Konten dari Pengguna

Kiprah Afrika Selatan di MotoGP: 3 Juara Dunia, 2 Bendera, 1 Negara

Katondio Bayumitra Wedya

Katondio Bayumitra Wedya

Moslem. Author of Arsenal: Sebuah Panggung Kehidupan

clock
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Katondio Bayumitra Wedya tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Kiprah Afrika Selatan di MotoGP: 3 Juara Dunia, 2 Bendera, 1 Negara
zoom-in-whitePerbesar

Brad Binder (kiri) dan Kork Ballington (kanan) membentangkan bendera Afrika Selatan (Foto: MotoGP)

Jika pebalap-pebalap dari Benua Asia adalah minoritas di MotoGP, maka sebenarnya ada lagi yang lebih minoritas, yaitu para pebalap dari Benua Afrika. Walaupun jumlah mereka teramat sedikit, tetapi sejarah mencatat bahwa MotoGP pernah memiliki juara-juara dari benua hitam. Afrika Selatan contohnya, yang memiliki tiga orang juara dunia balap MotoGP.

Satu hal yang cukup menarik (atau mungkin juga ironis) mengenai para juara dari Afrika Selatan ini adalah: Mereka semua adalah orang-orang kulit putih.

Sebelum lebih lanjut membahas mengapa kira-kira hal tersebut bisa terjadi, ada baiknya kita kenalan dulu dengan para juara yang dimaksud.

Kork Ballington

Kiprah Afrika Selatan di MotoGP: 3 Juara Dunia, 2 Bendera, 1 Negara (1)
zoom-in-whitePerbesar

Sosok Kork Ballington (Foto: Alchetron)

Pria yang lahir dengan nama Hugh Neville Ballington ini aktif di dunia balap MotoGP pada periode 1976 sampai 1982. Selama 6 tahun di MotoGP, Ballington sukses menjadi orang Afrika Selatan yang mengoleksi 4 gelar juara dunia. Bisa dibilang, ia adalah orang dari kawasan Benua Afrika ketiga yang menjuarai kejuaraan dunia MotoGP (sebelumnya ada nama Gary Hocking dan Jim Redman dari Rhodesia Selatan, yang juga tergolong white people).

Pria kelahiran Rhodesia Selatan (sekarang Zimbabwe) ini bukan anak dari seorang mantan pebalap. Kork Ballington adalah anak dari seorang pria yang mengelola sebuah usaha percetakan, tidak ada kultur atau dorongan untuk balapan dari dalam keluarga intinya. Hasratnya menjadi seorang terinspirasi oleh mantan juara dunia, Jim Redman.

Sejak usia 14 tahun, Kork Ballington mulai serius menekuni dunia balap di daerah tempat tinggalnya, Durban, Afrika Selatan. Dulu, dia membalap di hampir seluruh kawasan Afrika Selatan dengan motor hasil modifikasi sendiri, terkadang juga dengan motor-motor balap second-hand. Honda 50 adalah motor balap custom yang ia gunakan pada tahun 1967, lalu berkembang ke Honda C110.

Ia berhasil memenangkan semacam beasiswa untuk balapan di Inggris, yang jelas menjadi jalan terang langkahnya menuju kejuaraan yang lebih bergengsi. Atas kegigihannya itu, Ballington menjadi semakin dekat dengan MotoGP.

Kiprah Afrika Selatan di MotoGP: 3 Juara Dunia, 2 Bendera, 1 Negara (2)
zoom-in-whitePerbesar

Aksi Kork Ballington di Swedia (Foto: motorsportretro.com)

Kork Ballington meraih gelar juaranya pada tahun 1978 dan 1979, dimana di kedua tahun tersebut ia meraih double winner pada kelas 250 cc dan 350 cc MotoGP. Keempat gelar juaranya itu ia raih ketika menunggangi motor Kawasaki. Praktis, pria kelahiran 10 April 1951 ini adalah satu dari sekian pebalap yang mampu berjaya dengan motor Kawasaki di ajang MotoGP.

GP Inggris adalah balapan yang menyimpan memori manis baginya. Total 6 podium pertama (masing-masing 3 podium di kelas 250 cc dan 350 cc) ia rengkuh di sirkuit Silverstone. Namun, jika bicara balapan paling berkesan, mungkin itu adalah GP Yugoslavia tahun 1978 yang berlangsung di sirkuit Rijeka (sekarang bagian dari negara Kroasia).

