Konten dari Pengguna

Pilgub Jabar, Sepak Bola dan Hegemoni Ronaldo vs Messi

Katarak ID

Katarak ID

clock
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Katarak ID tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pilgub Jabar, Sepak Bola dan Hegemoni Ronaldo vs Messi
zoom-in-whitePerbesar

Jika politik serupa sepak bola, maka pemilihan gubernur Jawa Barat 2018 mendatang ibarat sebuah pertarungan dua klub raksasa Negeri Matador, Real Madrid versus Barcelona atau yang lazim disebut dengan istilah El clasico.

Jika di tim ibukota Spanyol, Madrid punya mega bintang sekaliber Cristiano Ronaldo dan di belahan Catalunia sana, Barca punya Lionel Messi. Maka di pilgub nanti setidaknya akan tersaji pertarungan sengit antara dua sosok hebat bernama Ridwan Kamil, politisi yang saat ini masih menjabat Wali Kota Bandung melawan Dedi Mulyadi, Bupati Purwakarta yang berhasil mengubah image kota yang ia pimpin menjadi lebih baik, asri dan istimewa. Keduanya, bersama pasangan calon lain akan saling "bunuh" di gelanggang bernama pemilihan langsung.

Tanpa bermaksud mendiskreditkan bakal calon gubernur lain yang akan ikut bertarung ide serta gagasan guna merebut hati dan suara masyarakat sunda, setidaknya sampai saat ini dua nama tersebutlah yang paling banyak diperbincangkan oleh masyarakat serta media massa lokal Jawa Barat maupun nasional.

Membandingkan siapa yang lebih hebat di atas lapangan hijau antara Ronaldo dan Messi adalah sebuah kesia-siaan yang hakiki, seperti tak bergunanya membandingkan manakah yang lebih dulu hidup antara telur dan ayam. Keduanya, baik Ronaldo ataupun Messi punya kemampuan berbeda namun sesama menakjubkan dalam hal mengolah si kulit bundar menjadi sebuah gol indah yang bermuara pada kemenangan tim. Bagi pengagum maskulinitas serta kecepatan dan kekuatan, pasti tak akan sulit menentukan pilihan, si tampan kelahiran Portugal pemilik nomor punggung 7 pasti jadi pilihan utama. Namun bagi pecinta keindahan serta liukan magis dalam mengolah bola, pasti tak akan berpaling barang sekejap matapun dari si kalem pengguna nomor 10 bernama lengkap Lionel Andrés Messi.

Dari itu, tak berlebihan kiranya jika penulis memberikan pengandaian bahwa Cristiano Ronaldo serupa Ridwan Kamil dalam versi perpolitikkan Jawa Barat saat ini, keduanya sama tampan, penuh kharisma serta cepat tanggap dalam memanfaatkan peluang sekecil apapun dan mengubahnya menjadi (gol) kemenangan. Sementara itu untuk sosok kalem penuh magis si empunya beribu ide brilliant, maka pantas rasanya jika pengandaian itu disematkan pada sosok Dedi Mulyadi.

Sebagaimana Ronaldo juga Messi yang nyaris sempurna sebagai pesepakbola namun tetap punya kelemahan yang masih bisa dieksploitasi lawan, pun begitu dengan kedua sosok politisi Jawa Barat yang namanya kian hari kian melambung akibat sederet gebrakan positif yang mereka lakukan. Sebagai manusia biasa yang tak alfa dari sifat salah dan lemah, Kang Emil, begitu biasanya orang menyebut nama Ridwan Kamil, maupun Dedi Mulyadi pasti juga punya kelemahan dibalik segala kelebihan yang mereka miliki.

Siapa pemegang kuasa Kota Kembang yang mampu mengubah kawasan alun-alun Bandung yang dulu tampak kumuh oleh pabalatak-nya pedagang kaki lima (PKL) di sisi jalan selain Kang Emil? Dengan begitu humanis-nya ia merelokasi puluhan PKL di sana, tanpa kekerasan dan tanpa ada bentrokan sedikitpun antara Satpol PP dan pedagang itu sendiri.

Tapi, siapa juga sosok yang pernah melakukan intimidasi terhadap sopir angkot gelap pada Maret 2016 lalu? Walaupun kasus tersebut tak sampai naik ke meja hijau, namun tetap saja aksi yang dilakukan olehnya itu menjadi presseden buruk dibalik sikapnya yang terkenal santun dan humanis.

