Inspirasi dari Para Penghafal Al-Qur'an Ponpes Darul Qur'an

Moslem. Author of Arsenal: Sebuah Panggung Kehidupan
Tulisan dari Katondio Bayumitra Wedya tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Santri-santri Pondok Pesantren Darul Qur'an (Foto: Ponpes Daqu)
Sabtu, 28 April 2018, suasana di Pondok Pesantren Darul Qur'an (Ponpes Daqu), Kota Tangerang, Banten lebih ramai dari biasanya. Bagaimana tidak? Santri-santri Ponpes Daqu dari cabang lain di berbagai daerah di Indonesia hadir di sana. Mereka yang hadir di Ponpes Daqu pusat tersebut adalah yang telah ditetapkan lulus menjadi hafiz dan hafizah (penghafal Al-Qur'an) sesuai dengan target hafalan yang telah diberikan oleh pesantren. Total sebanyak 508 santri penghafal Al-Qur'an akan diwisuda pada hari Minggu, 29 April 2018 di Masjid Istiqlal, Jakarta Pusat.
Ponpes Daqu sendiri tidak serta merta mewajibkan para santrinya untuk dapat langsung menghafal 30 juz Al-Qur'an dalam satu tahunnya, melainkan disesuaikan dengan tingkatan usia dan pendidikan. Bagi para santri SD, mereka ditargetkan dapat hafal minimal 5 juz setiap tahunnya, sedangkan untuk tingkat SMP dan SMA adalah minimal 15 juz setiap tahunnya. Akan tetapi, selalu saja ada yang paling baik dari yang terbaik, ada yang paling bersemangat di antara yang lain. Ponpes Daqu, tahun ini, telah menetapkan masing-masing satu hafiz dan hafizah.
Mereka adalah santri bernama Firmansyah (kelas 8, setingkat kelas 2 SMP) dan santriwati bernama Khoirunnisa (kelas 11, setingkat kelas 2 SMA). Pada hari sabtu (28/4), saya berkesempatan mewawancarai mereka dan ada inspirasi yang dapat digali dari para penghafal Al-Qur'an cilik ini.