Pada balapan yang berlangsung tanggal 17 September itu adalah penentuan terakhir siapa yang akan menjadi juara kelas 250 cc tahun 1978. Kork Ballington bersaing ketat dengan sesama pebalap Kawasaki asal Australia, Gregg Hansford di tabel klasemen.

Balapan di hari minggu itu berlangsung sebanyak 29 lap, dan hasil akhirnya Gregg Hansford finish pertama. Kork Ballington sendiri finish di urutan ke-3 di belakang pebalap Anton Mang asal Jerman Barat. Akan tetapi, jika melihat dari hitung-hitungan poin, Kork Ballington lah yang akhirnya menjadi juara dunia pada masa itu.

Pada tahun 1980 ia mulai mencoba berlaga di kelas 500 cc. Ada cerita menarik yang sempat membuat Ballington mengalami dilema di akhir tahun 1979. Ia sempat tergoda untuk beralih ke motor Suzuki untuk kelas 500 cc.

Kiprah Afrika Selatan di MotoGP: 3 Juara Dunia, 2 Bendera, 1 Negara (3)
zoom-in-whitePerbesar

Kork Ballington di atas motor Kawasaki KR500 (Foto: imgrum/@yossi.46)

Setelah melewati serangkaian pertimbangan yang matang pria yang pernah hampir mati akibat infeksi pada perutnya ini, akhirnya mantap tetap melaju bersama Kawasaki. Uang adalah persoalan utamanya.

"Suzuki adalah pilihan, tetapi aku tidak senang dengan uang (bayarannya)," ungkapnya beberapa tahun silam.

"Kawasaki menawarkanku uang (bayaran) lebih dan loyalitas lebih. Aku khawatir jika aku tidak dapat 'klik' dengan (motor) Suzuki, aku bisa-bisa gagal di akhir tahun pertama," tambahnya.

Akan tetapi, pilihannya menetap di Suzuki tidak memberikan kejayaan apapun baginya di kelas 500 cc MotoGP. Hanya podium ketiga di GP Belanda dan Finlandia pada tahun 1981 yang merupakan prestasi terbaiknya. Ia meninggalkan MotoGP setelah tahun 1982.

Jon Ekerold

Kiprah Afrika Selatan di MotoGP: 3 Juara Dunia, 2 Bendera, 1 Negara (4)
zoom-in-whitePerbesar

Sosok Jon Ekerold (tengah) pada sebuah selebrasi (Foto: SuperBike Magazine South Africa)

Jonathan Ekerold adalah juara MotoGP dari Afrika Selatan untuk kelas 350 cc. Ia menjuarai ajang tersebut pada tahun 1980 dengan motor Bimota-Yamaha. Ekerold menjadi juara setelah menyelesaikan total 6 seri balapan, dengan 3 kali naik podium pertama, 1 kali podium kedua, sisanya finish di urutan ke-6 dan ke-10.

Keberhasilan pria kelahiran Johannesburg, Afrika Selatan untuk menjadi juara dunia tersebut sebenarnya adalah suatu hal yang mengejutkan pada masanya. Tahun 1980 sudah memasuki era modern MotoGP, dan Jon Ekerold adalah satu dari sedikit "Pebalap Privateer" yang mampu menjadi juara dunia.

Kiprah Afrika Selatan di MotoGP: 3 Juara Dunia, 2 Bendera, 1 Negara (5)
zoom-in-whitePerbesar

Aksi Jon Ekerold (Foto: Twitter @garyjac1965/Gary Jackson)

Apa itu privateer? Privateer adalah istilah untuk pebalap dan tim yang tidak didukung secara penuh oleh pabrikan dari motor yang ia gunakan. Padahal, saingan terberat Ekerold pada masa itu adalah Anton Mang dari Jerman Barat dengan motor Kawasaki pabrikannya.

Tadi saya tuliskan bahwa Ekerold menunggangi motor Bimota-Yamaha. Yamaha adalah motor pabrikan Jepang, Bimota adalah motor custom produksi Italia. Artinya apa? Ekerold bersama timnya memodifikasi sendiri motor yang digunakan untuk membalap. Mesinya adalah Yamaha, sedangkan sasisnya adalah Bimota.