Wali Kota Bandung pada periode manakah yang mampu membangun puluhan taman dengan konsep menarik seperti yang dilakukan Kang Emil saat ini? Hingga warga kota yang tadinya enggan bermain di taman, menjadi nyaman nongkrong di sana.

Tapi di era kepemimpinan Wali Kota mana jugakah, terjadi pembubaran Komunitas Perpustakaan Jalanan di taman Cikapayang, Dago, Bandung, yang diduga dilakukan oleh aparatur keamanan, pada malam 20 Agustus 2016 lalu. Aksi pembubaran tersebut memang telah diklarifikasi setelahnya sebagai aksi salah sasaran, karena aparat keamanan sejatinya ingin menyasar geng motor yang kerap berulah pada malam hari. Namun tetap saja, bola liar telah terlanjur menggelinding, dan dampaknya, Kang Emil diserang habis-habisan oleh aktifis pecinta buku di seluruh nusantara.

Lain Kang Emil lain pula Kang Dedi, dibalik segala keberhasilannya memajukan Purwakarta di segala lini, sosoknya hampir tak pernah luput dari kontroversi. Mata kamera dan sorotan media seakan enggan berpaling dari Purwakarta dengan segala keistimewaan yang dimilki dan kadang pula dengan kontroversi yang sengaja (atau tidak) dibuat oleh si empunya kuasa di sana.

Selama hampir satu dekade masa kepemimpinan Kang Dedi, terlihat jelas perubahan Purwakarta di berbagai bidang, terutama di sektor pariwisata. Jika dulu warga Jakarta yang ingin berlibur ke Jawa Barat, sudah pasti akan memilih Bandung atapun kawasan puncak Bogor sebagai destinasi utama. Tak ada yang melirik barang sebelah matapun ke Purwakarta. Tapi kini?

Siapa yang tak tertarik melihat secara langsung keindahan air mancur sri baduga di tengah kota Purwakarta? Keelokannya seakan menjadi magnet bagi siapapun yang mencintai keindahan dan seni budaya. Padahal sebelumnya air mancur yang berada di kawasan danau situbuleud itu tak pernah ada, bahkan area danau tersebut dulunya tak lain adalah tempat berkumpulnya para wanita penjajak kepuasan birahi di malam hari.

Siapa yang tak ingin berkeliling kota dengan suasana asri berbalut keindahan seni budaya tanpa harus terganggu dengan kemacetan yang menyiksa? Purwakarta-lah tempatnya! Di sana, di tiap sudut kota, wisatawan akan disuguhi jajaran patung indah nan berdaya seni tinggi.

Selain di sektor pariwisata yang jadi andalan utama, APBD Purwakarta selama masa kepemimpinan Kang Dedi juga mengalami kenaikan yang signifikan. Ini terbukti dari pembangunan yang terus menerus dilakukan oleh Pemerintah Daerah, seakan Purwakarta tak pernah kekurangan anggaran dalam membiayai pembangunan kota. Gaji perangkat Desa di sana merupakan yang tertinggi di Jawa Barat, warga di sana dijamin kesehatannya oleh Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) yang preminya dibayarkan oleh Pemerintah Daerah, guru agama di sana mendapat gaji pokok tiap bulan yang dibiayai oleh, siapa lagi kalau bukan Pemerintah Daerah!

Tapi sekali lagi, Kang Dedi pun bukannya manusia sempurna yang tanpa celah. Dia tetap punya kekurangan dan kelemahan yang masih sangat bisa saja dimanfaatkan oleh lawan politiknya jelang Pemilihan Gubernur Jawa Barat 2018 mendatang. Dia adalah sosok yang dianggap menduakan sang Pencipta karena banyaknya patung yang bertebaran di Purwakarta, dia adalah sosok yang didakwa sebagai simbol kemusyrikan oleh Front Pembela Islam pimpinan Habib Rizieq, dan dia jugalah sosok dibalik kasus yang begitu kontroversial pada tahun 2008 silam yang menyebut bahwa suara seruling lebih indah dari alunan ayat suci Al-Quran.

Namun begitu, dibalik semua kontroversi dan beberapa kasus yang pernah dialamatkan kepada dua tokoh paling masyhur di Jawa Barat, setidaknya untuk saat ini. Keduanya diakui punya peranan luar biasa dalam mengubah tata-kota serta terbukti berhasil memimpin daerahnya masing-masing dengan begitu baik. Selain populer tentunya, pemberi bukti adalah modal utama seorang politisi jika ingin melangkah ke jenjang yang lebih tinggi lagi, dan keduanya saat ini sedang dalam proses menaiki anak tangga untuk dapat sampai ke jenjang itu.

