Konten dari Pengguna

Menyoal Kesetiaan dalam Sepak Bola, serta Korelasi antara Messi dan Dedi Mulyadi

Katarak ID

Katarak ID

clock
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Katarak ID tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Menyoal Kesetiaan dalam Sepak Bola, serta Korelasi antara Messi dan Dedi Mulyadi
zoom-in-whitePerbesar

Bicara tentang sepak bola, tak melulu harus berkutat dengan kata menang dan kalah. Lebih dari itu, pertandingan 11 vs 11 di hamparan rumput persegi berdiameter 105x68 itu juga menyajikan drama layaknya sebuah kisah telenovela. Di tiap episodenya sepak bola kerap menghadirkan intrik, emosi, air mata, canda tawa, pengkhianatan serta arti kata sebuah kesetiaan.

Menyoal pengkhianatan dan kesetiaan pemain dalam olah raga si kulit bundar, keduanya punya konsekuensi sama besar yang mau tak mau harus diterima ketika pemain yang bersangkutan memutuskan untuk memilih jalan demi kelangsungan karirnya di atas lapangan hijau. Karena dalam sepak bola keterikatan pemain tak hanya melibatkan sosok dia pribadi dan klub yang dibelanya, tapi juga para suporter fanatik yang bisa saja bertindak di luar batas kewajaran.

Sudah banyak pesepakbola yang dicap sebagai pengkhianat akibat kegemarannya berpindah dari satu klub ke klub lain, terlebih klub baru yang dibelanya itu adalah rival dari klub lama atau suporter fanatiknya. Namun tak sedikit pula nama yang tetap setia bertahan di satu klub dengan alasan berbagai hal.

Karena tak menutup kemungkinan di saat pemain sedang berada di level terbaiknya, tawaran akan datang silih berganti dari klub lain yang tentunya lebih menggiurkan secara nama besar serta kisaran gaji yang akan diterima. Dan hanya mereka yang punya kesetiaan level tinggilah yang akhirnya mampu bertahan dari semua godaan yang maha menjanjikan itu.

Sabut saja nama Atep Rizal, pemain yang ketika itu sedang berada di top performence-nya tega berkhianat dari klub lamanya Persija Jakarta, menuju klub rival Jakmania (julukan suporter Persija) yaitu Persib Bandung. Tapi kita semua juga pasti mengenal nama Ismed Sofyan, pemain yang tetap setia pada Jakmania di tengah badai yang sedang melanda Persija.

Atau jika kita mau melihat ke arah peradaban di mana sepak bola lebih terkesan maju dan modern seperti di eropa sana, pengkhianatan dan kesetiaan pemain terhadap satu klub kerap menjadi bumbu penyedap bagi keberlangsungan sepak bola itu sendiri.

Publik Catalan terutama suporter fanatik Barcelona pasti tak akan pernah melupakan nama seorang Luis Figo, pemain yang pada masa emasnya mampu mengantarkan El-barca merengkuh 7 tropi prestesius dari medio 1995 sampai 2000. Kala itu namanya digadang-gadang bakal menjadi pemain legenda yang akan tetap bertahan di Camp Nou sampai akhir karirnya, setidaknya itulah yang menjadi harapan suporter Barcelona saat itu.

Tapi apa mau dinyana, untung tak dapat diraih malang tak dapat ditolak. Dengan berbekal godaan uang berlimpah plus nama besar Los Galacticos jilid I, Figo akhirnya rela menasbihkan dirinya sebagai pengkhianat abadi publik Catalan yang sudah kadung mencintainya. Ia akhirnya hengkang ke Real Madrid dengan mahar fantastis serta menjadikannya sebagai pemain termahal dunia pada masa itu.

Apa yang terjadi setelahnya, kita semua bisa melihat bagaimana perlakuan suporter Barcelona ketika Figo kembali bermain di Camp Nou namun dengan seragam tim rival, dia dicemooh, diintimidasi, dilempari uang koin sebagai sindiran bahwa dirinya dianggap matre, bahkan pernah dalam satu pertandingan ia dilempari kepala babi sebagai bentuk pembalasan dari publik Catalan bagi siapapun yang telah berkhianat.

Perlakuan suporter Barcelona pada Luis Figo saat itu secara kasat mata memang terkesan berlebihan, tapi itulah sepak bola, sebuah olah raga yang tak hanya menyajikan sebuah tontonan semata namun juga drama dengan segala intriknya. Coba tengok kelakuan fans Liverpool ketika Fernando Torres memutuskan untuk hijrah ke Chelsea, atau lihat bagaimana perlakuan Bobotoh (suporter Persib Bandung) terhadap Eka Ramdani saat dirinya hengkang ke Persisam Samarinda. Fanatisme suporter terhadap pemain sepak bola adalah hal yang absurd, akan sulit menemukan titik pembatas antara rasa cinta dan benci. Hari ini si pemain bisa saja dipuja setengah mati, namun bisa saja esok hari ia dibenci habis-habisan lantaran berkhianat.

Kembali ke Barcelona. Bagi publik Catalan cukuplah hanya Luis Figo dan beberapa nama pemain sebelumnya yang menjadi public enemy di Camp Nou, semoga saja pengkhianatan serupa tak diikuti oleh Lionel Alfréd Messi.

