Lakshya Sen: Satu Lagi Calon Bintang Bulutangkis dari Negeri Bollywood

Moslem. Author of Arsenal: Sebuah Panggung Kehidupan
Tulisan dari Katondio Bayumitra Wedya tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Lakhsya Sen (Foto: GP Sampath Kumar)
Berdasarkan data peringkat pebulutangkis muda yang dibuat oleh Badminton World Federation (BWF), selaku induk olahraga bulutangkis dunia, per tanggal 28 September 2017 diketahui bahwa terdapat satu nama pebulutangkis tunggal putra dari negara India yang menduduki peringkat kedua. Lakshya Sen, itulah nama pebulutangkis muda dari negera kelahiran film Bollywood yang dimaksud. Pemuda kelahiran Kota Almora, 16 Agustus 2001 digadang-gadang akan menjadi kekuatan baru di dunia bulutangkis.
Jawara kejuaraan bulutangkis selalu identik dengan atlet-atlet dari Tiongkok, Korea Selatan, Indonesia, dan Malaysia. Akan tetapi, dalam beberapa tahun terakhir muncul kekuatan-kekuatan baru, salah satunya dari India. Di level senior, ada nama Kidambi Srikanth, yang menduduki peringkat 8 dunia di kategori tunggal putra BWF dan kini Kidambi disinyalir akan memiliki penerus, yaitu Lakhsya Sen.
Lakhsya Sen, sebelumnya sempat menduduki peringkat pertama dunia di kategori tunggal putra BWF junior, hingga akhirnya kini disusul oleh pebulutangkis Thailand, Kunlavut Vitidsarn. Turun di ajang bergengsi Blibli.com Yonex Sunrise BWF World Junior Championships 2017 yang akan diselenggarakan di Yogyakarta tanggal 9-22 Oktober mendatang akan menjadi kesempatan Lakshya kembali ke puncak peringkat dunia. Hasil positif, bahkan gelar juara tunggal putra tentu dapat memuluskan langkahnya tersebut.
Namun, Lakshya Sen sempat menyatakan bahwa dia tidak terlalu memusingkan masalah peringkat. Pria yang memang berasal dari keluarga pebulutangkis ini (ayahnya seorang pelatih dan kakaknya juga pebulutangkis) justru lebih fokus untuk mengeluarkan kemampuan terbaiknya di turnamen besar.
"Saya tidak memikirkan tentang peringkat (dunia BWF junior) secara berlebihan. Jika saya memenangkan beberapa turnamen besar, maka tentunya (akan otomatis) berpengaruh peringkat," kata Lakshya sebagaimana dikutip dari thehindu.com.
"Saya hanya ingin bermain dengan potensi penuh saya. Jika saya melakukan itu, saya akan melakukannya dengan baik," lanjutnya ketika ditanya perihal kans juara.
Atlet Muda India yang Menjanjikan

Lakhsya Sen (Tengah) Juara di Bulgaria (Foto: Twitter/OGQ India)
Di usia yang masih sangat muda, pencapaian Lakhsya Sen dapat dibilang luar biasa. Dari total 85 pertandingan resmi yang ia mainkan di nomor tunggal putra, Lakshya sukses mencatat 67 kemenangan dan hanya kalah 18 kali (data per tanggal 30 September 2017). Tidak heran, jika peringkatnya menanjak karena selain aktif turun di banyak turnamen, raihan jumlah kemenangannya pun begitu banyak.
Bicara soal gelar juara yang berhasil diraih, ia meraih gelar juara internasional pertamanya di tahun 2014 dalam ajang Swiss Junior Oper 2014. Lakshya yang masih berusia 13 tahun mampu meraih juara tunggal putra U-19 setelah mengalahkan koleganya yang sama-sama dari India, Rahul Bhara BM. Di tahun yang sama, ia juga menjadi juara pada turnamen Wimbledon U-19 di Inggris.
Setahun berselang, ia menjadi juara di negaranya sendiri dalam ajang Sushant Chipalkatti Memorial India Junior International Badminton Championships 2015. Tahun 2016 lalu, ia juga pernah merasakan gelar juara Sats India International Series 2016 setelah mengalahkan pebulutangkis asal Malaysia, Lee Zii Jia dengan skor 11-13, 11-3, 11-6, dan 11-6.
Pada bulan Agustus 2017, ia berhasil menjuarai turnamen Eurasia Bulgarian Open 2017. Ia berhasil menjadi juara setelah menundukkan pebulutangkis asal Kroasia, Zvonimir Durkinjak di partai final yang dihelat sehari setelah hari ulang tahunnya yang ke-17 dengan skor 18-21, 21-12, 21-17.
Tanggapan dan Relasi dengan Pebulutangkis Senior

