Pencarian populer

Kenangan Siang yang Terik dan Malam nan Terang di GBK

Pada 2017 lalu, saya pernah berdoa di Instagram. Literally, menuliskan kalimat doa kepada Tuhan pada caption salah satu posting-an di akun instagram pribadi saya. Silahkan tertawa, tetapi harus kalian tahu bahwa doa itu dikabulkan Tuhan.
ADVERTISEMENT
Saat itu pagi hari, tepatnya pada 18 September 2017, saya tengah berjalan dengan lesu dan kurang bergairah di salah satu trotoar jalanan di bilangan Sudirman. Saya punya alasan, saya membayangkan hari itu akan kembali menjadi hari-hari kerja yang membosankan seperti biasanya. Ya, saya merasa muak dengan rutinitas harian saya sebagai seorang pegawai bank dan merasa frustrasi karena panggilan kerja dari beberapa perusahaan yang saya lamar tak kunjung muncul.
Di jalanan itu, mobil dan motor sudah berlalu lalang tapi belum terlalu padat karena masih sekitar pukul 6 pagi. Langit tidak terlalu biru, terlihat kelabu, udara juga masih terasa sejuk. Perhatian saya kemudian tertuju pada umbul-umbul yang sudah berhari-hari tertancap di samping pohon-pohon yang berdiri tegak di antara jalan raya.
ADVERTISEMENT
Itu adalah umbul-umbul Asian Games 2018. Pada waktu itu saya sudah cukup sering membaca dan menulis artikel bertema olahraga, bahkan sampai sekarang. Melihat itu, langkah saya terhenti sejenak, seraya berharap tahun depan saya sudah dapat menjadi penulis atau jurnalis profesional, yang memang secara reguler dibayar untuk meliput dan menulis, kalau bisa tentang olahraga.
Akhirnya, saya berinisiatif mengeluarkan smartphone saya, membuka aplikasi kamera, lalu memotret umbul-umbul itu berkali-kali hingga mendapat gambar yang bagus. Baru setelah itu saya mengunggahnya dengan menambahkan caption dan tagar.
Salah seorang teman saya di masa kuliah menuliskan komentar, "Lo ikutan jadi volunteer ton?". Lalu, saya jawab, "pengennya, lebih dari itu".
Secara tersirat, memang saya berharap dapat menjadi reporter atau penulis yang meliput ke sana dan dibayar untuk itu, dalam artian status saya sudah bekerja full time untuk sebuah media. Namun, nyatanya, Tuhan berkehendak lain. Nampaknya, Tuhan ingin menguji sejauh mana rasa syukur saya atau mungkin punya maksud lain.
ADVERTISEMENT
***
Seperti yang saya bilang tadi, doa saya dikabulkan-Nya. Akan tetapi, Tuhan mengabulkannya dengan cara yang berbeda. Saya belum jadi penulis dan/atau jurnalis di salah satu media tanah air. Saya masih menjadi pegawai bank.
Berhubung bank tempat saya bekerja adalah bank BUMN, maka otomatis bank saya merupakan salah satu sponsor untuk perhelatan Asian Games 2018. Saya mendapatkan informasi bahwa bank tempat saya bekerja akan mendirikan booth di Arena Akuatik Gelora Bung Karno (GBK) selama 4 hari, 16-19 Agustus 2018. Orang-orang yang dipilih untuk mengisi booth itu, tadinya, bukan saya, tidak ada nama saya didaftarkan oleh kantor.
Namun, terjadi perubahan di mana booth tidak akan berdiri selama 4 hari saja, melainkan selama 2 minggu, hingga 1 September 2018. Dari situlah, nama saya kemudian dimasukkan oleh manajemen. Begitulah sekiranya Tuhan mengabulkan doa saya.
