Gak Ada Mobil Jelek di Singapura

Moslem. Author of Arsenal: Sebuah Panggung Kehidupan
·waktu baca 6 menit
Tulisan dari Katondio Bayumitra Wedya tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

“Can I ride with you, in your BMW,
You can sail with me, in my yellow submarine.”
-Oasis, ‘Supersonic’.
Gua sempat berpikir bahwa datang ke negara lain itu sama seperti mengunjungi dunia yang benar-benar baru. Atau istilahnya 'isekai' kalau kata para wibu.
Itulah yang ada di benak gua, saat pesawat pelat merah Indonesia yang membawa gua bersama rekan-rekan media lain mengudara ke Singapura pada 2022. Walau sesama negara Asia Tenggara, yang namanya negara maju pasti tetap berbeda dari segi penampilan kota dan lain-lain.
Begitu mendarat di Bandara Internasional Changi, rombongan kami disambut oleh seorang tour guide bernama... sebut saja Mr. A. Jujur, awalnya gua agak ragu, ini kami betulan udah di Singapura atau belum sih?
Soalnya, penampilan orang-orang di bandara ini, termasuk si Mr. A ini "Indonesia banget". Mr. A adalah orang berkumis tebal, dengan kulit agak cokelat, agak gendut, dan gaya berpakaian yang sangat santai—cuma pakai polo shirt putih, celana bahan hitam, dan sepatu sandal hitam.
Mr. A ini adalah anak hasil kawin campur etnis Melayu dan India muslim. Kepalanya sudah agak botak di bagian atas, khas bapak-bapak boomer yang sudah kenyang asam garam kehidupan.
Gua sempat mikir, orang Singapura kan biasanya fashionable banget, tapi kok si bapak santai banget? Tapi ya sudahlah, mungkin dia penganut prinsip "yang penting nyaman".
“Selamat datang di Singapur,” sapa Mr. A yang fasih berbahasa Melayu dan Indonesia itu.
Satu hal yang pasti: Mr. A ini pengetahuannya luas dan sangat suka bicara. Well, kalau introvert kayak gua sih sudah pasti gak bakal bisa jadi tour guide ya.
Kami dijemput naik minibus warna putih yang bentuknya mirip Espass. Mr. A gak sendirian menemani kami. Ia bersama seorang sopir yang merupakan orang Melayu asli. Gua lupa namanya, karena Mr. A biasa hanya menyapanya sekadar “Abang”.
Begitu masuk mobil, mata gua langsung tertuju pada botol minuman multivitamin rasa lemon di dekat kursi sopir. Mereknya sama persis dengan yang gua beli di Soetta. Well, berarti selera minuman kemasan orang Indonesia dan Singapura sama ya.
Sepanjang perjalanan dari bandara menuju hotel dari bandara, Mr. A bercerita banyak soal sejarah Singapura, mulai sejarah Bandara Changi yang berdiri di atas tanah reklamasi hingga bagaimana terbentuknya Singapura dari zaman baheula.
Dia juga tahu kisah tentang Sang Nila Utama, seorang Pangeran Sriwijaya sekaligus pendiri Kerajaan Singapura (nama lainnya Kerajaan Temasek). Asli, Mr. A ini sudah kayak Wikipedia berjalan.
Nah, ini juga persamaan Melayu Indonesia dan orang Melayu Singapura. Gua awalnya berpikir bahwa Mr. A dan sopirnya ini akan lebih terbiasa disapa “Pak Cik”, begitulah pertama kali gua menyapa mereka. Namun ternyata, sapaan “Pak” dan “Abang” itu juga lumrah di sana.
Jadi, Mr. A dan Si Abang ini kalau yang gua tangkap lebih kayak mitra dari perusahaan sponsor kami, bukan pegawai tetapnya. Dan perusahaan sponsor kami memang bekerja sama dengan banyak tour guide setempat. Mereka punya pilihan tour guide yang bisa Bahasa Melayu/Indonesia seperti Mr. A, ada juga orang yang bisa berbahasa China, dan ada yang menguasai bahasa asing lain.
Dengan kecepatan yang wajar, mobil yang kami tumpangi itu mulai meninggalkan Changi dan menuju penginapan yang berada di kompleks Universal Studio, Sentosa Gateway. Itu jaraknya hampir 30 km dan memakan waktu kurang lebih 30 menit.
