Obituari Untuk Bapak, si Keras Kepala yang (Akhirnya) Menyerah Melawan Rasa Sakit

Tulisan dari Katarak ID tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Karawang, 10 Maret 2018 sekira jam 08:50 Wib dan atau bertepatan dengan Sabtu 22 Jumadil Akhir 1439 dalam kalender Hijriah. Bapak menghembuskan napas terakhirnya di dunia fana. Dan setelahnya gelegar petir serta deras hujan mengiringi kepergiannya menuju alam kekal abadi nan baqa.
Saya yang ketika itu tepat berada di samping kirinya berusaha membisikkan dua kalimat syahadat, berharap ia ikut melafalkan kalimat suci itu untuk mengantar kepergiannya. Tapi nihil, Bapak tetap bisu, hanya gemuruh lirih yang terdengar dari bibirnya yang renta karena menua. Mungkin ia sedang menikmati sakitnya tarikan sang penjagal nyawa yang diutus Allah untuk menjemputnya.
Walau mulutnya tak berucap, tapi saya yakin, setidaknya walaupun tak benar-benar yakin, saya berharap Bapak mengikuti ucapan syahadat dalam hati.
Tak pernah tercatat dengan akurat, berapa puluh tahun Bapak hidup melawan kerasnya dunia. Karena kata beliau (sewaktu masih bugar) orang tuanya alfa mencatat kapan tanggal, bulan serta tahun persis saat ia dilahirkan.
Yang beliau ingat hanya, ketika Jepang pertama kali memijakkan kakinya di Indonesia, ia sudah tumbuh menjadi anak kecil yang mulai menikmati masa kecilnya dengan gembira di kota kelahirannya, Purwakarta.
Deras hujan serta gelegar petir di luar sana tak sebanding dengan dentuman keras yang menghantam lubuk hati saya pagi itu. Jika saja tak malu, mungkin tangisan sejadi-jadinya tangis sudah meledak lantaran belum siapnya saya melepas kepergian Bapak.
Tapi apa boleh bikin, Allah lebih sayang Bapak, sang Maha Kuasa mungkin sudah tak sanggup lagi menahan rindu untuk segera bertemu. Karena sedegil apapun saya coba melawan takdir untuk menunda kepergian Bapak, ketentuan Allah tetap akan berlaku lebih keras serta tegas dari apapun juga.
Lebih dari satu dasawarsa Bapak terkulai lemah karena komplikasi penyakit yang ia derita, dan selama itu juga tak pernah sekalipun ia mau menginjakkan kakinya di rumah sakit. Katanya, "gak mau di rawat, di rumah sakit gak enak!".
Bahkan ketika kondisi fisiknya sudah kian menurun akibat penyakitnya makin memburuk di 4 bulan terakhir. Tetap saja, Bapak tak pernah mau dibawa ke rumah sakit untuk diopname. "Udah gak punya harapan buat sembuh lagi, sekarang mah cuma nunggu ajal datang aja", kata Bapak di satu kesempatan.
Bagi orang yang baru mengenal watak Bapak, sudah pasti akan dengan entengnya mengecap saya sebagai anak durhaka yang tak mau mengurusi penyakit orang tua dengan membawanya ke rumah sakit. Tapi saya yakin, bagi orang yang sudah lama kenal dan tau betul bagaimana kerasnya watak Bapak, pasti akan maklum dengan keadaan itu.
Bapak adalah orang paling keras kepala yang pernah saya kenal, jika ia sudah menetapkan A dalam keputusannya, tak ada seorangpun yang sanggup menggugat ketetapan itu menjadi B atau C. Ketetapan Bapak adalah sabda suci yang (mau tak mau) harus diikuti oleh anak-anak dan seluruh anggota keluarga.
Jangankan berusaha untuk mengubah ketetapan, sekadar membantah pun rasa-rasanya kami tak punya nyali untuk itu. Jujur, kami tak punya rasa takut akan beliau, karena semasa hidup Bapak tak pernah sekalipun berlaku kasar terhadap anak-anaknya. Tapi menurut kami, Bapak punya kharisma luar biasa yang dengan itu kami selalu manut akan kata yang keluar mulutnya.
Dulu sewaktu kami masih kecil, di lingkungan rumah punya semacam aturan tak tertulis yang harus dituruti oleh seluruh anggota keluarga. Selepas Maghrib kami dibimbing beliau untuk belajar mengaji Al-quran, setelahnya dilanjutkan dengan mengulang pelajaran sekolah sampai waktu Isya datang. Dan setelah shalat Isya, barulah kami diizinkan menonton tv. Itupun waktunya terbatas, tepat jam 9 malam, tv di ruang keluarga harus sudah mati karena di jam itulah waktu tidur malam kami. Begitu seterusnya sampai kami lulus sekolah.
Kami tak pernah berani keluar malam hanya sekadar untuk nonton pemutaran layar tancep di halaman rumah tetangga yang sedang menggelar pesta hajat. Padahal seingat kami, Bapak tak pernah secara lisan ataupun tulisan memberlakukan aturan itu. Yang kami ingat cuma satu, Bapak pernah bilang, "Jangan bikin malu nama orang tua, orang lain sering panggil Bapak ini seorang Ustad, masa anaknya nonton layar tancep".
