• 9

USER STORY

Marco Simoncelli: Dari Rimini, Menuju Dunia, Kembali ke Tuhan

Marco Simoncelli: Dari Rimini, Menuju Dunia, Kembali ke Tuhan


Selebrasi Juara Dunia Super Sic di Sepang Tahun 2008 (Foto: MotoGP)
Kribo, Kencang, Orang Italia, Juara Dunia.
Jika kata-kata itu dikaitkan dengan MotoGP, maka siapa yang ada di benak kalian? Valentino Rossi? Benar, tetapi ternyata bukan hanya beliau seorang. Nama lain yang memiliki ciri-ciri di atas adalah Marco Simoncelli.
Hanya saja, kita harus menambahkan beberapa kata lagi jika membahas pebalap yang dijuluki "Super Sic" itu, seperti: nekat dan bengal. Ya, almarhum Marco Simoncelli adalah pebalap yang begitu 'gila' di atas lintasan. Terkadang, gaya balapnya cenderung membahayakan pebalap lain.
Dengan alasan itu kadang ia dibenci, tetapi tak menutupi fakta lainnya bahwa ia juga amat dicintai, khususnya oleh publik kawasan Emilia-Romagna, Italia.
Putra Daerah Provinsi Rimini

Marco Simoncelli (Foto: MotoGP)
Marco Simoncelli lahir di Kota Cattolica, Provinsi Rimini, Italia. Namun, ia menghabiskan masa tumbuh kembangnya, masih di provinsi Rimini, tepatnya Kota Coriano. Kota itu berjarak sekitar 10 km dari Misano World Circuit yang merupakan tempat diselenggarakannya GP San Marino sebagai agenda tahunan di kalender balap MotoGP.
Pria kelahiran 20 Januari 1987 itu sudah mulai menekuni dunia balap motor sejak usia 7 tahun. Simoncelli rajin mengikuti kompetisi-kompetisi balap motor junior di sekitar kawasan pantai timur Italia. Pada rentang tahun 1996 hingga 2000, Simoncelli sudah menjadi pebalap unggulan di ajang Italian Minimoto Championship.
Marco Simoncelli adalah tipe pebalap yang mudah beradaptasi dengan kondisi motor. Terbukti, setelah sebelumnya tampil impresif dengan minibikes, ia langsung dapat 'klik' kala melangkah ke motor 125 cc untuk ajang balap motor Italian National Championship di tahun 2001. Pada tahun 2002, ia berhasil menjadi juara umum di ajang balap motor Eropa kelas 125 cc, dan dari situlah jalannya menuju Kejuaraan Dunia MotoGP terbuka.
Awal Petualangan di Kejuaraan Dunia MotoGP

Masih dengan Nomor 37 di tahun debut (Foto: Masmoto)
Balapan pertamanya adalah MotoGP Ceko 2002 di sirkuit Masaryk, Brno, Republik Ceko. Pria bernomor balap 37 sukses menyelesaikan balapan perdananya di urutan ke-27. Kala itu, ia mengendarai motor Aprilia bersama tim Matteoni Racing.

Marco Simonceli di Podium Pertama Sirkuit Jerez tahun 2005 (Foto: MotoGP)
Jika di tahun 2002 tersebut Simoncelli hanya turun di 6 balapan, maka tahun 2003 menjadi full season race perdananya di kelas 125 cc. Walaupun performanya masih angin-anginan, tetapi pebalap yang mulai dikenal dengan nomor 58 itu berhasil naik podium juara satu di GP Spanyol tahun 2004 dan 2005 di sirkuit Jerez. Pada tahun 2005, Simoncelli berhasil finish urutan ke-3 di beberapa balapan dan menyelesaikan musimnya dengan bertengger di 5 besar klasemen akhir.
Juara Dunia!
Tahun 2006, ia menerima pinangan tim Metis Gilera untuk balapan di ajang MotoGP kelas 250 cc. Ia setia bersama Metis Gilera hinnga tahun 2009, dan pada periode tersebutlah sejarah tercipta. Marco "Super Sic" Simoncelli menjadi juara dunia MotoGP kelas 250 cc di tahun 2008.
Walaupun sempat gagal finish di dua seri balapan awal tahun 2008, tetapi bukti performanya yang impresif nan konsisten berhasil membawanya menuju kejayaan. Alvaro Bautista dan Mika Kallio, selaku tiga saingan terberatnya pada masa itu tidak mampu menandingi Simoncelli dan motornya. Total 281 poin ia koleksi hanya berselisih 37 poin dengan Bautista di tabel akhir klasemen tahun 2008.

