Ad Diriyah: Formula E dan Sebuah Awal bagi Arab Saudi

Moslem. Author of Arsenal: Sebuah Panggung Kehidupan
Tulisan dari Katondio Bayumitra Wedya tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sejarah baru akan segera tercatat di Arab Saudi. Balapan berkelas internasional pertama di tengah kota akan terlaksana di sana.
Formula E Championship menjadikan Arab Saudi, tepatnya Ad Diriyah, sebagai seri pembuka E-prix musim 2018/2019. Lebih dari 20 pebalap dengan mobil Gen2 akan bersaing menjadi yang tercepat di lintasan sepanjang 2.495 kilometer pada 15 Desember 2018 mendatang.
Dikutip dari situs resmi E-Prix Ad Diriyah pada 21 September 2018, balapan di Ad Diriyah akan menjadi E-prix perdana di Timur Tengah. Kerja sama antara Formula E dan Kerajaan Arab Saudi tidak main-main, E-prix menjadi bagian dari perjanjian 10 tahun Formula E dengan General Sports Authority (semacam KONI-nya Arab Saudi) dan Federasi Motor Arab Saudi (SAMF).

Pada saat pengumumannya, Arab Saudi diwakili Pangeran Khaled Bin Sultan Bin Abdullah AlFaisal (Presiden SAMF) dan Pangeran Abdulaziz bin Turki AlFaisal Al Saud (Wakil Ketua General Sports Authority). Sementara itu, Formula E diwakili sang CEO, Alejandro Agag.
"Membawa balapan ke Ad Diriyah untuk ronde pertama pada musim baru adalah pengaturan sempurna untuk fase selanjutnya dari Kejuaraan FIA Formula E ABB. Sebuah negara yang menarik dan dinamis yang berfokus pada masa depannya, Arab Saudi akan menjadi tempat yang ideal untuk menandai debut kompetitif dari mobil Formula E generasi berikutnya," ujar Agag.
Pada 22-24 November 2018 lalu, telah diselenggarakan event 'Road to Ad Diriyah'. Para pengunjung di acara tersebut dapat mencoba simulator balap, bioskop outdoor, sepeda bertenaga watt, pengalaman virtual reality, serta pameran mobil Gen2. Ada pula turnamen game bernama 'EIA ABB FIA Formula E Road to Ad Diriyah', dengan total hadiah senilai satu juta riyal.

Rangkaian kegiatan E-prix Arab Saudi sendiri nantinya akan dimulai dari tanggal 13 Desember hingga 15 Desember 2018. Tidak tanggung-tanggung, para pengunjung dari berbagai belahan dunia juga akan dihibur oleh artis-artis top mancanegara, seperti Jason Derulo, Enrique Iglesias, The Black Eyed Peas, OneRepublic, David Guetta, hingga musisi legendaris Arab, Amr Diab.
Terdapat pula fanzone yang akan menampilkan upacara podium spektakuler hingga sesi dengan para pebalap. Layar raksasa akan menampilkan aksi balapan, Allianz E-Village juga menjadi tuan rumah atraksi augmented and virtual reality.
Menariknya, debut Formula E di Ad Diriyah adalah momen pertama kalinya Arab Saudi mengeluarkan visa turis untuk sebuah acara di luar bidang pariwisata religius. Untuk memudahkan para turis, mereka dapat memanfaatkan platform bernama Sharek.
Sharek memungkinkan turis mengunjungi Arab Saudi untuk acara olahraga, di mana visa dapat diurus dalam hitungan detik. Tidak ada penundaan, tidak perlu kunjungan kedutaan atau dokumen: tiket anda adalah visa anda. Kurang lebih begitulah penjelasan di situs resmi E-Prix Ad Diriyah.
Melansir Arabian Business, perusahaan asal Jerman, Losberger De Boer, dikontrak sebagai pemasok struktur bangunan dan fasilitas sementara di sekitar sirkuit. Mereka bertanggung jawab terhadap pembangunan lintasan pit sepanjang 190 meter dan gedung fasilitas penunjang berlantai dua. Selain itu, mereka juga mengelola proyek pengiriman struktur lintasan balap dan lainnya dalam jangka waktu 40 hari, sekaligus pembongkaran cepat segera setelah hari balapan.
Tentang Ad Diriyah