Wawancara dengan Firmansyah (tengah) dan Khoirunnisa (kanan) (Foto: Gumanti)
Firmansyah
Santri pertama yang saya wawancarai adalah Firmansyah asal Riau. Hal yang unik dari santri cilik yang satu ini adalah dia sudah lebih dulu khatam hafalan Al-Qur'an sebanyak 30 juz dari sebelum menjadi santri di Ponpes Daqu. Sebelumnya ia adalah santri di sebuah pesantren di Riau, lalu sejak kelas 8 ia pindah menimba ilmu di Ponpes Daqu. Hal yang luar biasa adalah waktu yang dibutuhkan oleh Firmansyah menghafalkan Al-Qur'an sebanyak 30 juz hanya 7 bulan saja.
Orang tua adalah motivasi utama Firmansyah dalam proses menjadi seorang hafiz, "saya ingin membanggakan orang tua".
Anak kedua dari tiga bersaudara ini juga berbagi sedikit tips dan trik untuk dapat menghafalkan Al-Qur'an dalam waktu singkat. Ia mengatakan bahwa target hafalan hariannya adalah berdasarkan jumlah halaman.
"Sehari bisa 10 halaman," tuturnya.
Manusia adalah tempatnya salah dan lupa. Terkadang, kita sudah berhasil menghafalkan beberapa ayat Al-Qur'an pada suatu hari, lalu ketika esoknya masuk ke hafalan yang baru, ada kemungkinan kita akan lupa lagi hafalan yang kemarin. Untuk mengatasi hal tersebut, kebijakan setoran hafalan di pesantren tempatnya dulu menimba ilmu (yang biasanya juga kurang lebih sama dengan pesantren-pesantren lain di Indonesia, termasuk Daqu) adalah salah satu hal yang membantunya.
"Jadi, kita setiap subuh (diwajibkan) setoran (hafalan Al-Qur'an) baru. Siangnya setoran yang lama (hari-hari sebelumnya)," kata Firmansyah yang menurutnya cara tersebut cukup efektif guna menjaga ingatannya agar tidak mudah lupa dengan hafalan Al-Qur'an.
Firmansyah juga menuturkan bahwa momen atau waktu yang ia pilih untuk menghafalkan Al-Qur'an adalah setiap selesai shalat fardhu. Ia juga kerap memanfaatkan waktu senggangnya untuk menghafalkan Al-Qur'an. Kombinasi metode-metode inilah yang membuat kita tidak perlu heran bahwa ia mampu melahap hafalan 30 juz Al-Qur'an dalam waktu singkat. Ditambah lagi, ia memang anak yang bersemangat dalam menghafal Al-Qur'an.
Ketika ditanya mengenai surat apa dalam Al-Qur'an yang menjadi favoritnya, Firmansyah langsung menjawab bahwa ia menyukai Surat Ar-Rahman. "Karena kalau baca itu (Surat Ar-Rahman) hati jadi lebih enak, nyaman," kata santri yang bercita-cita menjadi pengusaha di bidang dakwah Islam ini.
Ketika dimintai pesan untuk para calon hafiz dan hafizah, ia berkata, "pantang menyerah! (dalam menghafal Al-Qur'an)".
Khoirunnisa
Selanjutnya, saya mewawancarai Khoirunnisa asal Sampit, Kalimantan Tengah. Di awal sesi wawancara, ia menceritakan alasan dibalik kenapa ingin menjadi seorang penghafal Al-Qur'an. Dan orang tua adalah alasan utamanya.
"Ingin menyenangkan orang tua, ingin memakaikan mereka mahkota di akhirat kelak," tutur Khoirunnisa.
Sedikit berbeda dengan Firmansyah, anak tertua dari 3 bersaudara ini menghafalkan Al-Qur'an setahap demi setahap sejak pertama kali menjadi siswa di Ponpes Daqu, yaitu saat kelas 1 SMP. Total waktu Khoirunnisa bisa hafal 30 juz Al-Qur'an adalah 5 tahun. Tidak sekaligus dalam setahu, tetapi itu tidak menghalanginya menjadi hafizah terbaik Ponpes Daqu tahun 2018.
Pada prosesnya, Khoirunnisa mengatakan bahwa ia sehari menghafalkan minimal satu halaman Al-Qur'an. Ia kerap memanfaatkan waktu luang kala menunggu azan shalat wajib untuk menghafalkan Al-Qur'an. Ia juga mengatakan bahwa amat penting mengulang hafalan agar ayat-ayat yang sebelumnya telah berhasil dihafalkan menjadi tidak lupa lagi.
"Ba'da (shalat) Subuh setoran hafalan baru. Sorenya, diulang lagi (hafalan yang hari-hari sebelumnya)," katanya.
Baik Khoirunnisa, maupun Firmansyah belum hafal 100% arti/terjemahan dari keseluruhan Al-Qur'an. Namun, Khoirunnisa justru memanfaatkan terjemahan Al-Qur'an untuk memudahkannya dalam menghafal.
"Kadang kalau hafalan (ayat atau suratnya) agak susah, sambil dibaca artinya (terjemahannya)," jelasnya.
Bagi Khoirunnisa, manfaat yang ia rasakan selama proses menjadi seorang penghafal Al-Qur'an adalah membuat dirinya menjadi lebih mencintai Al-Qur'an itu sendiri. Surat dalam Al-Qur'an yang paling berkesan untuknya adalah As-Saffat.
"(Lebih berkesan) karena paling susah (dihafalkan)," katanya sambil diirini tawa kecil.
"(Ayatnya) pendek-pendek, banyak yang sama (bunyi ayatnya)".
Sebagai salah satu mukjizat terbesar yang diberikan Allah SWT. kepada Nabi Muhammad SAW., maka bagi Firmanysah dan Khoirunnisa, menghafalkan Al-Qur'an adalah sesuatu yang amat perlu diperjuangkan. Tidak peduli sesibuk apapun kegiatan menjadi seorang santri, harus disempatkan waktu untuk menghafalkan Al-Qur'an. Janji manis Allah SWT. untuk para penghafal Al-Qur'an di akhirat kelak dan keinginan berbakti kepada kedua orang tua adalah motivasi utama mereka berdua untuk tetap konsisten dan tak patah semangat menjadi hafiz dan hafizah.
Saya juga sempat mewawancarai Ustadz Kholis, selaku ketua wisuda para hafiz dan hafizah Ponpes Daqu untuk tahun 2018. Beliau juga merupakan salah satu pengajar di Ponpes Daqu. Ia juga kerap meladeni para santri yang hendak melakukan setoran hafalan Al-Qur'an. Pagi dan sore adalah waktu yang digunakan untuk para santri melakukan setoran hafalan.
Acara wisuda merupakan cara pondok pesantren binaan Ustadz Yusuf Mansur ini dalam memberikan penghargaan kepada seluruh santri yang berhasil menghafalkan Al-Qur'an sesuai target minimal. Berdasarkan keterangan dari beliau, untuk menentukan santri mana saja yang dapat dikategorikan sebagai yang terbaik di antara santri wisudawan lain adalah Ponpes Daqu punya cara pemberian nilai tersendiri, begitu pula dengan sistem ranking.

Sosok Ustadz Kholis (kiri) (Foto: Gumanti)
Ustadz Kholis memberikan sedikit motivasi kepada para calon penghafal Al-Qur'an. Ia berpesan, "ingat akhirat, ingat orang tua".
Dalam ajaran Agama Islam, Allah SWT. berjanji akan memberikan ganjaran yang baik bagi para penghafal Al-Qur'an di akhirat kelak. Namun, manfaat itu tidak akan hanya dirasakan oleh sang penghafal seorang, melainkan orang tua mereka juga akan mendapatkan manfaatnya. Itulah mengapat memiliki anak yang berbakti adalah salah satu anugerah terbesar manusia dalam hidup. Pada akhirnya, mengingat akan kehidupan akhirat yang abadi dan memiliki rasa cinta kepada kedua orang tua adalah motivasi yang sangat efektif bagi para penghafal Al-Qur'an, tak terkecuali Firmansyah dan Khoirunnisa.
Membahagiakan orang tua itu ternyata tidak selalu hanya dengan cara menghadiahkan kepada mereka materi, tetapi juga dapat dengan cara yang sederhana, seperti rajin membuka dan membaca Al-Qur'an setiap harinya. Syukur-syukur hati kita digerakkan untuk tertarik menghafalkannya.

Pondok Pesantren Darul Qur'an (Foto: Katondio Bayumitra Wedya)