Karena seperti yang kita tau bersama, Lionel Messi adalah sosok pemain setia bagi el-Barca (setidaknya sampai artikel ini ditulis). Bukan tanpa tawaran menggiurkan dari berbagai klub besar eropa tentunya, karena dengan kemampuan magis serta tehnik luar biasa dalam mengolah si kulit bundar mustahil tak ada klub yang coba menggodanya untuk hengkang dar Camp Nou.

Namun di tengah tawaran super menggiurkan itu, Messi tetap bertahan dan menjadi salah satu ikon kebanggaan klub Catalan hingga kini. Karena saat ini, Barcelona tanpa Messi bukanlah Barcelona yang sesungguhnya, pun begitu sebaliknya.

* * *

Mencari korelasi antara Dedi Mulyadi (Bupati Purwakarta yang digadang-gadang bakal menjadi salah satu calon gubernur Jawa Barat) bila disandingkan secara apple to apple dengan Lionel Messi memang sulit, karena mereka hidup dalam dunia yang berbeda. Tapi jika dikaitkan menyoal kesetiaan, keduanya sesama punya kisah yang hampir serupa.

Lahir sebagai politisi dari partai berlambang beringin, serta saat ini menjabat sebagai ketua Dewan Pimpinan Daerah di partai yang sama, tak secara otomatis menasbihkan dirinya sebagai sosok terpilih yang akan mewakili partainya menuju arena pemilihan gubernur Jawa Barat 2018 mendatang. Padahal sejak jauh hari sebelumnya, Dedi bersama timnya telah melakukan sosialisasi ke berbagai pelosok daerah guna mempopulerkan diri sebagai salah satu kandidat yang akan ikut bertarung dalam perebutan kursi Jawa Barat 1.

Entah apa yang ada di benak para petinggi partai tempat Dedi bernanung, hingga tega "mengacuhkan" salah satu kader terbaiknya yang berniat maju mewakili nama besar partainya di ajang se-prestisius pemilihan gubernur. Dan yang lebih menyakitkan baginya, partai yang besar di Jawa Barat karena salah satunya akibat jerih payahnya itu, justru memberikan mandat pada bakal calon gubernur lain yang notabene adalah seteru yang punya peluang sama besar dengan dirinya untuk meraih kemenangan.

Alih-alih kecewa dengan keputusan partai yang tega meninggalkan namanya sebagai pesakitan, Dedi justru tetap setia bernaung di bawah rindangnya pohon beringin. Dalam salah satu statemennya belakangan ini ia berujar, "saya memahami sikap Dewan Pimpinan Pusat partai yang akhirnya memberikan mandat pada calon lain, dan saya anggap ini adalah proses pendewasaan politik. Karena itu, saat ini saya akan memilih fokus menjalankan doktrin kekaryaan seperti yang telah digariskan partai". Seperti yang dikutip dari merdeka.com edisi 7 November 2017.

Kebesaran hati Dedi Mulyadi pada partainya adalah sesuatu yang amat langka di negeri ini, padahal bisa saja ia hengkang menjadi kader partai lain guna mendapat mandat sebagai salah satu bakal calon gubernur Jawa Barat mendatang. Tapi semua itu tak dilakukannya atas dasar setia dan pengabdiannya terhadap satu bendera, meski secara sengaja dan kasat mata ia telah ditinggalkan secara tega oleh gerbong yang telah dibangunnya sendiri.

Walaupun sepak bola kadang senang berpolitik, namun politik dan sepak bola tetaplah sesuatu yang berbeda. Politik praktis akan lebih sulit ditebak ketimbang strategi total football ataupun catenaccio dalam sepak bola. Sesuatu yang awalnya terkesan mustahil dalam dunia politik bisa saja berubah 180 derajat hanya dalam hitungan sepersekian detik.

Saat ini Dedi Mulyadi mungkin sedang merasa ditinggalkan oleh gerbong yang telah dibangun oleh jerih payahnya sendiri, namun tak menutup kemungkinan esok atau lusa akan ada gerbong lain yang siap memberikan "tumpangan" baginya guna meniti jalur menuju bursa pemilihan gubernur. Walaupun untuk pindah ke gerbong lain rasa-rasanya tak mungkin dilakukan Dedi, karena jauh hari sebelumnya ia telah menyatakan akan loyal terhadap partai dan menghormati apapun keputusan pusat, namun sekedar "menumpang" gerbong lain mungkin bisa saja dilakukan demi sampai ke tujuan yang sama.

Robert Frost dalam salah satu puisinya yang cukup terkenal berjudul The Road not Taken, menuliskan di bait paling terakhir, "Two roads diverge in a wood. And I-| I took the one less traveled by | And that has made all the difference. Akan ada banyak persimpangan dalam hidup, dan setiap persimpangan yang dipilih akan memberikan perbedaan serta konsekuensinya masing-masing.

Dedi Mulyadi tetaplah seorang Dedi Mulyadi, dia bukanlah seorang Cristiano Ronaldo yang tega meninggalkan Manchester United menuju Real Madrid demi kelangsungan karir pribadinya menuju tingkat yang lebih tinggi.

Penulis adalah seorang football writer yang sedang belajar mendalami politik jelang bursa pemilihan Jawa Barat mendatang, dapat ditemui di twitter dalam akun @lordrijal69