Di tahun berikutnya, 1981 ia gagal back-to-back juara akibat hanya menyelesaikan 4 seri dari total 8 seri balapan yang diperlombakan kelas 350 cc. Padahal, dari ke-4 balapan yang ia selesaikan itu, Jon Ekerold selalu naik podium, termasuk podium pertama di Argentina dan Misano. Ia harus rela membiarkan Anton Mang juara.

Alasan pria kelahiran 8 Oktober 1946 ini banyak absen di beberapa balapan tahun 1981 adalah karena ambisinya untuk memenangi Isle of Man TT. Memenangi kejuaraan balap motor ekstrem di sirkuit pegunungan itu adalah salah satu impiannya. Isle of Man TT sendiri sudah diboikot oleh para pebalap MotoGP sejak 1977 karena lintasan yang terlalu berbahaya.

"Aku sangat-sangat ingin memenang (Isle of Man) TT sebelum mengakhiri karirku," ungkapnya.

Pada tahun 1981, ia langsung terjun di 3 kategori balap, yaitu Senior TT, Junior TT, dan Classic TT. Jon Ekerold mengendarai 250 cc CCM-Armstrong dan 500 cc Harris Yamaha. Hasilnya, walaupun gagal finish pertama, setidaknya ia mampu finish ke-2 di kategori Classic TT dan Senior TT.

Setelah 8 tahun berkarir di MotoGP, Jon Ekerold menyudahi karir balapnya pada tahun 1983.

Brad Binder

Kiprah Afrika Selatan di MotoGP: 3 Juara Dunia, 2 Bendera, 1 Negara (6)
zoom-in-whitePerbesar

Sosok Brad Binder (Foto: Akun Twitter Resmi Brad Binder)

Afrika Selatan harus menunggu selama 36 tahun untuk menunggu ada lagi juara MotoGP dari tanah kelahiran Nelson Mandela. Brad Binder adalah orang yang ditunggu-tunggu itu. Pebalap muda kelahiran 11 Agustus 1995 ini adalah juara Moto3 tahun 2016.

Alumnus Red Bull MotoGP Rookies Cup ini sukses menyingkarkan saingan-saingannya secara dominan. Brad Binder unggul jauh 142 angka dari saingan terdekatnya pebalap asal Italia Enea Bastianini, yang juga merupakan jebolan Red Bull MotoGP Rookies Cup di tabel akhir klasemen. Itu adalah tahun terbaiknya di ajang Moto3/125 cc sejak tahun 2011, dan akhirnya ia promosi ke Moto2 untuk musim balap tahun 2017.

Kiprah Afrika Selatan di MotoGP: 3 Juara Dunia, 2 Bendera, 1 Negara (7)
zoom-in-whitePerbesar

Brad Binder bersama para penggemar (Foto: EWN/Kgothatso Mogale)

Di ajang Moto2, masih bersama tim Red Bull KTM Ajo dan motor KTM, prestasinya belum terlalu memuaskan. Hingga seri balapan ke-12, Brad Binder belum sekalipun naik podium. Nasib naas justru harus dialami kakak pebalap Moto3 Darryn Binder ini setelah harus menjalani operasi pada April 2017 lalu akibat cedera yang ia alami.

Pria kelahiran Potchefstroom, Afrika Selatan ini tentu diharapkan publik Afrika Selatan untuk dapat lebih baik lagi di tahun depan. Brad Binder adalah pebalap motor paling berbakat yang dimiliki Afrika Selatan saat ini. Bagaimana tidak, ia sudah menekuni balapan sejak usia 8 tahun!

Ia mulai memilih balapan roda dua di usia 10 tahun, hingga sekarang ini. Mulanya, ia hanya membalap di kejuaraan lokal Afrika Selatan, baru kemudian lanjut ke Red Bull MotoGP Rookies Cup pada tahun 2009, lalu ke MotoGP di tahun 2011 hingga sekarang.

Era yang berbeda, bendera yang berbeda.

