Simulasi Jika Dilan dan Milea Menikah

Tulisan dari Katarak ID tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Beberapa hari jelang pemutaran film Dilan di seluruh bioskop kesayangan para pemodal, sudah barang tentu banyak yang penasaran bagaimana dan apa jadinya jika novel best seller besutan Imam Besar The Panasdalam itu bila diterjemahkan secara visual.
Apakah Fajar Bustomi selaku orang yang dipercaya menyutradarai film itu mampu menjawab ekspektasi para penggemar Dilan yang telah terlanjur meninggi akibat suksesnya novel garapan Pidi Baiq yang berhasil membius para pembaca dengan jalan cerita yang menarik serta gaya bahasa yang sederhana, atau justru anti-klimaks dan menghadirkan kekecewaan baru.
Itulah yang layak ditunggu, karena memproduksi film hasil adaptasi sebuah novel tentu punya kesulitan tersendiri, terlebih itu adalah novel laris yang meninggalkan kesan mendalam bagi para pembaca setianya.
Artikel ini tak akan membahas tentang jalan cerita dan bagaimana akhir kisah antara Dilan dan Milea, karena bagi para pecinta setia Dilan sudah pasti khatam betul bagaimana keseluruhan jalan cerita di novel tersebut. Jangankan hanya akhir cerita, bagian terkecil semisal kisah kang Ewok atau Disa sekalipun sudah pasti hapal di luar kepala.
Tak usah juga dibahas bagaimana kecewanya para pecinta Dilan ketika pemeran utama dalam film tersebut akhirnya didaku pada sosok Iqbal CJR yang terlalu imut untuk seorang bad boy macam Dilan. Selain karena sudah terlalu banyak artikel yang membahas (baca: mengutuk) soal itu, proses produksi film-nya pun telah rampung dan akan segera tayang pada beberapa hari mendatang. Dan si Iqbal imut itupun tetap jadi pemeran utamanya. Bukan Reza Rahardian seperti yang banyak orang harapkan, bukan juga Adipati Dolken atau si aktor serba bisa macam Epi Kusnandar.
Kita semua tahu akhir cerita dalam novel itu, dan tak perlu lagi ditutupi hanya demi upaya menarik ratting penonton. Di akhir cerita Milea menikah dengan Mas Herdi, sementara nasib Dilan hanya diceritakan sampai ia kemudian menjalin kisah cinta baru dengan Ancika Mehrunisa Rabu. Selesai! Tak ada prosesi pernikahan yang jika saja itu terjadi bisa saja disaksikan oleh Wati, Piyan, Anhar bahkan Kang Adi, Nandan juga Susi.
Tapi ya begitulah kisah cinta jika ingin terus dikenang sampai waktu yang lama. Karena cinta yang abadi (dalam artian terus membekas dalam kenangan) adalah cinta yang tak pernah bisa bersatu dalam ikatan pernikahan. Tak percaya? Coba baca kembali novel hasil buah tangan William Shakespeare nan fenomenal yang bertajuk Romeo and Juliet.
Masih tak percaya? Sekarang mari coba kita simulasikan bersama, bagaimana jika hubungan Dilan dan Milea benar-benar berakhir di pelaminan seperti apa yang diharapkan banyak orang. Apakah kehidupan keduanya akan bahagia?
Dan kira-kira seperti inilah simulasinya. Mari kita perhatikan bersama...
Setelah prosesi akad nikah selesai, yang kebetulan waktu itu dipimpin oleh Pak Suripto selaku kepala KUA Kecamatan Buahbatu. Untuk diketahui, dialah Pak Suripto yang tempo hari pernah baku hantam dengan Dilan di lapangan upacara. Si bapak yang gemar mengecap muridnya dengan sebutan PKI hanya karena malas mengikuti upacara bendera itu alkisah dipecat oleh pihak sekolah lantaran diketahui melakukan tindak asusila terhadap salah satu siswi. Ia kemudian alih profesi menjadi pegawai KUA hingga kemudian menjadi kepalanya.
Karena penjelasan soal Pak Suripto terlalu panjang dan saya rasa itu memang perlu diceritakan, namun dengan itu dikhawatirkan pembaca jadi bingung dengan alur cerita utamanya.
