Enjoy Sinema Jepang via Klik: Drama Apik hingga Menggelitik di Netflix

Moslem. Author of Arsenal: Sebuah Panggung Kehidupan
·waktu baca 9 menit
Tulisan dari Katondio Bayumitra Wedya tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Jika buku adalah jendela dunia, lantas film itu apa? Sejak pandemi corona, entah kenapa, minat membaca saya jadi agak menurun. Saya lebih suka menonton film, terpujilah Netflix yang menyajikan tontonan menarik.
Kenapa harus Netflix? Simpel saja, sih, niatnya biar tetap up-to-date dengan film atau serial yang sedang trending. Walaupun pada akhirnya, saya kebanyakan nonton film yang enggak trending.
Susahlah jadi orang aneh seperti saya yang selera tontonannya bukanlah selera kebanyakan orang dan mungkin malah film-film lama. Ya sudahlah, bagimu tontonanmu, bagiku tontonanku.
Yah, cukup basa-basinya. Intinya, saya cukup banyak menonton film dan serial Jepang di Netflix. Tentu, judul-judul yang rata-rata jarang diomongin orang karena memang film dan serial Jepang kalah pamor dari karya-karya dari Korea di Netflix.
Saya enggak anti-film dan serial Korea, lho. Nyatanya, banyak juga film dan serial dari 'Negeri Ginseng' yang saya tonton. Cuma, kali ini, saya mau bahas yang dari atau ada hubungannya dengan 'Negeri Sakura' dulu, karya-karya yang membekas di hati saya.
Spoiler? Ya, ada deh sedikit.
1) Memoirs of Geisha (2005) - Film
Saya membuka daftar ini dari film non-Jepang yang bercerita tentang Jepang, hahaha... Gampangnya, ini adalah film Amerika Serikat yang dibintangi aktor Amerika Serikat sendiri, Jepang, China, Malaysia, Hong Kong, Korea, hingga Vietnam.
Entah kenapa begitu, tetapi pada masanya jarang ada aktor dan aktris Jepang yang jago Bahasa Inggris dan tembus Hollywood. Plus, yah, wong Amrik memang suka menyama-nyamakan semua orang Asia.
Akan tetapi, film ini memang setting-nya di Jepang dan menceritakan tentang salah satu budaya yang khas di Jepang, yakni geisha. Film garapan sutradara Rob Marshall ini mampu mengubah cara pandang saya tentang geisha.
Sebelumnya, saya pikir, geisha adalah 'pelacur yang berbudaya'. Ya, karena saya pikir tugas mereka adalah berhubungan seks dan dibayar, ada mucikarinya, tetapi atribut mereka adalah kimono, pakaian khas Jepang.
Namun ternyata, saya salah. Film ini memberi tahu saya bahwa geisha bukanlah pelacur. Saya menyimpulkan bahwa geisha adalah entertainer atau penghibur. Tugas mereka adalah menghibur orang dengan cara mengobrol, bermain alat musik, dan menari.
Lantas, kenapa geisha identik dengan pelacur? Menurut saya, satu, karena ada 'ritual' yang mengharuskan mereka berhubungan seks untuk menandakan 'kedewasaan'. Nah, kalau enggak salah, orang yang mau 'membantu' seorang geisha melakukan 'ritual kedewasaan' itu harus mengeluarkan uang, bahkan sifatnya bidding.
Kedua, ini ada hubungannya dengan invasi Amerika Serikat ke Jepang pada momen pasca-Perang Dunia II. Ada beberapa wanita Jepang yang mengaku-ngaku sebagai geisha dan menjadi pelacur bagi tentara Amerika Serikat. Mungkin dari sini, terjadi pergesaran makna dari geisha itu sendiri di internasional.
Selain membuka pengetahuan dan memberi insight baru buat saya, film ini juga diwarnai drama yang oke. Plus, film ini juga menyajikan sinematografi Jepang yang terbilang bagus. Itulah kenapa, saya suka sekali film ini.
2) Blue, Painful, Fragile (2020) - Film
Film ini mampu membolak-balikkan hati saya. Awalnya, saya dibuat kagum oleh semangat si tokoh utama pria yang mengatakan ingin melakukan balas dendam terhadap idealismenya yang direngguh teman perempuannya.
Namun kemudian, pandangan saya kepada di tokoh utama pria berbalik 180 derajat. Yang tadinya saya mendukung perjuangannya, saya balik mengutuk-ngutuknya.
Saya bingung bagaimana cara menggambarkannya tanpa spoiler, hmm... Gini, deh. Dalam budaya di Indonesia, tampaknya ada aturan tak tertulis bahwa hanya perempuan yang boleh dan bisa mengatakan 'Aku enggak apa-apa', padahal sebenarnya 'kenapa-kenapa' saat ditanya soal kegusarannya.