Sebenarnya, tugas saya di sana adalah berjualan uang elektronik dan menjadi petugas money changer. Kami mendapat semacam temporary pass dan bump in pass yang memungkinkan kita boleh menonton pertandingan di arena akuatik secara gratis. Di booth itu, setidaknya saya ditempatkan bersama 2 orang. Jadi, jika salah satu ingin menonton, maka yang satunya bisa berjaga sendirian.
ADVERTISEMENT
Total selama 10 hari saya berjaga di sana dari senin sampai jumat. Saya yang masih memendam hasrat menjadi penulis, sekaligus jurnalis mulai berlagak sebagai reporter. Mulai dari memotret, merekam, duduk di tribun media, hingga memberikan liputan singkat melalui fitur story di Instagram. Sampai-sampai saya membuat jurnal, ya seperti ini juga, selayaknya petugas media yang benar-benar ditugaskan meliput oleh redakturnya.
Akibat saya yang terlalu narsis update status dengan seolah-olah saya adalah jurnalis atau reporter lapangan, sampai-sampai beberapa teman keheranan, dan bertanya apakah saya sebenarnya sudah resign atau belum.
Bahkan, ada beberapa teman yang juga dari kalangan media bertanya informasi mengenai akses, jadwal, hingga transportasi kepada saya. Saya yang tidak bisa mendapatkan banyak informasi merinci karena bukan mewakili media, akhirnya mengimbau mereka agar langsung saja ke Media Press Center (MPC) yang terletak di gedung Jakarta Convention Center (JCC).
ADVERTISEMENT
Saya amat menikmati hari-hari itu. Siang yang amat terik, hingga uang saya kadang habis hanya untuk membeli minuman dingin. Saya membayangkan bahwa reporter memang harus terbiasa dengan cuaca sepanas apapun di dalam peliputan.
Saya juga menyempatkan diri berkunjung ke Zona Kaka dan merasakan atmosfer nonton bareng semifinal bulu tangkis di sana. Seru dan mendembarkan. Layar besar dipasang di depan Stadion Utama Gelora Bung Karno di bawah sinar matahari yang sangat terik. Namun, semangat menonton dan mendukung atlet bulu tangkis Indonesia tak surut dan tetap membara.
Bicara soal GBK, maka saya teringat dengan salah satu artikel yang pernah dituliskan oleh Zen RS, yang kemudian dibukukan dalam buku berjudul "Simulakra Sepakbola". Dalam buku tersebut, naskah itu berjudul "Malam Terang di GBK".
ADVERTISEMENT
Isinya seputar perjuangan Zen RS dan kawan-kawannya untuk mendapatkan tiket masuk ke dalam stadion kala pertandingan semifinal Piala AFF 2010 antara Indonesia melawan Filipina. Mereka butuh tiket itu demi sebuah misi membentangkan spanduk besar bertuliskan “PSSI SARANG KORUPSI” di dalam stadion.
Sebuah kalimat terakhir dari tulisan itu sangat saya sukai. Kalimat tersebut adalah "Setidaknya malam itu saja: sebuah malam terang di GBK". Seumur-umur saya belum pernah main ke GBK malam hari.
Sayangnya, dalam jadwal jaga yang telah disusun, saya hanya berkesempatan jaga di shift 1, tidak ada sama sekali jadwal shift 2 (yang berlangsung hingga jam 9 malam) untuk saya.
Senang sih karena tidak pulang terlalu larut tapi saya ingin merasakan, setidaknya, sekali saja dalam hidup sebuah malam yang terang di GBK. Membatin seperti itu, Tuhan kembali mendengarnya.
ADVERTISEMENT
Tanggal 29 Agustus 2018, waktu sudah menunjukkan pukul 17:25. Teman kerja saya menelpon bahwa sebentar lagi waktunya pergantian shift dan dia juga mengatakan bahwa dia sudah ada di dalam mobil, sebentar lagi sampai. Saya dan satu rekan saya langsung bergegas menuju gerbang 11 karena janjian di sana.
Alhamdulillah, karena begitu menuju shuttle bus, bus sudah sedia di sana. Lalu, kami naik, tidak lama kemudian bus itu jalan. Baru beberapa langkah keluar dari pintu gerbang 11, drama terjadi. Tas punggung saya tertinggal di booth.