Tadi gua bilang di awal kalau gua merasa gak akan mengalami culture shock selama di Singapura. Tapi sepanjang perjalanan dari bandara ke hotel, gua mulai merasakan culture shock yang bikin batin bergejolak. Ya, ternyata di Singapura gak ada mobil jelek!
Ketika gua bilang gak ada mobil jelek, ini gak cuma perkara mereknya apa dan harganya berapa, tapi dari penampilan luarnya. Mobil-mobil di Singapura tampak mulus dan kinclong semua. Kalau di Indonesia, mobil mahal saja masih ada yang kelihatan kucel kena polusi pekat, tapi di Singapura gak gitu, mulus semua.
Bahkan, truk dan mobil pickup di sana terawat dengan sangat baik. Gak ada tuh yang asap knalpotnya hitam pekat. Gak ada juga truk yang di bagian belakangnya tulisan-tulisan 'kreatif' semacam "Tahanan Mertua" atau curhatan galau "Sempat Menikmati tapi Gak Sempat Menikahi". Payah, sopir truk Singapura, kurang kreatif!
Kalau kata Mr. A, beli mobil di Singapura itu rumit. Ada banyak persyaratannya, tapi yang paling gua ingat adalah orang yang memiliki mobil di Singapura harus memiliki deposit dalam jumlah tertentu di tabungannya. Jadi, sudah harga mobilnya mahal, kita juga harus standby uang dalam jumlah tertentu pula, sehingga gak semua orang bisa punya mobil.
Apa alasannya? Mr. A jelasin, karena Pemerintah Singapura menuntut warganya bertanggung jawab dengan mobil yang mereka punya masing-masing. Kalau mobil itu rusak, si pemilik harus bisa merawatnya dan memperbaiki mobil itu.
Ya, jelas kalau memperbaiki dan merawat mobil itu harus pakai duit, dong. Sebab, mobil rusak itu bisa berpotensi membahayakan pengemudi lain di jalanan, makanya kalau rusak harus segera dibenerin.
Dan juga, alasan mobil di sana tampak kinclong, jelas karena bukan mobil second, sepertinya ini juga cara warganya meyakinkan bahwa mobil itu memang terawat dengan baik. Sebab intinya, kalau warga Singapura ketahuan gak bisa merawat mobilnya, gak bisa benerin kalau mobilnya rusak, bisa-bisa kena denda.
Duit lagi, duit lagi. Memang negara penuh denda sih Singapura ini.
Jadi memang ada aturan ketat lah kalau kita mau punya mobil di Singapura. Kalau gak salah, pas mau beli nih, orang showroom-nya bakal nanya kita punya deposit tabungan berapa. Gua lupa tepatnya, pokoknya di atas 10.000 dolar Singapura dah.
Dan di Singapura ini, ada istilah “Mobil Akhir Pekan”. Jadi, orang-orang Singapura yang belum cukup mampu beli mobil, bisa sewa mobil kalau misalkan mereka butuh untuk jalan-jalan sama keluarga atau keperluan lain di akhir pekan.
Oh iya, dan di Singapura ini, jarang banget gua lihat ada motor. Sekalinya ada, pasti motor gede (moge). Orang-orang di Singapura juga gak wajib pakai helm kalau naik motor. Saat ditanya kenapa, Mr. A juga rada bingung.
Saat udah makin dekat dengan hotel, gua malah melihat ada insiden di jalanan. Sebuah mobil terguling di tengah jalan. Jadi posisinya kayak orang rebahan nyamping. Sejumlah polisi berada di dekatnya, mungkin mau cek sopirnya kenapa-kenapa atau gak.
Kata Mr. A, insiden kecelakaan lalu lintas kayak gitu sebenarnya jarang banget di Singapura. Dan biasanya kalau ada, kejadian itu akan langsung jadi berita yang ‘cukup penting’ untuk diliput oleh para jurnalis setempat.
“Ah, kalau di daerah gua mah, Cakung-Cilincing alias ‘Cacing’, tiap hari pasti ada aje kecelakaan,” sahut Bang B, wartawan senior yang udah kenyang makan asam-garam di media TV dan daring.
“Kalau kita kagak hati-hati, bisa-bisa kita juga yang masuk jadi berita gegara jadi korban kecelakaan,” tambahnya.
Kami tertawa terbahak-bahak di dalam mobil. Tapi di dalam hati, sejenak gua merasa, kayaknya tantangan hidup jadi jurnalis di Indonesia jauh lebih berat dari jurnalis Singapura.
