Konten dari Pengguna

Meromantisasi Kuliah ke Luar Negeri Bukan Berarti Siap Pergi

Kathleen Alicia Bong

Kathleen Alicia Bong

Mahasiswa di Universitas Multimedia Nusantara

·waktu baca 8 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Kathleen Alicia Bong tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi kuliah di luar negeri (Sumber: Pexels/George Pak)
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi kuliah di luar negeri (Sumber: Pexels/George Pak)

Kuliah ke luar negeri adalah salah satu hal yang paling mudah dilukis dengan indah, bahkan sedikit utopis.

Bayangannya menyenangkan: menyusuri kampus dengan gedung-gedung megah, tinggal di kota yang selama ini hanya dikenal lewat layar, bertemu teman dari berbagai negara, merasakan musim yang tidak pernah ada di Indonesia, lalu beberapa tahun kemudian pulang membawa gelar dan foto wisuda yang rasanya pantas dijadikan penutup dari semua perjuangan itu. Bangganya tentu bukan main, apalagi kalau seluruh pengalaman tersebut berhasil disubsidi beasiswa.

Saya juga pernah melihat konsep kuliah ke luar negeri dengan secetek itu. Pergi, belajar, menikmati hidup di tempat baru, merasakan romantisme rumput tetangga yang selalu terlihat lebih hijau, lalu pulang membawa segudang cerita yang mungkin cukup membuat teman-teman di rumah iri.

Namun, selama menjalani kegiatan magang di bidang konsultasi pendidikan luar negeri, saya berkesempatan mengenal dan mendengar cerita dari beberapa orang yang sedang mempersiapkan ataupun sudah berhasil melanjutkan studi ke luar negeri.

Semakin banyak cerita yang saya dengar, semakin terasa bahwa manusia memang punya kebiasaan melihat kehidupan orang lain lewat rose-tinted glasses. Kita melihat acceptance letter-nya, foto keberangkatannya, story Instagram berswafoto di Seoul atau Melbourne, lalu secara tidak sadar menganggap bagian-bagian itulah yang mewakili seluruh perjalanan mereka di luar negeri.

Padahal, yang jarang ikut terlihat adalah jerih payah yang akhirnya mengantarkan mereka ke bandara dengan boarding pass dan paspor di tangan.

Kita tidak melihat lamanya seseorang menimbang keputusan sebelum akhirnya benar-benar berani pergi, esai yang rasanya selalu ada saja yang salah setiap kali dibaca ulang, jam makan siang yang dikorbankan untuk latihan wawancara, atau kegagalan yang sesekali membuat seseorang ingin menutup laptop dan tidak memikirkan beasiswa lagi untuk beberapa hari.

Salah satu cerita yang membuat saya memikirkan hal itu datang dari Rasyid Dzikrulhaq Niswara, awardee Global Korea Scholarship (GKS-U) 2026 yang kini menempuh studi S-1 Food Science and Technology di Pusan National University, Korea Selatan.

Korea Selatan ternyata tidak langsung menjadi tujuan

Menariknya, perjalanan Rasyid tidak dimulai dengan ambisi besar bahwa ia harus kuliah di luar negeri.

Korea Selatan sendiri sebenarnya bukan tempat yang benar-benar asing baginya. Kedua orang tuanya, Yoga dan Pipit, pernah menjalani studi S-3 di KAIST dan CNU selama empat tahun, dan Rasyid yang saat itu masih kecil ikut tinggal bersama mereka. Tidak heran kalau Korea kemudian terasa cukup familiar baginya, meskipun saat mulai memikirkan kuliah, pilihan awal Rasyid masih mengarah ke Indonesia.

Yoga dan Pipit juga bukan tipe orang tua yang sejak awal mematok anaknya harus sekolah ke luar negeri. Mereka justru mengatakan bahwa hal yang paling penting bagi mereka adalah memberi ruang agar Rasyid bisa mencoba berbagai hal dan perlahan memahami apa yang memang ia sukai.

“Anak perlu diberi kesempatan untuk mencari dan mengenali apa yang benar-benar disukainya,” ujar Yoga ketika menjelaskan prinsip yang mereka terapkan sejak Rasyid kecil.

Kemungkinan untuk kembali ke Korea baru benar-benar mulai dipertimbangkan ketika kemampuan bahasa Korea Rasyid terus berkembang hingga mencapai TOPIK Level 5. Pada titik itu, sesuatu yang sebelumnya mungkin hanya terasa seperti kemampuan tambahan mulai terlihat sebagai modal yang terlalu sayang untuk tidak dicoba.