Kiprah Afrika Selatan di MotoGP: 3 Juara Dunia, 2 Bendera, 1 Negara (8)
zoom-in-whitePerbesar

Brad Binder mengibarkan bendera Afrika Selatan di Podium (Foto: fotopress/Getty Images)

Seperti yang tadi dikisahkan bahwa Kork Ballington dan Jon Ekerold berjaya pada periode tahun 1970-1980, sedangkan Brad Binder berjaya di era milenium baru. Sebuah masa yang cukup panjang bagi sejarah kehidupan politik, ekonomi, dan sosial di Afrika Selatan. Negara bekas jajahan Inggris itu terus mencari identitas dari masa ke masa.

Bendera Afrika Selatan di era Kork Ballington dan Jon Ekerold tidak sama dengan yang digunakan oleh Brad Binder dan yang kita kenal pada hari ini. Pada periode tahun 1928 hingga 1994, bendera Afrika Selatan dikenal dengan nama Van Riebeeck Flag atau Prinsenvlag (Bendera Pangeran). Bendera ini cukup lama digunakan dibandingkan beberapa desain bendera sebelumnya.

Kiprah Afrika Selatan di MotoGP: 3 Juara Dunia, 2 Bendera, 1 Negara (9)
zoom-in-whitePerbesar

Bendera Afrika Selatan tahun 1928-1994, Prinsenvlag (Gambar: Wikimedia)

Desain warnanya terinspirasi oleh bendera yang digunakan VOC pada tahun 1652 hingga 1795. Di tengah-tengahnya terdapat gambar tiga bendera kecil. Paling kiri adalah bendera union jack, melambangkan bahwa Afrika Selatan pernah menjadi bagian dari kolonisasi Inggris. Gambar bendera di tengah adalah bendera Orang Free State, dan yang di kanan adalah bendera Republik Afrika Selatan.

Banyak masyarakat Afrika Selatan yang menentang desain bendera ini karena bendera ini sangat kental dengan nuansa rezim apartheid yang berlangsung dari tahun 1948 dan 1991. Setiap kali ada aksi protes anti-apartheid yang dijalankan, bendera ini selalu jadi sasaran pembakaran.

Kiprah Afrika Selatan di MotoGP: 3 Juara Dunia, 2 Bendera, 1 Negara (10)
zoom-in-whitePerbesar

Sosok Frederick Brownell dengan Bendera yang kini kita kenal (Gambar: Kelvin Brown)

Barulah pada 1994, pemerintah Afrika Selatan meresmika bendera yang selama ini kita kenal. Bendera ini didesain oleh Frederick Brownell. Tokoh kulit putih Afrika Selatan ini mengatakan bahwa bendera tersebut melambangkan era pasca apartheid.

Ini adalah desain bendera yang disenangi oleh Presiden Nelson Mandela pada masa itu. Desain bendera karya Brownell dianggap yang paling mewakili segala perbedaan di Afrika Selatan. Pada tahun 1999, Nelson Mandela memberikan penghargaan Order for Meritorious Service pada pria kelahiran 8 Maret 1940 itu.

Apartheid adalah momok bagi orang-orang kulit hitam Afrika Selatan, yang notabene adalah penduduk aslinya. Akibat dari apartheid, orang-orang pribumi Afrika Selatan kesulitan mendapatkan akses pendidikan, kesehatan, bahkan masalah kesejahteraan ekonomi. Segala diskriminasi itu membuat mereka menjadi terbelakang.

Jika seseorang ingin tampil di ajang MotoGP, maka hal yang harus dia miliki adalah modal dana dan 'banyak gaul' alias aktif, terlibat di berbagai kejuaraan balap. Apartheid menghalangi akses orang kulit hitam Afrika untuk urusan itu. Orang-orang asli Afrika Selatan pastinya lebih menggemari olahraga yang tidak begitu memakan biaya dan mudah akses latihannya, seperti sepak bola dan atletik.

Tidak heran, jika sampai hari ini, belum ada pebalap kulit hitam yang tampil di ajang MotoGP. Akan tetapi, dunia terus berputar. Jika pada akhirnya, Nelson Mandela berhasil menjadi presiden kulit hitam pertama Afrika selatan, maka bukan tidak mungkin suatu saat nanti akan ada pebalap kulit hitam pertama asal Afrika Selatan yang berlaga di MotoGP.

Kick racism out of the track!