Selebrasi juara dunia Simoncelli bersama Metis Gilera (Foto: MotoGP)
Pada tahun 2009, ia harus puas hanya meraih juara umum ketiga kelas 250 cc. Juara dunia disabet pebalap asal Jepang, Hiroshi Aoyama dan runner up-nya adalah Hector Barbera, pebalap Spanyol yang pernah berkonfrontasi dengannya.
Atas segenap prestasi Super Sic di kelas 250 cc, maka perpisahannya dengan Metis Gilera pun terjadi. Ia lanjut ke kelas utama MotoGP di tahun 2010 bersama tim San Carlo Honda Gresini. Talenta dan kontroversinya semakin menyeruak.
Gaya Balap yang Terlalu Agresif dan Keresahan Pebalap Lain

Aksi Simoncelli di Lintasan (Foto: MotoGP)
Nama Marco Simoncelli semakin dikenal mancanegara. Selain karena ia adalah pebalap yang bertalenta, gaya balapannya yang kontroversial juga menjadi daya tarik tersendiri. Tak heran jika banyak juga pebalap yang tidak suka dengannya akibat dari gaya balapnya yang terlalu membahayakan dirinya dan pebalap lain.

Marco Simoncelli (kiri) bersama 'korban-korbannya' (Foto: Mirco Lazzari gp/Getty Images Europe)
Beberapa pebalap pernah menjadi korbannya, contohnya Dani Pedrosa. Gesekan antar keduanya di sirkuit Le Mans, Prancis tahun 2011 menyebabkan Pedrosa cedera tulang selangka dan memaksanya absen 3 seri balapan. Penalti pun diberikan untuk Super Sic.
Jorge Lorenzo, yang kala itu masih bersama Yamaha, juga pernah mengalami peristiwa tak mengenakkan dengan Simoncelli. Ceritanya, pada saat GP Belanda tahun 2011 di sirkuit Assen, Marco Simoncelli terjatuh akibat gaya balapnya yang terlalu agresif. Dilalah ada Lorenzo di dekatnya, yang akhirnya turut terbawa jatuh juga.
Apes untuk Lorenzo yang kala itu, untungnya, masih bisa finish di urutan ke-6 dan Simoncelli sendiri ke-9. Sebelum insiden tersebut terjadi, Lorenzo sempat melontarkan kritik terhadap gaya balap Simoncelli jelang balap di GP Portugal, sehingga semakin memanaskan persaingan.

Berdebat dengan Lorenzo (kanan) (Foto: Getty Images)
Hector Barbera juga pernah menjadi korban Marco Simoncelli. Insiden mereka terjadi tahun 2008, masih di kelas 250 cc, tepatnya di GP Italia, sirkuit Mugello. Marco Simoncelli berusaha menghalangi laju Hector Barbera ketika balapan tersisa satu lap lagi, sehingga membuat Barbera jatuh terpelanting.
"(Aksi Simoncelli) itu tidak terlihat sebagai aksi yang sangat legal bagi saya, dan tim telah melihat video untuk melihat apakah ada bukti untuk menindaknya (Simoncelli). Dia (Simoncelli) bisa saja membunuhku," Kata Hector Berbera tahun 2008.
Apa tanggapan Super Sic?
"Aku turut prihatin terhadapnya (Barbera), tetapi bahagia untuk (kemenangan) diriku sendiri."
Hari Kematian, Sirkuit Sepang, dan Segala Kenangan di Dalamnya

Paddock kosong San Carlo Honda Gresini (Foto: Honda)
Segala aksi dan kontroversi menjadi warna tersendiri untuk MotoGP di sepanjang hayatnya. Akibat dari wajahnya yang juga hampir mirip dengan Valentino Rossi, Simoncelli semakin digadang-gadang akan menjadi juara dunia kelas utama MotoGP di masa depan. Namun, takdir Tuhan berkata lain.
Baru sempat merasakan manisnya podium di GP Ceko dan GP Australia tahun 2011, Yang Maha Kuasa tetap pada keputusan-Nya untuk 'memanggil pulang' Super Sic. Aspal sirkuit Sepang menjadi saksi bisu aksi balap motor terakhirnya. Sebuah insiden tabrakan dirinya yang juga melibatkan Colin Edwards, dan sang idola Valentino Rossi di GP Sepang 2011 disinyalir menjadi penyebab kematiannya.