“Kami pikir sayang kalau kemampuan bahasa Korea yang sudah dimiliki Rasyid tidak dimanfaatkan. Akhirnya kami coba ajak dia untuk mendaftar beasiswa GKS ke Korea,” ujar Pipit.

Tetapi setelah negara tujuannya sudah ditentukan, Rasyid masih ada PR lain: ia perlu mencari bidang studi yang benar-benar cocok untuknya.

Ia suka memasak, tetapi juga memiliki ketertarikan pada bidang STEM. Yoga dan Pipit kemudian ikut mencari jurusan yang bisa mempertemukan keduanya, sampai akhirnya mereka menemukan jurusan Food Science and Technology. Fokus riset mengenai makanan halal di Korea Selatan bahkan ikut menjadi salah satu pertimbangan yang membuat pilihan tersebut terasa semakin relevan untuk Rasyid.

Ketika persiapannya mulai masuk ke tahap esai dan wawancara GKS, keluarganya kemudian mencari pendampingan tambahan melalui Schoters, tempat saya menjalani magang saat itu. Menurut Yoga dan Pipit, proses tersebut membantu Rasyid menyusun esainya dengan lebih terstruktur dan membuatnya lebih percaya diri ketika menghadapi tahap seleksi.

“Rasyid dibantu dalam penulisan esai dan persiapan wawancara beasiswa GKS. Esainya jadi lebih terstruktur, dan Rasyid juga jadi lebih percaya diri dalam menghadapi proses seleksi hingga akhirnya lolos beasiswanya,” ujar Yoga.

Justru bagian persiapan inilah yang paling menarik bagi saya. Rasyid tidak bangun suatu pagi dengan satu rencana sempurna mengenai negara, jurusan, kampus, dan beasiswa yang harus ia kejar. Pilihannya terbentuk sedikit demi sedikit dari hal-hal yang memang sudah dekat dengannya: pengalaman masa kecil di Korea, kemampuan bahasa yang terus berkembang, kegemarannya memasak, serta ketertarikannya pada STEM.

Dari situ saya mulai merasa bahwa keinginan untuk kuliah ke luar negeri memang bisa datang lebih cepat daripada kesiapan untuk benar-benar menjalaninya. Kita mungkin sudah jatuh cinta pada idenya jauh sebelum tahu seperti apa hidup yang sebenarnya ingin kita bangun di sana.

Sekolahnya 10 bulan, persiapannya lebih dari setahun

Cerita lain datang dari Salsabila Siliwangi, yang menjalani program LL.M. di Columbia Law School.

Program tersebut berlangsung sekitar 10 bulan, durasi yang kalau hanya dilihat sebagai angka memang terdengar cukup singkat. Namun, ketika Salsabila merefleksikan kembali masa studinya, ia justru merasa bahwa sekolahnya sebenarnya sudah dimulai setidaknya setahun sebelum ia benar-benar menginjakkan kaki di Columbia.

Persiapannya sudah berjalan sejak awal 2024 ketika ia mulai belajar untuk proses beasiswa. Ia bercerita membawa berlembar-lembar problem set ke mana-mana, termasuk ke tempat kerja, sementara waktu makan siang dan hari libur dipakai untuk menjalani mock interview serta mengulang perkenalannya berkali-kali sampai akhirnya terasa cukup natural ketika diucapkan.

Ketika proses aplikasi ke Columbia dimulai, persiapan itu melebar ke hal-hal lain. Salsabila mencari masukan dari senior yang pernah lebih dahulu menempuh studi di Amerika Serikat, teman lama, hingga mantan atasan; orang-orang yang menurutnya bisa memberikan perspektif tambahan ketika ia menulis esai dan short answer untuk aplikasi.

Tulisan-tulisan tersebut juga tidak berhenti setelah satu kali selesai. Ia meminta orang kedua, ketiga, bahkan keempat untuk membaca dan memberikan pandangan sebelum akhirnya merasa cukup yakin untuk mengirimkannya.

Yang sedikit ironis, setelah akhirnya diterima di Columbia dan mungkin berharap bisa menikmati rasa lega, ia justru sadar bahwa perjuangannya tidak otomatis berhenti begitu acceptance letter mendarat dengan manis di tangannya.