Baiklah akan saya ulang simulasinya dari awal.
Setelah prosesi akad nikah selesai, teman-teman Dilan yang sebagian besar berasal dari komunitas motor atau lebih tepatnya disebut geng itu mulai mendatangi kursi pelaminan tempat Dilan dan Milea duduk berdampingan. Tentunya yang hadir saat itu bukan cuma Piyan, sosok yang menurut Milea adalah cerminan anggota geng motor baik hati sama halnya dengan Dilan, namun hadir juga Anhar, Burhan dan teman-teman lain yang tak disukai oleh Milea.
Tapi yang namanya tuan rumah, bagaimanapun tak sukanya terhadap tamu, mau tak mau tetap harus dihormati sebagaimana mestinya.
Dengan sangat terpaksa Milea coba melempar senyum ke Burhan dan Anhar yang datang menghampirinya untuk bersalaman memberi ucapan selamat karena saat ini telah resmi menyandang status sebagai nyonya Dilan.
Sementara itu Dilan yang tahu persis akan situasi tak mengenakkan itu mencoba ambil sikap sebagai penengah agar suasana menjadi cair dengan memulai obrolan dengan Anhar.
"Gimana kabar Har?"
"Baik-baik aja Lan"
"Masih suka nyolong jambu tetangga?"
"Udah engga sekarang mah Lan, kan gurunya udah pensiun"
"Siapa emang gurunya?"
"Kan kamu gurunya Lan .. haha"
"Saya gak pernah ngajarin kamu nyolong jambu, kamu aja yang nyolong ilmu saya .. haha"
Seketika suasana menjadi cair, sedikit lebih cair dari sebelumnya. Dilan tertawa, Anhar tertawa, Burhan tertawa, Milea tidak! Ia hanya senyum, sedikit.
Satu masalah selesai, walaupun sebenarnya Dilan tahu, senyum Milea saat itu tak benar-benar tulus kepada para sahabatnya. Tapi Dilan berusaha bersikap normal seolah sedang tak terjadi apa-apa. Hingga akhirnya datang masalah kedua bernama Beni.
Memang tak ada salahnya menghadiri acara pernikahan mantan, bahkan di Kitab Undang-undang Hukum Pidana pun tak ada pasal yang melarang akan hal dari pada itu. Tapi yang datang waktu itu adalah Beni, bukan Kang Adi atau Nandan yang secara besar hati telah menerima keputusan Milea yang akhirnya memilih Dilan sebagai pendampingnya.
Dia adalah Beni, mantan yang pernah lama menorehkan kisah manis serta pedih bersama Milea sewaktu di Jakarta lalu. Dia adalah Beni, mantan yang pernah atau bahkan sering menyakiti hati Milea dengan ucapannya yang pedas lagi kasar. Yang dengan itu Dilan pernah berujar, "jangan cerita ke saya kalau ada orang yang menyakitimu, besoknya orang itu akan hilang".
Sekarang, hari ini di hari pernikahan Dilan dan Milea, di hari yang selayaknya jadi hari paling membahagiakan antara keduanya, justru hadir sosok antagonis yang sejak lama Dilan tunggu. Dia adalah Beni, orang yang pernah memaki Milea dengan kata-kata pelacur!
Dilan yang sedari awal menaruh dendam pada Beni akibat kata-katanya itu, kini berada di hadapannya sebagai trouble maker yang siap meledakkan emosinya kapan saja. Dan benar saja, emosi Dilan benar-benar dibuat meledak oleh Beni saat itu.
"Selamat ya Lia", ucap Beni seraya bersalaman dengan Milea.
"Oh jadi karena lelaki ini dulu kamu pergi meninggalkan aku, kamu benar-benar seperti pelacur ya Lia, suka sekali kamu pindah dari satu hati ke hati yang lain". Lanjut Beni sambil menatap sinis Dilan dengan tatapan paling sinis yang ia punya.
Tanpa ba bi bu lagi, Dilan yang memang sudah terlanjur dibuat emosi oleh dendam kesumat masa lalu langsung menarik kerah baju Beni hingga tersungkur jatuh di bangku pelaminan. Tak cukup sampai di situ, setelah Beni tersungkur jatuh kemudian dihantam lagi dengan pukulan bertubi-tubi di wajah serta kepala.
