleh anak asuh Ong Kim Swee dengan skor 3-4. Dan mendaku Malaysia sebagai juara, di kandang kita!

Air mata duka kembali tumpah di SUGBK malam itu, karena pada tahun sebelumnya timnas senior Indonesia harus menanggung malu di tempat yang sama, dengan musuh yang sama dan di laga prestisius yang sama namun pada turnamen berbeda. Malaysia juara Suzuki AFF Cup 2010 di hadapan bolamata seluruh rakyat Indonesia setelah mengandaskan perlawanan sengit Firman Utina dan kawan-kawan.

Saya, Anda dan siapapun yang menggantungkan asa pada sepak bola nasional pasti tak akan pernah sudi melihat Malaysia, Negara yang katanya serumpun namun acapkali berulah dengan tingkah konyolnya, mengangkat tropi juara di kandang sang garuda. Kami sebagai suporter bisa saja melupakan hal pahit itu walaupun dengan upaya ekstra, namun rasa dendam tak akan bisa hilang begitu saja sebelum terbayar lunas.

Kini memori kelam itu telah usang di makan waktu, karena dengan alasan apa dan bagaimanapun, meratapi kepedihan dalam rentan waktu yang lama adalah sebuah kebodohan yang hakiki. Biarlah kenangan pahit itu menjadi bumbu pedas bahwa kita, Bangsa Indonesia yang besar dengan segala hal yang dipunya pernah dibikin malu dua tahun berturut oleh saudara serumpun yang kerap mengangkat dada jika berhadapan dengan kita.

Tak ada hal yang lebih mulia selain membalas kepahitan dengan rasa manis, kata Muhammad ibn Abdullah, Rasul agung umat Islam 14 abad silam. Tapi yang harus digarisbawahi, pahit ini bukan soal perlakuan antar individu dan atau pergolongan yang harus pakai etika dan berimbas pada pahala/dosa di hadapan yang maha kuasa. Ini soal sepak bola dengan berbagai pengecualian dan pengejawantahan yang dimilikinya. Dalam rumus sepak bola tak mengenal istilah pahala/dosa, dan kadang dalam sepak bola juga tak mengenal kata etika dan belas kasih, yang ada hanya nafsu saling mengalahkan dalam balutan sportifitas, dan jika perlu saling “bunuh-pun” dilegalkan demi sebuah kemenangan.

Kita, bangsa Indonesia pernah dibikin malu dua tahun berturut oleh Malaysia di rumah sendiri. Sekarang, saat ini si saudara serumpun itu sedang bertindak sebagai empunya rumah dari hajat akbar olahraga dua tahunan seluruh Negara Asia Tenggara. Biarlah dia menggondol semua tropi dari cabang olahraga lain dan menjadi juara umum seperti yang pernah kita lakukan pada Sea Games Jakarta 2011 lalu, tapi jangan biarkan dia melenggang santai merebut tropi paling prestesius bernama medali emas sepak bola. Jegal dia, hentikan langkah dia, permalukan dia seperti apa yang pernah dia lakukan kepada kita enam tahun lalu!

Katakanlah ini sebagai misi pembalasan dendam kesumat atas si saudara serumpun bernama Malaysia, dan peluang untuk itu terbuka lebar saat ini. Jika kita mampu memenangkan pertandingan terakhir di grup B Kamis esok melawan tim lemah Kamboja, satu tiket semifinal sudah dipastikan dalam genggaman. Dan tinggal menghitung angka dan jumlah selisih gol apakah kita menjadi juara grup atau runner up, yang pasti lawan yang sudah menunggu di babak empat besar itu adalah dua tim antara Malaysia atau Myanmar.

Tak peduli apakah kita jadi juara grup dan atau keluar sebagai runner up grup B, persetan pula dengan lawan yang akan dihadapi di laga semifinal jika kita mampu lolos nanti. Melawan Myanmar atau Malaysia sekalipun tentu punya keistimewaan masing-masing, jika Tuhan menakdirkan Malaysia-lah lawan kita di semifinal, tentu akan sangat menyenangkan rasanya jika mampu mempermalukan tuan rumah di hadapan publiknya sendiri di laga sebelum final, yang artinya kita akan memupus harapan dia di sebelum laga yang benar-benar puncak. Terlebih jika hal itu dilakukan di partai final, sakit dia pasti akan serupa seperti apa yang pernah kita rasakan dulu.

Kesampingkan sejenak isu “tamu dilarang menang”, karena sejatinya kita semua telah mafhum si empunya rumah pasti akan menghalalkan segala cara demi sebuah titel juara. Jangan pernah kotori tenaga dan pikiran kita untuk melawan psywar murahan yang pasti akan dihembuskan sekencang mungkin oleh publik Malaya sana. Untuk sebelas ksatria yang dilabeli lambang garuda di dada, hanya fokuslah kalian pada 2X45 menit plus tambahan waktu di atas hijau, karena tak ada hal mustahil jika diiringi dengan usaha dan doa yang maksimal.

Lawan kemustahilan dengan semangat membara, rebut (kembali) emas cabang olahraga sepak bola yang telah lama tak singgah di pangkuan ibu pertiwi, permalukan Malaysia di hadapan publiknya sendiri seperti apa yang telah mereka lakukan dulu. Maka dengan itu, kami seluruh rakyat Indonesia akan lebih dari sekedar bangga, jika asa itu benar-benar jadi nyata.

Forza Garuda Muda, balaskan dendam kami di tanah Malaya!

Ditulis oleh; Syamsu Rijal, pecinta sepak bola Nasional asal Batujaya - Karawang. Dapat dijumpai di twitter dalam akun @idhay69, dan facebook dengan username Rijal (Abu Ghaida)