Ad Diriyah adalah kota tua bersejarah yang terletak di pinggiran barat laut ibu kota Arab Saudi, Riyadh. Nama "Ad Diriyah" diyakini diambil dari nama "Al Doroa", nama suku yang telah menetap di bukit Wadi Hanifa dan menguasai daerah Al Hajr dan Al Jaza untuk waktu yang lama.
Letak Ad Diriyah berada di tepi bukit Wadi Hanifa yang secara lingkungan dan budaya mampu menciptakan semacam ikatan emosional dan positif antara manusia dan alam. Hal ini memberi dampak yang besar secara sosial, ekonomi, dan budaya di wilayah tersebut.
Pemandangan alam yang indah, aliran sungai, tanah yang subur, dan topografi dengan landmark memesona berkontribusi terhadap gaya hidup dan keahlian budaya masyarakat setempat di bidang arsitektur. Hal tersebut tercermin dari bentuk bangunan tempat tinggal dan desa-desa pertanian serta jaringan irigasi di lingkungannya.

Berada di Provinsi Diriyah, wilayah Riyadh, kota ini dikenal sebagai 'rumah asli' atau rumah pertama bagi keluarga Kerajaan Arab Saudi dan menjadi ibu kota dari Dinasti Kerajaan Arab Saudi yang pertama, pada periode tahun 1744-1818. Imam Mohammad bin Saud adalah founder kerajaan dengan dibantu oleh seorang cendekiawan muslim dan reformer, Mohammad bin Abdul Wahab.
Semasa kepemimpinan Mohammad bin Saud, yang mengadopsi seruan reformasi Mohammad bin Abdul Wahab, Ad Diriyah menjadi kota paling kuat di wilayah Najd--daerah dataran tinggi dengan ketinggian 762 hingga 1.525 meter di atas permukaan laut dan merupakan bagian tengah Semenanjung Arab.
Pencapaian di bidang politik, militer, dan keagamaan mampu memberikan kekayaan dan kemakmuran besar di wilayah tersebut. Tak pelak, banyak pedagang dari wilayah lain berbondong-bondong datang ke kota yang dianggap sebagai primadona itu. Selain itu, Ad Diriyah berangsur-angsur menjadi suar untuk sains dan pendidikan, di mana banyak orang dari negara tetangga ingin menuntut ilmu di sana.
Imam-imam terkenal di masa-masa awal Kerajaan Arab Saudi dikenal amat bijaksana, teguh pendirian, dan berkomitmen terhadap nilai-nilai agama Islam. Ajaran Islam mereka tegakkan sebagai nilai tradisi dan adat istiadat, sehingga penduduknya mampu hidup damai dan sentosa. Secara bertahap, banyak daerah di sekitar Semenanjung Arab berada di bawah kendali Ad Diriyah, termasuk Al Ared, Al Ahsa, Al Qaseem, Jabel Shamar, Makkah, Madinah, Al Hijaz, Taif, serta wilayah Tehama dan Yaman.
Namun, penaklukan Arab Saudi--dengan Ad Diriyah sebagai ibu kotanya--atas kota suci Makkah dan Madinah memicu kemarahan Kekaisaran Ottoman, kekuatan Islam terbesar masa itu, sehingga terjadilah Perang Ottoman-Saudi selama 1811–1818 dan terjadi invasi Arab oleh Ottoman dan Mesir. Pada 1818, perang berakhir dan Ad Diriyah menyerah setelah pengepungan hampir setahun.
Ibrahim Pasha selaku pemimpin pasukan penyerangan memerintahkan penghancuran Ad Diriyah. Kemudian, kota ini semakin dibenamkan dalam kehancuran ketika seorang bangsawan setempat ketahuan hendak mencoba menghidupkan kembali negara Wahabi di Ad Diriyah. Mengetahui hal itu, Ibrahim Pasha memerintahkan pasukannya untuk menghancurkan kota itu lebih parah lagi, bahkan melakukan pembakaran.