Pengunjung bersantai sambil nonton bareng (nobar) Asian Games 2018 di tenda Asian Fest, Gelora Bung Karno, Jakarta, Sabtu (25/08/2018). (Foto: Nugroho Sejati/kumparan)
Saya memang sudah merasa seperti ada yang kurang dari diri saya ketika meninggalkan arena akuatik. Namun, saya tidak tahu apa itu, saya hanya merasa, "aduh ini kayaknya ada yang kurang". Saya baru ngeh dan panik seketika saat keluar bahwa saya tidak membawa tas punggung saya.
ADVERTISEMENT
Aneh karena tas punggung itu lumayan besar, dan tidak pernah saya ketinggalan tas punggung sebelumnya. Ketinggalan charger dan kacamata atau botol minum mungkin itu biasa karena memang biasa terselip atau lupa dimasukkan tapi kali ini yang tertinggal adalah tas. Luar biasa keheranan, "kok bisa ya?" pikir saya.
Saya benar-benar bingung karena pertama, kalau mau masuk lagi, maka saya harus mengulang perjalanan naik bus yang memakan waktu. Kedua, mobil kantor sudah tiba dan jalanan sangat macet, pasti menunggu saya hanya akan membuang waktu mereka. Akhirnya, saya berpikir bahwa solusi terbaik adalah saya tidak pulang dengan mobil kantor, saya biarkan supir dan rekan shift 1 saya pulang duluan.
Mengejutkan karena mungkin dengan cara ini, Tuhan mengabulkan doa saya untuk menikmati malam terang di GBK. Setelah pamit kepada supir dan teman kantor, saya kembali masuk lewat gerbang 11. Masuk waktu maghrib selagi saya sedang menunggu bus menuju arena akuatik.
ADVERTISEMENT
Saya berpikir untuk melaksanakan salat di arena akuatik. Setelah itu, absen di booth, baru kemudian menikmati malam di GBK. Malam yang terang di GBK.
Selepas menunaikan ibadah salat maghrib, saya kembali menaiki bus menuju gerbang 6. Saya tidak terburu-buru, setiap sudut terang GBK saya jepret dengan kamera smartphone saya yang ala kadarnya itu. Mulai dari shuttle bus, Zona Bhin Bhin, area patung Soekarno, hingga area obor tak lepas dari kamera saya. Ternyata malam terang di GBK begitu indah.
Orang-orang beswafoto ria di berbagai sudut, duduk-duduk di depan layar besar menonton lomba akuatik, berpelukan dengan kekasihnya, tertawa riang bersama teman-teman dan keluarganya. Saya menikmati semua pemandangan itu dengan hati yang gembira. Saya sendirian tapi tidak merasa kesepian.
ADVERTISEMENT
Saya benar-benar tersenyum bahagia. Saya memang tidak paham kenapa Tuhan mengabulkan doa-doa saya dengan cara yang seperti ini. Namun, saya benar-benar bersyukur dapat menikmati siang yang terik dan malam yang terang di GBK, di tengah lautan manusia. Semua itu menjadi kenangan, sekaligus pengalaman hidup yang berharga dan tak terpermanai.
Saya tentunya masih terus berdoa dan berharap untuk menjadi penulis dan jurnalis profesional. Saya tidak mau menyerah dan menolak takut. Bagi saya, mengejar mimpi, hingga terwujud adalah harus. Namun, nampaknya Tuhan hendak mengajarkan bahwa langkah pertama dari semua itu adalah bersyukur.
***
Semua foto berasal dari dokumentasi pribadi saya.
Tulisan ini adalah kiriman dari user, isi tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan
Tentang kumparan · Bantuan · Ketentuan dan Kebijakan Privasi · Panduan Komunitas · Pedoman Media Siber · Iklan · Karir
2019 © PT Dynamo Media Network
Version: 1.1.80