Monumen Tribute di salah satu sudut sirkuit Sepang (Foto: MotoGP)
Sirkuit Sepang adalah sirkuit yang penuh kenangan bagi Marco Simoncelli. Selain menjadi sirkuit terakhirnya, sirkuit yang terletak di negara bagian Selangor, Malaysia itu juga menjadi tempatnya untuk crash pertama kali setelah resmi dikontrak San Carlo Honda Gresini untuk balapan di kelas utama MotoGP. Kejadian itu terjadi saat tes pre season tahun 2011, dan merupakan salah satu hal yang paling ia kenang dalam hidupnya.
Sirkuit Sepang juga menjadi tempatnya memastikan gelar juara MotoGP tahun 2008. Finish di urutan ketiga di belakang Alvaro Bautista dan Hiroshi Aoyama sudah cukup untuk memastikan gelar juara kelas 250 cc untuk Super Sic. Ia jatuh, lalu bangun, kemudian berjaya, jatuh lagi, hingga tidak bisa bangun lagi di sirkuit itu.
Penyebab Kematian (yang katanya) Masih Misterius
Banyak teori perihal kematian Marco Simoncelli. Ada yang terlihat janggal memang jika melihat kembali video kecelakaan Simoncelli di sirkuit Sepang itu. Simoncelli yang sudah dalam posisi miring terjatuh tidak melepaskan motornya, hingga mengakibatkan ia terseret dan tertabrak Colin Edwards dan Valentino Rossi.
Fatal memang karena terlihat helm Simoncelli sampai terbuka, tubuhnya terdiam kaku dalam posisi tengkurap pasca kejadian. Hasil pemeriksaannya adalah ia mengalami cedera serius pada bagian kepala, leher, dan dada. Ya, cedera di beberapa area vital manusia, jelas wajar jika ia meninggal.
Namun, kembali lagi, kenapa Marco Simoncelli tidak melepaskan motornya? Ada yang bilang ia sudah meninggal sebelum tertabrak. Ada juga yang berspekulasi ia sudah dalam keadaan pingsan di atas motornya sebelum jatuh.

Posisi aneh Simoncelli (putih) pada detik-detik sebelum tertabrak
Apapun itu, keabasahannya dipertanyakan sebab tidak pernah dirilis secara resmi hasil otopsi dari Marco Simoncelli.
Ada sebuah pernyataan dari Michele Macchiagodena, selaku direktur medis MotoGP, "dia (Simoncelli) sudah tidak sadar ketika tim medis tiba".
Dalam penuturannya, Macchiagodena juga mengatakan bahwa tim medis juga melakukan CPR (Cardiac Pulmonary Resuscitation) akibat adanya tanda-tanda serangan jantung di ambulans.
CPR adalah usaha yang dilakukan untuk menyadarkan pasien. Semacam metode untuk mengusahakan denyut jantung pasien dapat kembali berdetak.

Ilustrasi CPR (Foto: SMRT Indiana/Squarespace)
"Kami berusaha untuk menyadarkannya tapi gagal. Dia meninggal 45 menit kemudian." tambahnya.
Jadi, dari pernyataan direktur medis MotoGP tersebut dapat dikatakan bahwa ia dan timnya masih percaya Simoncelli masih dapat disadarkan. Jika memang pernyataan mereka itu benar, maka Simoncelli masih hidup hingga sampai di Medical Centre setempat.
Pada akhirnya, hanya Tuhan Yang Maha Tahu.
Sebuah Penghormatan untuk Sang Juara

Monumen Marco Simoncelli di Kota Corriano (Foto: MotoGP)
MotoGP secara resmi membekukan nomor balap 58 hingga waktu yang tidak ditentukan, mungkin selamanya. Nomor 58 akan selalu identik dengan pria kribo dari Rimini. Tidak ada pebalap lain yang dapat memakai nomor itu sekarang karena telah dipensiunkan.
Misano World Circuit, adalah sirkuit yang berada di satu provinsi yang sama dengan kota kelahiran Super Sic. Nama sirkuit itu telah diubah pada tahun 2012 menjadi Misano World Circuit Marco Simoncelli. Hal ini semata-mata penghormatan untuk sang putra daerah.

Penampakan Plang Sirkuit (Foto: Fondazione Marco Simoncelli)
Sayangnya, publik Kota Misano Adriatico tidak pernah menyaksikan Marco Simoncelli naik podium di sirkuit itu untuk ajang MotoGP kelas manapun.


SportsMoto GPItaliaMotor SportSan Marino

500

Baca Lainnya