Nah, bayangkan jika posisinya terbalik, cowok yang kayak begitu. Ngeselin, enggak? Ya iyalah!
3) Roommate (2013) - Film
Saya heran, kenapa film ini cuma dikasih rating 5,6 di IMDB. Padahal menurut saya, film ini bagus, lho.
Ya, intinya ini adalah film horor/thriller yang menarik buat saya. Ceritanya tidak absurd dan ada plot twist yang cukup oke.
Beberapa adegan bisa membuat saya tegang. Alurnya juga bisa memancing rasa penasaran saya tentang apa sebenarnya kebenaran di balik cerita ini.
Sinopsis ceritanya adalah ada seorang wanita yang tinggal bareng wanita yang baru dikenalnya. Mereka diperlihatkan lalu berteman baik, tetapi kemudian menjadi toxic. Ada apa sebenarnya? Ya, pokoknya, worth it untuk ditonton.
4) Alice in Borderland (2020) - Serial
Mana yang lebih bagus? Alice in Borderland atau Squid Game? Yailah, dua-duanya bagus.
Menurut saya, Alice in Borderland adalah film fiksi-ilmiah yang sangat menarik. Orang-orang yang suka dengan tema isekai bisa menikmati misteri dan keseruannya.
Sinopsisnya adalah sekumpulan orang tiba-tiba terjebak di dunia yang 'kosong', hanya orang-orang terpilih yang masih bisa menjalankan aktivitas berupa permainan. Sayangnya, ini adalah permainan yang menyeramkan.
Mereka harus terus bermain, hanya boleh beristirahat dengan waktu tiga hari. Jika lebih dari itu, katakan sayonara pada kehidupan yang fana ini. Plus, ada juga konflik psikologis yang menarik sekaligus pelik, melibatkan persahabatan juga.
Lantas, apa kebenaran di balik misteri dan kegilaan ini? Tonton saja, deh.
5) Our Sister's Soulmate (2020) - Serial
Seorang perempuan harus mengurus dan menafkahi tiga adik laki-lakinya. Ia terpaksa harus melakukannya karena kedua orang tuanya wafat akibat kecelakaan saat dia masih SMA dan adik-adiknya masih kecil.
Lalu kemudian, ia jatuh cinta pada seorang lelaki yang sekantor dengannya. Masalahnya, lelaki itu adalah mantan narapidana. Wow, wow, wow.
Hal yang membuat saya suka dengan drama ini, selain inti ceritanya di atas, adalah kecantikan Kasumi Arimura dan Nao Honda yang memikat hati, hehehe...
Terus juga, kombinasi pengambilan gambar dan musik yang dipilih untuk drama serial ini cukup mampu memberi rasa nyaman tersendiri ketika menontonnya. Tiga faktor ini cukup membuat saya betah menamatkannya.
Dan juga, buat lelaki yang pernah patah hati, barangkali patah hati yang dialami kita (iya, saya juga pernah) enggak ada apa-apanya dengan yang dialami si tokoh utama pria. Ia benar-benar merasakan pengkhianatan yang ultimate.
Kenapa? SPOILER nih, kalau enggak mau baca, bisa di-skip.
Si tokoh utama pria itu tadinya punya karier yang bagus. Dia pacaran dengan wanita cantik dari keluarga terhormat. Suatu malam, pacarnya hendak diperkosa sekumpulan pria mabuk. Refleks, si pria membela, dong, dan akhirnya membuat orang-orang jahat tadi terluka parah.
Namun, polisi lalu mengira si pria ini tukang bikin onar. Harusnya, kesaksian pacarnya bisa membuat si pria lepas dari hukuman karena itu adalah aksi membela diri.
Akan tetapi, nyatanya tidak. Lantas, si tokoh utama pria dianggap sebagai kriminal, dinyatakan bersalah, dan dipenjara.
Kenapa pacarnya tak mau bersaksi? Kalau tidak salah karena perintah orang tuanya yang malu kalau ketahuan anak perempuannya hendak diperkosa. Dari sini, saya tahu bahwa masalah semacam ini juga masih ada di negara maju seperti Jepang.
6) Asuko March! (2011) - Serial
Sampailah kita di empat drama Jepang terfavorit saya. Saya sebut dulu Asuko March! yang berkisah tentang siswi yang mau masuk SMA favorit demi menjadi batu loncatan ke kampus ternama, tetapi malah terjebak harus bersekolah di STM yang isinya pria-pria brutal. Nah, lho.
Serial ini cukup komplet. Dramanya ada, komedinya ada, pelajaran hidupnya juga ada. Khusus yang terakhir, ini bisa mengubah cara pandang anak-anak SMA yang berpikir bahwa segala hal yang berhasil di sekolah sudah pasti berhasil di dunia kerja. Bagus itu.
