Mungkin Sebaiknya Djanur (Kembali) ke Tanah Suci

Tulisan dari Katarak ID tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Bagi seorang suporter sepak bola, tak akan mudah tentunya menerima kenyataan jika gol tim kesayangannya dianulir oleh wasit, terlebih bukan hanya satu gol yang putuskan tidak sah lantaran (dianggap) offside oleh sang juru adil lapang hijau, tapi dua!
Bobotoh (julukan suporter fanatik Persib Bandung), pasti tak akan pernah melupakan kejadian Minggu malam saat tim kesayangannya harus tertunduk lesu akibat kalah 1-3 atas tuan rumah Madura United pada pertandingan pekan ke-13 Liga Go-Jek Traveloka di stadion Ratu Pamelingan, Pamekasan, Madura (9/7/17). Bukan soal kekalahan semata yang tak akan mereka lupa, tapi malam itu tim kebanggaan warga Bandung dan Jawa Barat tersebut dipaksa harus kalah dengan cara yang "tak wajar".
Ketidakwajaran pertandingan yang dipimpin oleh wasit Kusni itu sebenarnya sudah nampak terlihat sejak gol pertama Peter Odemwingie lewat titik putih pada menit ke-21, hadiah penalti diberikan wasit kepada Madura United lantaran Dedi "Dado" Kusnandar dianggap melanggar Greg Nwokolo di area kotak terlarang. Padahal jika dilihat melalui tayangan ulang televisi, tidak ada kontak berarti antara keduanya, yang terlihat hanya Dado berusaha melindungi bola dan secara tak sengaja menyentuh kaki Greg yang akhirnya mengakibatkan Greg terjatuh.
Setelah melakukan keputusan kontroversial itu, bukannya introspeksi diri, wasit Kusni justru kembali membuat Bobotoh murka terhadap kepemimpinannya di lapangan hijau malam itu. Sepasang gol Persib yang dicetak Raphael Maitimo pada babak pertama dan Michael Essien di pertengahan babak kedua tak disahkan oleh wasit asal Samarinda tersebut. Tak pelak cacian Bobotoh yang kecewa atas kinerja wasit yang dianggap telah merugikan tim kesayangannya itu bergemuruh lewat sorakan di tribun utara stadion Ratu Pamelingan yang memang disediakan panpel untuk suporter Persib. Cacian Bobotoh terhadap wasit bukan hanya menggema di stadion saja, di twitter umpatan wasit gobl*g bahkan sampai menjadi Trending Topik Indonesia dalam beberapa jam seusai pertandingan.
Namun, apakah kekalahan Persib Bandung atas tuan rumah Madura United semata-mata akibat ketidakbecusan wasit Kusni selaku sang juru adil pada pertandingan tadi malam?
Baiklah, mari kita coba sedikit analisa data dan fakta yang terjadi di lapangan. Sebenarnya Persib menang dalam jumlah penguasaan bola dengan persentase 59% berbanding 41%, namun secara intensitas serangan anak asuh Djajang Nurjaman itu masih kalah agresif atas Madura United. Total ada sembilan kali tembakan meluncur ke gawang I Made Wirawan lewat kaki Peter Odemwingie dan kolega, sementara Atep dan kawan-kawan hanya mampu melesakkan enam kali tembakan ke jantung pertahanan lawan. (sumber: liga-indonesia.id). Artinya bahwa, pola serangan yang dilancarkan tim asuhan Gomes de Oliveira jauh lebih berbahaya ketimbang Persib di bawah racikan sir Djanur (sapaan akrab Djajang Nurjaman).
Duet striker Peter Odemwingie bersama Greg Nwokolo jauh lebih mematikan bagi Madura United ketimbang apa yang dimiliki Persib di lini serang, sampai pekan ke-13 saja Laskar Sapeh Kerab berhasil menjaringkan 25 gol ke gawang lawan dan 16 di antaranya dicetak oleh duet maut Odemwingie - Greg, sementara Maung Bandung hanya mampu menjebol jala lawan sebanyak 12 kali. Bicara soal konsistensi permainan-pun tak berbeda jauh, dari 13 laga yang telah dijalani Persib hanya mampu meraih lima kali kemenangan, empatimbang dan sisanya berakhir dengan kekalahan. Madura United masih unggul dengan tujuh kemenangan.
Dengan sederet fakta yang telah diungkap di atas, saya rasa wajar jika Persib harus menelan kekalahan atas Madura United di pertandingan malam kemarin. Dan menyoal kepemimpinan wasit Kusni yang dianggap sebagian orang berat sebelah, saya rasa juga ada benarnya, namun itu bukan satu-satunya andil yang membuat Persib Bandung harus menelas kekalahan.
Jika pada pertandingan sebelumnya Maung Bandung tampil begitu perkasa saat bersua PSM Makasar di kandang, bisa saja hal itu karena pengaruh besar dukungan luar biasa Bobotoh. Dan ingat, pada saat itu Persib sedang tak didampingi pelatih kepala Djajang Nurjaman yang sedang menjalankan ibadah umroh ke tanah suci. Posisi Djanur kala itu digantikan oleh Herrie Setyawan selaku asisten pelatih. Bisa saja racikan Herrie lebih mumpuni ketimbang Djanur, dan bisa saja di tanah suci sana doa Djanur untuk kemenangan tim anak asuhnya di ijabah oleh yang maha kuasa.
Andai saja pada pertandingan malam ini Djanur masih berada di tanah suci, dan Herrie yang meracik strategi untuk Atep dan kawan-kawan, mungkin saja hasil yang tersaji di lapangan akan berbeda. Dan mungkin saja kepemimpinan wasit Kusni akan menjadi adil seadil-adilnya karena pengaruh doa Djanur di tanah suci sana.
