Konten dari Pengguna

'Berpuasa' Kepo di Instagram demi Pikiran yang Lebih Jernih

Katondio Bayumitra Wedya

Katondio Bayumitra Wedya

Moslem. Author of Arsenal: Sebuah Panggung Kehidupan

clock
google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
2
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Katondio Bayumitra Wedya tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Social media Foto: Pixabay
zoom-in-whitePerbesar
Social media Foto: Pixabay

Jadi, sejak Rabu, 26 Februari 2020, gua membulatkan tekad untuk 'berpuasa'. Bukan puasa tidak makan dan minum selaiknya dalam ajaran Islam, melainkan 'puasa' ngepoin orang di media sosial, atau lebih spesifiknya di Instagram.

Gua sebenarnya sudah merasa resah dengan media sosial satu itu sejak tahun lalu. Namun, gua enggak bisa lepas begitu saja dari Instagram.

Sebab, selain dari Twitter, banyak pula informasi yang bisa gua dapat dari Instagram. Terutama, untuk hal-hal terkait pekerjaan.

Ilustrasi Instagram. Foto: REUTERS/Dado Ruvic

Tadinya, metode yang gua lakukan adalah nge-mute sejumlah akun yang gua rasa itu bukan teman dekat gua, akun-akun nirfaedah, serta akun yang tak ada value-nya buat pekerjaan atau passion gua.

Awalnya, berhasil. Namun lama kelamaan, efeknya memudar.

Gua tetap saja kepo. Akun-akun yang sudah gua mute itu pun tetap saja gua cari dan gua kepoin. Tergoda untuk pengin tahu unggahan feed dan story orang-orang. Huft.

Ilustrasi kepo. Foto: Pixabay

Alhasil, sekarang gua memilih untuk membuat akun baru. Akun alter. Khusus mem-follow akun-akun yang terkait dengan sepak bola, basket, balapan, atau semacam itulah.

Pokoknya, akun-akun yang ada kaitannya dengan pekerjaan dan passion gua. Akun-akun media sport dari dalam dan luar negeri, dan juga para jurnalis terpercaya.

Gua bakal bertahan berapa lama dengan metode ini? Entahlah. Satu yang pasti, sekarang gua bakal jajal dulu, hingga waktu yang tidak ditentukan.

Namun, kalian mungkin ada yang malah kepo sama gua, kenapa gua harus repot-repot melakukan ini? Bukannya, kalau memang tidak suka dengan akun tertentu, maka gua cukup unfollow saja?

Enggak sesederhana itu. Ini lebih dari masalah suka atau tidak suka.

Entah kenapa gua ini. Foto: Pixabay

Intinya, gua merasa pikiran gua menjadi tidak nyaman jika melihat unggahan feed atau story orang-orang di Instagram, termasuk dari akun teman-teman gua, yang gua pribadi enggak punya masalah sama mereka.

Apa, ya.....?

Gua hanya tidak merasa perlu untuk tahu teman gua hari ini lagi ngapain, lagi makan apa, lagi dengar lagu apa, lagi jalan-jalan ke mana sama pacarnya, dan sebagainya. Bukan hal toxic, tetapi somehow gua merasa terganggu.

Apa gua iri? Ya, bisa jadi. Gua tak menampik jika memang begitu.

Melihat orang-orang melakukan apa yang tidak/belum bisa kesampaian gua lakukan, melihat mereka makan kuliner yang tampak lezat tetapi gua belum ada waktu (dan duit) buat menjajalnya, melihat cewek cantik yang bikin hati serr tetapi gua merasa gua enggak akan bisa jadiin dia pacar/istri, dan sebagainya.

Terlebih, kalau melihat unggahan galau seseorang, kadang gua juga tanpa sadar jadi ikut terbawa perasaan sendu itu. Gua enggak tahu, sih, ini masalah gua doang atau kalian juga.

Semua itu mengganggu gua. Sorry.

Sorry, my bad. Please still be my friends. Foto: Pixabay

Namun, gua tetap mencoba adil sejak dalam pikiran. Prinsipnya, bermedia sosial adalah hak segala bangsa. Orang mau bikin unggahan kayak bagaimana pun itu hak mereka.

Selama unggahan itu tidak disturbing dan disgusting, tidak mengandung ujaran kebencian, dan tidak ada unsur-unsur negatif lain yang disepakati secara universal. Setuju?

Jadi, daripada gua ngomong, "Eh, lu jangan ekspos kegiatan lu di Instagram", "Eh, lu jangan pamer makanan lu", atau "Eh, lu jangan selfie mulu entar gua naksir", mending gua yang mundur.

Sebab, ya, bukan mereka yang salah. Gua aja yang mungkin baper-an. Kurang bisa mengontrol pikiran dan hati. Jadi, mungkin alangkah lebih bijak kalau gua yang mengatur diri gua sendiri.

Salah satunya, dengan cara bikin akun lain agar gua bisa 'berpuasa' ngepoin orang tanpa terkecuali. Apakah ini bakal membuat pikiran gua lebih jernih? Enggak tahu juga. Namun, tak ada salahnya dicoba, toh?

Seorang terpelajar mesti adil sejak dalam pikiran. Foto: Pixabay

Kenapa harus Instagram? Sebab, gua merasa orang lebih suka mengunggah hal personal di Instagram ketimbang Twitter. Kalau Facebook, sih, gua jarang beraktivitas aktif di sana.

Apakah gua bakal mencoba di media sosial lain? Untuk saat ini, Instagram dulu.

Kalaupun ada alasan gua untuk membuka akun utama gua, maka itu adalah karena ada notifikasi atau untuk membaca dan/atau membalas DM dari orang. Atau mungkin ada sesuatu yang perlu gua bagikan.

Woles, kalau kalian mau menghubungi gua via Instagram masih bisa. Cuma, mungkin gua enggak akan kepo sama kalian.

Mungkin, kalau ada waktu (dan niat), gua juga bakal cerita bagaimana hasil 'puasa' gua ini. Semoga berdampak positif.