Konten dari Pengguna

Di Masjid Itu, Mereka Berbahagia dan Kebahagiaan Menyebar

Katondio Bayumitra Wedya

Katondio Bayumitra Wedya

Moslem. Author of Arsenal: Sebuah Panggung Kehidupan

clock
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Katondio Bayumitra Wedya tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Di Masjid Itu, Mereka Berbahagia dan Kebahagiaan Menyebar
zoom-in-whitePerbesar

Masjid Raya Baitussalam di Komplek Billy & Moon, Duren Sawit, Jakarta Timur (Foto: Katondio Bayumitra Wedya)

Di seberang masjid itu, kaki-kaki sekumpulan pemuda masih tidak berhenti mengejar bola di atas lapangan rumput yang ada di komplek itu. Mereka berlomba-lomba merebut bola itu dengan tujuan yang sama: menceploskannya ke dalam gawang yang tak berjaring. Kedua tim saling bergantian membobol gawang. Satu gol berganti gol lain.

Tidak ada wasit, tidak ada hakim garis, tidak ada papan skor. Tiap-tiap dari mereka, bahkan tidak tahu pasti berapa gol yang telah tercipta di 'pertandingan' itu. Akan tetapi, masa bodoh. Mereka tetap bergembira, mereka tertawa ceria menikmati waktu sore berharga yang tidak dapat terulang. Orang-orang di sekelilingnya pun dengan antusias menonton, bersorak, dan sesekali menertawakan aksi-aksi para pemain.

Mereka berbahagia dan kebahagiaan itu menyebar.

Entah kenapa, setiap kali kita menonton pertandingan sepak bola, walaupun sekedar permainan sepak bola dalam komplek sekalipun, selalu ada keseruan tersendiri kala menontonnya. Setiap kali ada yang mencetak gol, kita yang menonton (seolah) sama merasakan kebahagiaan dari sang pencetak gol. Tiap-tiap yang menonton ikutan heboh sambil memberikan teriakan penyemangat. Walaupun yang bermain bukanlah pemain sepak bola profesional dengan skill mumpuni, tetapi kita tetap dapat antusias menyaksikannya.

Di dalam masjid itu sendiri, seorang laki-laki terduduk sendirian di hadapan penghulu. Keringat dinginnya mengalir, di samping-sampingnya, banyak pasang mata dan kamera yang tak melepaskan sorotannya guna menantikan 'aksi' dari laki-laki itu. Mereka sama tegangnya dengan si laki-laki itu karena untuk dapat mengucapkan kalimat akad di hadapan penghulu dan khalayak tentu bukan hal yang mudah. Kesiapan lahir-batin harus benar-benar terbalut mental yang kuat.

Jika ditarik lagi ke belakang, ada proses perjuangan yang panjang untuk sampai ke sana. Berkejaran dengan waktu, berebut sewa gedung, dan berbelanja mas kawin hanyalah beberapa dari sekian banyak hal yang harus dipersiapkan guna menggapai satu tujuan: pernikahan itu sendiri. Sebuah prosesi yang mendobrak batas halal-haram. Sebuah janji suci yang diniatkan langgeng hingga ajal memisahkan.

Di dalam masjid itu, akhirnya, Tuhan Penguasa Alam Raya resmi menyatukan dua orang insan manusia dalam ikatan suci pernikahan di sore yang cerah setelah sang lelaki dengan lantang, satu nafas mengucapkan kalimat akad dengan tegas. Kemudian, sang perempuan pujaan dihadirkan. Dua pasang insan itu tidak tertawa tapi dalam hati tertanam gembira tiada tara yang diselimuti haru dalam kalbu. Sore indah yang penuh kenangan dan juga tidak akan pernah terulang.

Mereka berbahagia dan kebahagiaan itu menyebar.

Di Masjid Itu, Mereka Berbahagia dan Kebahagiaan Menyebar (1)
zoom-in-whitePerbesar

Pasca Akad (Foto: Katondio Bayumitra Wedya)

Entah kenapa, setiap kali menyaksikan prosesi akad, ketegangan itu hadir pula menghampiri para saksi. Dan ketika akad telah sukses, kita dapat merasakan perasaan lega yang (seolah) sama dirasakan kedua mempelai. Tiap-tiap yang hadir menyematkan doa untuk kedua mempelai. Walaupun yang menikah bukanlah seorang public figure ternama, tetapi itu tidak menyurutkan kebahagiaan kita kala menyaksikannya secara langsung.

Di dalam sepak bola, perpindahan pemain dari satu tim ke tim lain adalah penanda awal baru dalam karirnya. Untuk urusan pernikahan, mungkin pernikahan itu sendiri juga dapat dikatakan sebagai transisi/perpindahan dari suatu fase kehidupan ke fase kehidupan berikutnya. Sama-sama bermakna awal baru. Setiap awal memiliki tantangan dan tujuannya sendiri, dan tentu harus dijalani bersama dengan salah satu persyaratannya: mampu mengenyampingkan ego masing-masing.

Selamat untuk kamu semua yang baru saja memasuki awal baru, terkhususnya untuk rekan kerja saya, Syarifah dan suaminya, Sucipto. Selamat menjalin hidup bersama mengarungi arus waktu dalam balutan cinta dan kasih. Barakallah...