Arab Saudi berusaha membangun kembali kerajaan mereka pada tahun 1824, juga pada tahun 1902. Mereka meninggalkan Ad Diriyah, pergi ke selatan untuk menjadikan Riyadh menjadi ibu kota baru mereka, sampai sekarang. Ad Diriyah pun kini masuk wilayah Kerajaan Arab Saudi, di mana wilayah reruntuhan dan bangunan bersejarah masa lalu masih bisa dilihat.
Reruntuhan terbagi atas tiga wilayah dengan struktur bangunan didominasi lumpur bata, yakni Ghussaibah, Al-Mulaybeed, dan Turaif, yang dibangun di atas perbukitan yang menghadap ke lembah. Turaif adalah wilayah yang tertinggi, dan ditetapkan sebagai Situs Warisan Dunia UNESCO pada tahun 2010.
Ad Diriyah sebagai sebuah awal
Bagi Arab Saudi, Ad Diriyah adalah awal dari segalanya. Kini, pada era modern, Ad Diriyah sekali lagi akan menjadi awal baru bagi Arab Saudi.
Awal dari sejarah perhelatan kejuaraan motorsport berkelas internasional di negara itu, Formula E, akan dimulai di sana. Luar biasa, negara yang tadinya amat ketat untuk urusan mengemudi, kini 'melegalkan' kebut-kebutan di tengah perkotaan.

Cadangan minyak dunia yang mulai menipis, termasuk di wilayah Arab, seolah memaksa Arab Saudi menjadi negara yang terbuka terhadap banyak hal. Gelaran E-Prix di Ad Diriyah adalah salah satu usaha memajukan pariwisata Arab Saudi, sehingga pemasukan negara dari jalur pariwisata tak hanya memanfaatkan momen ibadah haji dan umrah saja.
Alejandro Agag menyatakan bahwa ia merasa terhormat karena Arab Saudi lebih memilih Formula E dibandingkan ajang balap lainnya.
"Banyak olahraga lain yang sudah meningkatkan kehadiran mereka di Arab Saudi dan kami bangga karena mereka telah memilih Formula E dibandingkan kategori lain dalam balapan. Sebagian besar negara kini mencari Formula E, terutama Arab Saudi yang berkonsentrasi pada pengembangan teknologi baru, energi terbarukan, dan kendaraan listrik," ujar Agag.
Tidak mengherankan, Formula E adalah ajang balap ramah lingkungan karena menggunakan listrik sebagai tenaga utamanya, alih-alih bahan bakar minyak, sehingga tidak akan menghasilkan emisi karbon dioksida. Ini juga dapat memberi kesan bahwa Arab Saudi mendukung penghematan cadangan minyak dunia dan menaruh perhatian terhadap pengembangan energi baru dan terbarukan, khususnya di bidang otomotif.
Pangeran Abdulaziz bin Turki AlFaisal Al Saud mengatakan bahwa gelaran Formula E di Arab Saudi adalah bagian dari pencapaian Visi Arab Saudi 2030. Rencana tersebut diakui memang untuk mengurangi ketergantungan Arab Saudi terhadap minyak.
Visa Arab Saudi 2030 sendiri telah dibentuk pada 25 April 2016. Arab Saudi diharapkan dapat melakukan diversifikasi ekonomi dan mengembangkan sektor layanan publik di bidang kesehatan, pendidikan, infrastruktur, rekreasi, dan pariwisata.
Visi tersebut mencakup tiga tema utama dengan menetapkan tujuan khusus yang ingin dicapai pada tahun 2030. Formula E dapat dikategorikan ke dalam tema "Masyarakat yang Dinamis (A Vibrant Society)", di mana kategori itu mencakup isu olahraga dan pariwisata.
"Arab Saudi mencari masa depan dan Formula E adalah motorsport masa depan, itulah mengapa ini merupakan peluang yang menarik. Ini selaras dengan visi negara 2030 dan menawarkan prospek balap kelas dunia di jalan-jalan ibu kota untuk pertama kalinya dalam sejarah kami. Untuk semua penggemar, pria, wanita, muda dan tua, impian menyelenggarakan ‘home race’ kini akan menjadi kenyataan," ujar Pangeran Abdulaziz.
Entah, apakah nantinya Arab Saudi akan membuka diri terhadap ajang-ajang balap lainnya atau tidak, termasuk balapan dengan kendaraan berbahan bakar minyak. Namun, satu hal yang pasti, Ad Diriyah sudah menjadi pintu masuknya, sebagai awal dari masuknya kejuaraan balap berkelas internasional di Arab Saudi. Rumah pertama bagi balapan internasional di Arab Saudi.