Pilihan di mana kami akan bersekolah pun diatur sebaik mungkin oleh Bapak, kami tak punya wewenang untuk memilih sekolah laiknya anak-anak di keluarga lain. Bahkan ketika hendak kuliah, Bapak juga yang mengarahkan saya ke kampus serta jurusan yang akan saya ambil ketika itu. Pendeknya, hak demokrasi saya dan keluarga dirampas oleh Bapak.
Kami dikekang, tapi jujur, sedikitpun kami tak merasa dikekang oleh aturan Bapak. Kami didikte, tapi jujur, sedikitpun kami tak merasa didikte oleh keegoisan Bapak. Karena kami yakin, beliau tau betul aturan apa yang mesti diterapkan di lingkungan keluarga yang dikepalainya. Dan ia punya tanggung jawab penuh akan hal itu.
Setelah dewasa, akhirnya kami sadar, bahwa aturan ketat yang Bapak terapkan kepada anak-anaknya adalah sebaik-baiknya aturan yang pernah ada. Setidaknya bagi kelangsungan hidup pribadi saya serta keluarga lainnya.
Jika saja dulu Bapak tak pernah memberlakukan aturan seketat itu, apa jadinya kami saat ini. Mungkin saya dan kakak serta adik perempuan saya telah terjerumus dalam hitamnya dunia akibat terlalu dibebaskan semasa kecil.
Bapak tak hanya berlaku keras bagi keluarga dan anak-anaknya saja, pun bagi kesehatan dan perilaku hidupnya beliau tak kalah keras. Ketika beliau sudah menyukai satu hal, itu akan ia pertahankan terus sampai ia tak mampu lagi melakukannya. Dan itulah prilaku buruk Bapak menyoal watak keras kepala yang ia punya.
Tak segan beliau melawan perintah dokter yang menyuruhnya untuk berhenti merokok karena penyakit paru-parunya yang makin memburuk. Bahkan pernah dalam satu kesempatan, Bapak yang saat itu sedang diinfus di rumah akibat kekurangan cairan karena penyakit diare, beliau tetap saja menghisap rokok Dji Sam Soe kesukaannya. Tangan kirinya masih tertempel jarum infusan, tapi di tangan kanannya batang rokok tetap terselip dengan sempurna. Mungkin itu juga alasan beliau tak pernah mau diopname ketika sakit.
Bagi Bapak, tak ada kaitannya antara rokok dan kesehatan. "Kalau sudah waktunya mati pasti mati, gak ada hubungannya sama rokok", kata Bapak mengajari si dokter yang menyuruhnya berhenti merokok.
Prinsip itu terus ia pegang teguh sampai kondisi badannya benar-benar renta akibat menua. Asap rokok baru benar-benar bersih dari darahnya saat ia merasa bahwa asap itu telah menyiksa kondisi badannya secara sadis.
Sebelumnya, tak ada seorangpun yang mampu menghentikan kebiasaan buruk Bapak menyoal rokok. Kami sebagai anak bukannya tak sayang, tapi seperti yang telah dijelaskan di atas, watak Bapak yang keras itulah yang akhirnya mementalkan setiap nasihat dari kami.
Bukan hanya keras kepala, Bapak juga terkenal sebagai manusia super kuat menyoal ketegaran. Sepengetahuan saya, tak pernah sekalipun beliau mengeluh lantaran beban hidup yang ia alami sebagai kepala keluarga. Padahal saya yakin, beban Bapak sebagai kepala keluarga yang harus menghidupi anak-anaknya yang tak sedikit itu pasti amat berat.
Dari total ketujuh anak biologis Bapak yang tersebar di 2 kota, 3 di Karawang dan 3 orang lagi di Purwakarta. Mungkin saat ini saya lah yang paling mendekati kerasnya watak beliau. Pun begitu dengan kebiasaan buruknya menyoal rokok. Tapi untuk masalah ketegaran, tampaknya saya masih kalah jauh ketimbang beliau.
Sampai saat ini saya masih cengeng menghadapi pahitnya hidup, air mata saya terlalu cetek ketika sedang berada di posisi sulit. Padahal dulu Bapak sering menasihati saya soal bagaimana cara menghadapi hidup, "Sebagai lelaki kamu harus kuat serta bertanggungjawab, jangan pernah lari dari masalah", kata Bapak dulu ketika saya sedang menghadapi masalah.
Wejangan yang terus terngiang hingga kini, walaupun belum bisa sepenuhnya menjalankan nasihat itu sepenuhnya, tapi saya berjanji atas nama Bapak, akan berusaha semaksimal mungkin menjadi lelaki yang lebih tegar lagi dalam menjalani hidup.
Sekarang, saat ini, si keras kepala nan tegar itu telah tiada. Beliau pergi akibat komplikasi penyakit yang ia derita lama. Kepergian Bapak menyisakan sesal tak terkira, sesal bukan karena ketidak-ikhlasan saya atas takdir yang maha kuasa. Tapi lebih karena tugas saya sebagai seorang anak belum tuntas seutuhnya.
Saya belum bisa memberi bahagia buat Bapak, sebagai anak saya belum mampu membuat beliau bangga seperti bangganya saya punya Bapak seperti beliau.
Selamat jalan Bapak, semoga Allah memberi tempat terbaik di sana. Sekali lagi, maafkan saya yang gagal memberi bahagia.