Program LL.M. yang ia jalani hanya berlangsung sekitar satu tahun, sementara mahasiswa Juris Doctor memiliki waktu tiga tahun di sekolah hukum. Akibatnya, Salsabila melihat teman-temannya sudah memetakan peluang riset, internship, fellowship, dan rencana karier jauh lebih awal, bahkan ada yang mulai membangun hubungan dengan profesor serta mencari kesempatan sebelum masa perkuliahan benar-benar berjalan jauh.

Dalam program yang waktunya relatif singkat, ritme semacam itu membuat banyak hal terasa harus dikejar sekaligus. Baru saja beradaptasi dengan kehidupan akademik dan lingkungan baru, sudah ada pertanyaan tentang apa yang harus dilakukan setelah lulus.

Dan ketika kehidupan di Columbia akhirnya mulai terasa akrab, muncul satu hal lain yang sebelumnya mungkin tidak masuk ke daftar persiapan: menerima bahwa semuanya akan segera selesai.

Salsabila bercerita bahwa ia sudah membangun pertemanan, jejaring, serta kehidupan akademik yang sangat berarti baginya, sampai akhirnya sadar bahwa waktunya di sana memang “dipinjam” dan suatu hari harus dikembalikan. Ia pun perlu mempersiapkan diri secara fisik dan emosional untuk meninggalkan kehidupan yang baru saja ia biasakan.

Mendengar cerita seperti ini membuat acceptance letter terasa jauh lebih kecil daripada yang biasanya kita bayangkan. Diterima universitas memang pencapaian besar, tetapi sesudahnya masih ada perkara beradaptasi, membangun relasi, mencari kesempatan, mengatur waktu, dan pada akhirnya memikirkan apa yang akan dilakukan ketika masa studi selesai.

Ketika kuotanya cuma dua orang

Lain lagi dengan Augustine Geffelyn Veeda, yang mendaftar Global Korea Scholarship melalui Embassy Track dan akhirnya diterima di Seoul National University.

Kalau Rasyid sempat perlu menemukan arah yang paling cocok untuk dirinya, Augustine justru berhadapan dengan keraguan yang datang setelah melihat betapa kecilnya peluang yang tersedia.

“Awalnya aku sempat ragu dengan kemampuanku untuk meraih beasiswa GKS ini karena kuota embassy track dari Indonesia cuman 2,” ujarnya.

Dua orang untuk satu negara memang bukan angka yang mampu memberikan banyak ketenangan.

Namun, Augustine tetap mencoba. Selama persiapan, ia mendapatkan pendampingan dari mentor Schoters yang menurutnya terus membantunya sampai akhirnya ia berhasil menembus kampus yang diinginkan.

Kadang rasa ragu memang tidak muncul karena kita sama sekali tidak mampu, melainkan karena persaingan yang ada terlihat begitu besar sehingga keputusan untuk mencoba saja sudah membutuhkan keberanian tersendiri.

Begitu seseorang akhirnya berhasil mendapatkan beasiswa, perjalanan tersebut lalu terlihat rapi dari luar. Kita mudah berasumsi bahwa orang itu memang sejak awal pintar, percaya diri, sudah tahu mau ke mana, dan mungkin memang “tipe anak beasiswa”.

Padahal, orang yang sekarang terlihat yakin pun bisa saja pernah membaca persyaratan yang sama sambil bertanya-tanya apakah dirinya cukup bagus untuk mengirimkan aplikasi.

Meromantisasi boleh, tetapi tetap harus siap menjalaninya

Setelah mengenal cerita-cerita tersebut, saya tetap merasa tidak ada yang salah dengan meromantisasi kuliah ke luar negeri. Bayangan tentang kampus impian, kota baru, teman-teman dari berbagai negara, atau kehidupan yang sama sekali berbeda mungkin memang dibutuhkan agar seseorang berani bermimpi lebih jauh daripada yang selama ini terasa mungkin.

Hanya saja, pada suatu titik, romantisasi tersebut perlu ditemani dengan kesiapan untuk menghadapi bagian yang tidak terlalu cantik: pencarian yang panjang, revisi yang tidak habis-habis, persaingan, rasa ragu, sampai kenyataan bahwa satu penolakan kadang berarti harus memulai lagi.

Kuliah ke luar negeri memang boleh terlihat indah dari kejauhan, tetapi orang-orang yang akhirnya sampai ke sana tidak hanya hidup dari bayangannya. Mereka tetap harus punya alasan yang cukup kuat untuk bertahan ketika proses menuju ke sana sudah tidak terasa seromantis yang dibayangkan.

Itulah yang membedakan sekadar ingin pergi dengan benar-benar siap pergi.