Sontak acara pesta pernikahan Milea pun jadi kacau, tamu undangan berlarian sambil berteriak minta tolong. Suasana baru reda ketika Dilan berhasil dijinakkan oleh ibu Rini yang datang ke pesta itu sebagai tamu kehormatan.
Sambil terus dipegangi Piyan, Anhar dan Burhan, Dilan yang masih dibalut emosi terus meracau. “Jangankan cuma Beni, Ridwan Kamil berani menghina Milea, aku bakar gedung walikota Bandung”!
Dilan memang pernah bilang, jika dia bukan tipe pencemburu, karena cemburu hanya untuk orang yang tak percaya diri. Tapi ini bukan soal cemburu, ini soal harga diri! Harga diri Milea Adnan Husein yang harus dibela walau harus bertaruh nyawa sekalipun.
Setelah kejadian itu, Beni yang didampingi Mas Ato melaporkan Dilan ke polisi dengan tuduhan penganiayaan. Hingga akhirnya berkat bantuan dari Mas Ato yang memang seorang pengacara, Beni akhirnya mampu menjebloskan Dilan ke dalam penjara.
Hukuman Dilan memang tak lama, hanya tiga bulan. Tapi itu adalah tiga bulan yang terasa amat lama bagi sepasang pengantin baru yang harus rela dipisahkan oleh kokohnya tembok penjara. Rentan waktu yang harusnya bisa digunakan untuk bercumbu mesra menikmati bulan madu, rentan waktu yang harusnya bisa digunakan untuk saling berbagi cinta kasih dalam satu atap, rentan waktu yang harusnya bisa digunakan untuk saling bertukar kemesraan dalam balutan cinta yang telah dihalalkan dalam ikatan pernikahan.
Tapi sedikitpun Dilan tak menyesal, walau harus terpisah dengan Milea di waktu yang seharusnya bisa ia lewati dengan kemesraan berdua, walaupun harus ditebus dengan pengapnya udara penjara, tapi setidaknya ia mampu menunjukkan pada dunia, tak ada seorangpun yang boleh menyakiti Milea. Siapapun itu, tanpa kecuali!
Hingga akhirnya, tiga bulan yang terasa sangat lama itu akhirnya usai. Dilan keluar dari penjara dengan senyum bahagia karena penantiannya untuk segera bisa bersama istri tercinta akhirnya benar-benar jadi nyata.
Dengan didampingi Bunda, Disa serta bang Banar, Milea menjemput Dilan.
"Heey, apa kabar kamu istriku di luar sana?"
"Aku baik-baik aja, kan ada bunda yang jagain aku"
"Kalo ada yang ganggu kamu, bilang ke bunda. Biar dihajar orang itu"
"Kamu gimana selama di dalam?"
"Saya baik"
"Oh syukurlah"
"Di dalam penjara saya banyak nulis"
"Nulis puisi?"
"Bukan"
"Terus?"
"Nulis-nulis tembok"
"Nulis apa?"
"Dilan cinta Milea, kata Dilan sendiri .. haha"
Itulah Dilan, selalu begitu. Selalu tampak ceria di situasi dan kondisi bagaimanapun. Karena yang terpenting bagi dia adalah senyum Milea, persetan dengan perasaannya sendiri. Dilan tetaplah Dilan, Dia tak sedikitpun berubah dari Dilan yang saat pertama kali Milea kenal.
Setidaknya sampai saat itu, sebelum keduanya terlibat masalah besar akibat selisih paham dalam lika-liku kehidupan rumah tangga yang sebenarnya.
Kemudian setelah mengurus beberapa berkas yang harus diurus di kantor kepolisian, keluarga baru itupun akhirnya pulang ke rumah dengan rona bahagia. Bersiap menyambut bulan madu yang sempat tertunda, bersiap akan hidup baru sebagai sepasang suami istri, bersiap akan menghadapi hal remeh temeh yang mungkin saja tak pernah mereka pikirkan sewaktu pacaran dulu.