Layaknya sepak bola yang tak bisa dimainkan oleh hanya seorang diri, dalam politik pun nyaris mustahil seorang bisa sukses meraih hasil maksimal jika hanya bermodal one man show, butuh tim yang solid lagi kuat untuk menyusun strategi terbaik guna mengarungi gelanggang tarung. Itulah mengapa Ronaldo atau Messi sekalipun sulit berprestasi di Tim Nasional negaranya masing-masing, karena bisa saja team work di sana tak sebagus seperti apa yang ada di Real Madrid ataupun di Barcelona.

Sebuah tim yang bermental juara adalah dia yang tepat memilih strategi serta penempatan positioning yang tepat, harus pandai mengatur ritme permainan kapan waktunya untuk menyerang secara agresif dan kapan saatnya harus bertahan ultra defensif. Karena tak selamanya gaya bermain ala Brazil yang memakai rumus "pertahanan terbaik adalah menyerang" bisa berhasil sepenuhnya. Dalam strategi perang sesungguhnya pertahanan bredel ala Italia atau yang lebih dikenal dengan istilah catenaccio pun kadang perlu dilakukan jika berhadapan pada situasi tertentu. Jika rumus menyerang total ala Brazil adalah yang terbaik di dunia, seharusnya dia-lah yang menjadi penguasa jagad sepak bola di kolong langit ini. Tapi faktanya?

Melihat perkembangan peta perpolitikkan jelang Pilgub Jabar saat ini, khusus untuk dua calon yang telah dibahas di atas, yang dibutuhkan dan mungkin yang akan jadi penentu kemenangan adalah seberapa cermat keduanya memilih calon wakil yang akan mendampingi dua sosok hebat tersebut.

Bicara soal popularitas, siapa yang mampu menyangkal keteneran nama Ridwan Kamil saat ini. Tapi jika bicara soal jaringan kepartaian yang solid dan punya jaringan kuat sampai ke akar rumput, penulis rasa saat ini Kang Emil belum punya hal itu. Dibutuhkan calon wakil dari partai berbasis kuat untuk mengimbangi popularitas yang dipunya Kang Emil, karena dalam politik praktis populer saja tentu tak cukup.

Berbanding terbalik dengan apa yang dimiliki Dedi Mulyadi saat ini, partai Golkar sebagai pengusung utama Dedi, jelas punya jaringan yang sangat kuat untuk wilayah Jawa Barat, partai berlambang beringin itu adalah runner up di pemilu legislatif 2014 lalu dengan perolehan 17 kursi, hanya terpaut 1 strip di bawah PDIP yang mendapat 20 kursi yang didaku sebagai pemenang untuk wilayah Jawa Barat.

Namun jika bicara soal popularitas, Kang Dedi jelas masih kalah masyhur ketimbang seterunya, Ridwan Kamil. Artinya bahwa, yang dibutuhkan Kang Dedi saat ini adalah figur yang mampu mengatrol namanya agar mampu menyamai kepopuleran seterunya itu. Figur itu bisa dari kalangan artis, atau bisa juga dari kalangan politisi yang namanya lebih tenar ketimbang Kang Dedi itu sendiri. Tak usahlah yang terlalu pintar, karena sejatinya kepintaran dan kematangan berpolitik sudah ada di genggaman tangan.

Jika kini Ronaldo sedang berada di atas angin karena lebih unggul ketimbang seteru abadinya, Leo Messi. Percayalah itu bukan semata karena keberhasilan Ronaldo seorang, dia berhasil karena Madrid sekarang diisi oleh kekuatan tim yang lebih solid serta dibesut oleh pelatih bertangan dingin Zinedine Zidane. Untuk pengagum setia Messi, jangan pernah berkecil hati, idola kalian juga pernah ada di masa jayanya beberapa tahun silam ketika Barca masih diisi skuad merata di tiap lini dan ditangani oleh Pep Guardiola. Dan tetaplah percaya, suatu saat nanti kejayaan itu pasti akan terulang kembali, karena sejatinya siklus di alam raya ini akan tetap berputar pada poros yang sama.

Namun bagi kalian si pemuja Ronaldo maupun si pengagum Leo Messi, janganlah merasa jumawa dan tetaplah waspada, karena saat ini Neymar da Silva Santos Junior sedang berada di jalur yang tepat untuk menjatuhkan hegemoni dua idola kalian.

Dan sosok Neymar itu, ada dalam diri seorang Dedi Mizwar!

Penulis adalah seorang football writing yang biasa berkicau di twitter dalam akun @idhay69