Dan juga, saya suka sekali bagaimana proses si tokoh utama cewek ini yang tadinya benci sekolah di sana, dimusuhi banyak cowok bahkan oleh sesama satu-satunya siswi di sekolah itu, lalu mulai nyaman, berteman, lalu dimusuhi lagi, dan bagaimana akhirnya serial ini tamat.
Serial yang bertema anak-anak SMA yang dikemas sebagus ini sanggup menyentuh hati saya. Mengingatkan saya tentang masa lalu, tentang hal yang dulu pernah saya lakukan dan tak pernah kesampaian saya lakukan.
7) Emergency Interrogation Room (Sejak 2014) - Serial
Suka dengan Detective Conan? Berarti drama ini pas buat kalian.
Bedanya, Conan berusaha mengungkap siapa pelaku pembunuhan dari sekian tersangka yang ada. Kalau ini, pelakunya sudah ketahuan, berhasil ditangkap polisi, tinggal bagaimana polisi bisa membuat dia mengaku.
Jadi, drama ini menceritakan tentang divisi khusus interogasi yang bertugas untuk membuat pelaku mengaku. Tidak gampang karena kekerasan tak diizinkan, bahkan bentak-bentak verbal juga dibatasi.
Mereka berhadapan dengan berbagai jenis orang, mulai dari pelaku yang terus menyangkal, pelaku yang diam 1.000 bahasa, orang yang mengaku-ngaku sebagai pelaku untuk melindungi pelaku sebenarnya, dan bahkan menginterogasi sesama polisi.
Skenarionya tidak monoton, ada plot twist tak terduga, ada konflik yang pelik antarkarakter, bahkan ada skandal dan politik di kepolisian itu sendiri. Seru, deh.
8) Stay Tuned! (2019) - Serial
Ada banyak film bagus tentang jurnalisme. Sebut saja The Post, Shock and Awe, hingga Nightcrawler. Namun, semua itu film yang sangat serius. Kalau mau yang chill dan lucu, tontonlah Stay Tuned! di Netflix.
Ini adalah serial tentang gadis muda yang jadi wartawan baru di stasiun televisi. Saya suka sekali serial ini karena komedinya bikin ngakak. Yoshine Kyoko sukses memerankan karakter gadis muda yang lugu, konyol, ceria, dan suka mengacau.
Ada pula konflik yang relate dengan kehidupan nyata. Yang kerja jadi wartawan pasti tahu bagaimana rasanya berkonflik dengan marketing, rasanya terpaksa harus bikin konten yang ramah rating/traffic, hingga rasanya berurusan dengan narasumber yang rada wadididaw.
9) Pretty Proofreader (2016) - Serial
Hal yang pasti saya bisa katakan soal drama ini adalah saya selalu terpukau di setiap episodenya. Saya bingung menyusun kata-kata yang baik untuk drama yang mampu menyentuh hati saya ini.
Intinya, buat saya, ini adalah drama ini benar-benar memberi saya pandangan dan inspirasi tentang bagaimana hidup di dunia kerja. Apalagi, saya yang bekerja di bidang jurnalistik.
Inti ceritanya ini adalah seorang perempuan yang berkali-kali melamar ke perusahaan media untuk menjadi editor sebuah majalah. Jadi, perusahaannya itu memiliki produk barang dan jasa. Barangnya berupa produk jurnalistik majalah dan jasanya adalah penerbitan.
Perempuan ini, yang diperankan Satomi Ishihara, ingin jadi editor di majalah favoritnya. Sayang, para bos lalu memutuskan bahwa dia diterima bekerja sebagai korektor di penerbitan.
Dari sinilah; drama, komedi, konflik, dan adegan-adegan inspiratif bermula. Sebab, tokoh utama perempuan tetap berusaha mengejar impiannya sebagai editor di sela pekerjaan sebagai korektor.
Ada beberapa etos kerja Jepang yang diperlihatkan di sini dan saya kagumi. Walau mungkin terkesan berlebihan untuk orang Indonesia, adegan-adegan yang ditampilkan mampu membuat saya salut pada orang Jepang yang pekerja keras. Beberapa di antaranya saya jadikan inspirasi.
Saya juga suka bahwa drama ini tidak naif bahwa segala sesuatu tak selalu sesuai bayangan dan impian kita. Ada titik di mana si tokoh utama perempuan hampir mencapai impiannya, tetapi ada penghalang dan benturan kenyataan yang tak diduganya.
Ada juga karakter penulis terkenal yang diperankan Takeshi Kaga yang menarik perhatian saya. Ya, karena mungkin tidak apa-apa jika kita menjalani karier tak sesuai idealisme kita.
Satu hal lagi yang saya suka sekali dari drama ini: Tsubasa Honda cantik banget. Hehehehe...