Lakshsya Sen dan Peter Gade (Foto: Firstpost India)
Pebulutangkis legendaris India, Prakash Padukone menyatakan bahwa ia melihat 'bayangan' dirinya sendiri dalam diri Lakhsya Sen. Pria pemenang All England 1980 ini bahkan memberikan perhatian khusus kepada pemuda dari Uttarkhand tersebut. Tidak mengherankan karena bakatnya bisa jadi memang terasah semenjak ia memasuki Akademi Padukone sejak usia 10 tahun.
"Lakshya adalah pemain dengan bakat alami dan cepat untuk merebut poin-poin dalam pertandingan. Saya merasa ia memiliki beberapa kualitas yang sangat istimewa sejak awal. Idenya sekarang adalah untuk membantunya mengembangkan kemampuan taktis, yang saya rasa sangat penting dalam permainan modern dimana setiap orang cenderung memainkan gaya yang sama, tidak seperti di tahun 1980-an dan 1990-an," kata Padukone dikutip dari ESPN India Februari 2017 lalu.
"Selama dua tahun saya melihatnya (Lakhsya Sen) tidak hanya bahu membahu dengan para pemain top senior, tetapi juga mengalahkan mereka. Tidak ada celah dalam permainannya dan jika dia bisa masuk 50 besar dalam beberapa tahun ke depan, saya pikir itu akan membuatnya jauh di depan kompetitornya," kata Sanjay Sharma, mantan juara nasional dan pelatih bulutangkis asal India dikutip dari ESPN India.
Lakshya Sen juga memiliki mentor yang tak kalah ciamik. Selain beberapa senior dari India, ternyata ia juga dilatih oleh Peter Gade, mantan pebulutangkis legendaris Denmark, yang juga merupakan mantan juara All England. Di bawah asuhan Gade, Lakshya Sen dinilai mendapatkan manfaat yang sangat baik untuk performanya di lapangan. Juara di Bulgaria adalah salah satu buktinya.
Pebulutangkis Indonesia Harus Waspada!

Lakhsya Sen (Foto: BWF)
Para pebulutangkis Indonesia yang turun di turnamen Blibli.com Yonex Sunrise BWF World Junior Championships 2017 tentu harus mewaspadai Lakhsya Sen. Apalagi, bermain di hadapan publik sendiri, para pebulutangkis Indonesia harus mampu memberikan penampilan maksimal, bahkan merebut gelar juara, khususnya di kategori tunggal putra. Sepanjang mengikuti turnamen di tahun 2017, tercatat Lakshya sudah pernah bertemu dengan lima pebulutangkis Indonesia yang berbeda.
Beberapa pebulutangkis Indonesia, yang secara usia lebih tua dari Lakshya Sen harus bertekuk lutut di turnamen Victor International Series 2017 yang diselenggarakan Mei 2017 lalu. Gatjra Piliang Fiqihilahi Cupu (lahir tahun 2000), Vega Vio Nirwanda (lahir tahun 1997), dan Karono Suwarno (lahir tahun 2000) adalah para pebulutangkis Indonesia yang dimaksud. Pada akhirnya, langkah Lakhsya di ajang tersebut dihentikan oleh pebulutangkis senior Indonesia, Hayom Rumbaka di perempat final melalui pertarungan ketat 21-13, 22-24, dan 18-21.
Sebelumnya, di bulan yang sama, ia juga sempat meladeni pertarungan melawan Fikri Ihsandi Hadmadi pada turnamen The Smiling Fish International Challenge 2017. Fikri yang akhirnya melaju hingga semifinal menaklukkan Lakshya Sen dengan skor 19-21 dan 10-21 di babak 16 besar.
Pada ajang Blibli.com Yonex Sunrise BWF World Junior Championships 2017, ada kemungkinan Lakhsya akan kembali bertemu Gatjra Piliang yang juga turut serta mewakili Indonesia di ajang tahunan tersebut. Ikhsan Leonardo, Alvin Yulianto, dan Muhammad Rehan Diaz yang juga akan turun di tunggal putra juga harus waspada kalau nanti bertemu dengan Lakhsya Sen.
Pria yang Memiliki Target pada Namanya

Lakhysa Sen (Foto: Jaideep Vaidya/Scroll)
"Lakhsya" adalah sebuah kata yang asli berasal dari Bahasa India. "Lakhsya" dapat diartikan menjadi "Tujuan" atau "Destinasi" atau "Target" ke dalam Bahasa Indonesia. Atlet bulutangkis pasti akan selalu punya target dalam setiap turnamen dan pertandingan yang mereka jalani.
Seluruh pebulutangkis pasti memiliki target yang jelas di setiap pertandingan, yaitu "Menang". Namun, target dapat berbeda-beda di setiap turnamen, tapi kebanyakan unggulan menargetkan "Juara". Lakshya Sen, peringkat kedua dunia BWF Junior pasti dalam hatinya ingin menargetkan menjadi juara di setiap turnamen, tak terkecuali di Blibli.com Yonex Sunrise BWF World Junior Championships 2017.
Bagi Lakhsya Sen, kata "Target" telah melekat pada nama pemberian orang tuanya. Pria yang ditakdirkan harus selalu punya target yang jelas. Harapan akan kebanggaan masyarakat India ada di pundaknya, yang mana harapan mereka jelas mengharapkan target juara.
Ayo, pebulutangkis Indonesia! Jangan mau kalah!