Sepasang suami istri itu kemudian menempati rumah sederhana di kawasan Bojongsoang, masih di sekitaran area kota Bandung namun cukup jauh dari Buahbatu di mana di situ terdapat kediaman keluarga Milea. Mereka sengaja tak mau tinggal di rumah keluarga Milea ataupun keluarga Dilan dengan alasan ingin benar-benar hidup mandiri, berdua saja dengan pasangan tanpa campur tangan keluarga ataupun mertua.
Bulan pertama sampai beranjak ke bulan ketiga, kehidupan keluarga baru itu masih nampak kondusif dan baik-baik saja. Namun saat menginjak bulan ke empat, masalah mulai bermunculan seiring makin terlihat jelas watak asli di antara keduanya.
Milea yang memang dari awal sudah terkenal akan sikap over protectif terhadap Dilan, makin hari kian menunjukkan sikap pengekangan saat suaminya itu mulai kembali aktif nongkrong bersama teman-teman geng motornya. Sementara Dilan yang keras kepala, mulai menyadari perannya sebagai kepala rumah tangga yang seharusnya tak boleh diatur sepenuhnya oleh istri.
Tak ayal lagi, benih-benih keributan mulai muncul di sana sini. Dari mulai masalah kecil yang di besar-besarkan sampai kepada hal besar nan prinsipil yang memang perlu untuk diributkan.
Satu waktu ketika Dilan baru pulang kerja yang kebetulan ia telat sampai di rumah, Milea menuduh suaminya habis nongkrong bersama teman-teman geng motornya. Padahal waktu itu kantor di mana tempat Dilan bekerja sedang banyak kerjaan yang mana tidak bisa ditunda, harus diselesaikan malam itu juga. Dilan telat pulang ke rumah yang kemudian disambut oleh omelan istrinya yang tak percaya kalau ia benar-benar habis kerja lembur.
Dilan yang sudah sering kali dicurigai yang tidak-tidak oleh istrinya, pada malam itu benar-benar sudah tak mampu lagi menahan emosi. Merasa bahwa ia adalah suami yang tak seharusnya terus menerus didikte oleh istri mulai melakukan perlawanan, adu mulut di antara keduanya pun tak lagi bisa dielakkan.
Semenjak kejadian malam itu, bukannya justru mereda, namun makin hari perselisihan antara Dilan dan Milea kian meruncing. Hampir tiap hari selalu ada saja hal yang diributkan, hingga ketidaknyamanan mulai dirasakan keduanya.
Dalam berumah tangga, selisih paham yang kemudian berujung ribut memang masih dibilang wajar, sangat wajar bahkan. Anggaplah itu sebagai bumbu dalam kehidupan berkeluarga. Tapi ketika keributan itu sudah terlampau sering dan bahkan terjadi setiap hari, tentu itu bukanlah lagi hal yang wajar.
Hingga akhirnya, demi kebahagiaan masing-masing, akhirnya Dilan dan Milea memutuskan untuk mengakhiri ikatan pernikahan mereka. Tanpa ada paksaan dari pihak manapun. Keputusan itu diambil oleh karena pertimbangan matang antara satu sama lain, tak ada peran orang ketiga, ke empat ke lima, dan seterusnya, dan seterusnya. Itu murni karena keduanya sudah merasa tak ada lagi kecocokkan.
Selesai.
* * *
Dan seperti itulah simulasi yang mungkin saja jadi nyata jika saja hubungan Dilan dan Milea berlanjut hingga ke pernikahan. Ternyata tak bahagia seperti yang diharapkan oleh banyak orang.
Walaupun tak benar-benar nyata, namun simulasi yang saya buat di atas berdasar pada karakter Dilan dan Milea yang diciptakan oleh sang Imam Besar The Panasdalam sebagai penulis utama novel Dilan. Beruntung, di akhir cerita Pidi Baiq tak melanjutkan hubungan keduanya hingga sampai ke jenjang pernikahan. Jika saja itu terjadi, maka bisa saja simulasi itu akan menjadi benar-benar nyata.
Bukan hanya akan mengubah akhir cerita, namun jika saja itu terjadi dampak paling besar yang akan dirasakan adalah, novel Dilan pasti tak akan fenomenal seperti saat ini. Karena kisah cinta Dilan dan Milea sudah pasti tak akan dramatis lagi untuk dikenang, seperti dramatisnya ketika kita mengenang kisah cinta antara Romeo dan Juliet.
