Pentas 'NATUH' sebagai Pesan Cinta terhadap Hutan dan Lingkungan Alam

Moslem. Author of Arsenal: Sebuah Panggung Kehidupan
Tulisan dari Katondio Bayumitra Wedya tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

NATUH persembahan Flying Balloons Puppets (Foto: Galeri Indonesia Kaya)
Salah satu isu atau tema yang sering dibicarakan dan dikampanyekan banyak orang di jalanan, di radio, di televisi, hingga ke jagad maya adalah tentang kepedulian menjaga lingkungan alam, terutama lingkungan alam Indonesia. Pada era sekarang ini, saat informasi tentang berbagai hal begitu mudah diakses, harusnya masyarakat dapat lebih mudah menerima pesan-pesan tersebut. Akan tetapi, kenyataannya tidak selalu seperti itu, karena masyarakat biasanya hanya tertarik untuk mendengar, menonton, dan membaca apa yang mereka minati saja.
Isu-isu yang kurang menarik minat mereka, hanya akan dianggap angin lalu. Kalaupun disimak, mungkin tidak benar-benar teresapi ke dalam benak. Alhasil, apa yang masyarakat simak itu, dalam hal ini pesan untuk menjaga lingkungan alam, menjadi kurang dapat terealisasikan dalam kehidupan sehari-hari. Hal ini dapat terjadi mungkin karena beberapa orator dan aktivis tidak menemukan cara yang tepat untuk menggugah hati para pendengar, pemirsa, dan pembaca.
Ketika kata-kata dan orasi gagal membawa pesan cinta sampai ke hati, maka biarkanlah seni yang beraksi. Seni dapat menjadi media yang tepat dalam menyampaikan pesan karena seni, pastinya, amat memperhatikan berbagai aspek, mulai dari artistik, estetika, cara unik dalam penyampaian pesan, dan lain sebagainya. Inilah mengapa banyak orang menyukai seni. Inilah alasan yang membuat penyampaian pesan lewat seni dapat lebih menggugah dan menyentuh hati manusia.
Masyarakat mungkin tidak sepenuhnya acuh tak acuh akan persoalan lingkungan alam. Hanya saja, tidak semua orang tertarik mendengar dan membaca tentang persoalan tersebut dengan panjang lebar, terlebih lagi formal atau terlalu serius. Salah satu taktik yang dapat dilakukan oleh para aktivis atau orang-orang yang peduli terhadap lingkungan alam, guna menggugah hati masyarakat adalah dengan menyampaikan pesan tersebut lewat seni, lewat hiburan, sehingga mereka malah menikmati pesan tersebut. Flying Balloons Puppets, grup teater boneka dari Yogyakarta ini, mencoba untuk menyampaikan pesan mengenai lingkungan alam lewat seni teater boneka berjudul NATUH yang mereka pentaskan.
Pada hari minggu, tanggal 25 Maret 2018 adalah kali ke-6 Flying Balloons Puppets mementaskan NATUH di hadapan khalayak, dan pementasan yang berlangsung di Galeri Indonesia Kaya Grand Indonesia, Jakarta Pusat tersebut adalah penampilan mereka yang pertama di ibu kota. Pentas NATUH pertama kali ditampilkan pada bulan Desember 2016 di Yogyakarta, dalam sebuah acara bernama "Pesta Boneka". Rangga, selaku sutradara, menjelaskan bahwa awal mula ia mendapatkan ide untuk mengangkat tema lingkungan sebagai tema pentas boneka mereka (Flying Balloons Puppets) adalah berawal dari sebuah mimpi.
"Awal kenapa aku bisa bikin (cerita) Natuh ini adalah karena aku mimpi, mas. Waktu (mau pementasan) pesta boneka aku gak punya ide sama sekali mau bikin apa. Kemudian, aku mimpi membagikan bibit (pohon) ke orang banyak," ujar Rangga kala diwawancarai.
"Aku merasa mendapat pesan penting, 'oke, aku harus bikin'. Jadilah NATUH dengan lima kali pementasan, dengan lima kali perubahan juga (dengan garis besar cerita yang sama)," lanjut Rangga.
Cerita NATUH berkutat pada tiga tokoh utama, yaitu To’ Bomoh, Taran, dan Tala. NATUH adalah nama sebuah negeri dalam cerita , dimana negeri tersebut adalah negeri yang selalu diliputi kedamaian, kegembiraan, dan cinta. Ada sebuah makhluk yang bernama Luta, yang diceritakan sebagai leluhur yang selalu menjaga dan menyeimbangkan kehidupan di Natuh. Para penduduk negeri Natuh selalu melakukan ritual sebagai bentuk ucapan terima kasih kepada Luta.
Kurang lebih negeri Natuh ini mungkin dapat kita samakan dengan Indonesia. Sebuah negara yang akrab dengan ungkapan "Gemah Ripah Loh Jinawi", yang dapat dimaknai sebagai sebuah negeri atau negara yang diberkahi dengan kekayaan alam yang asri dan berlimpah. Dalam beberapa literasi, ungkapan tersebut biasa disambungkan dengan ungkapan lain yang berbunyi "Toto Tentrem Kerto Raharjo", yang berarti keadaan yang tenteram.
Akan tetapi, kenyamanan hidup penduduk Natuh terusik kala munculnya tokoh babi dari tempat lain datang ke Natuh dan merusak negeri tersebut. Segala macam kekayaan alam, kedamaian, keceriaan, dan cinta di Natuh dirampas oleh tokoh babi tersebut. Puncak dari kebengisan tokoh babi adalah ia melakukan pembakaran terhadap pepohonan di negeri tersebut, sehingga api berkobar liar. Mengetahui alam Natuh dirusak dengan begitu dahsyat, Taran dan Tala meminta bantuan To' Bomoh, dan singkat cerita To' Bomoh pun melakukan ritual pemanggilan Luta.
Sepintas, cerita tersebut mengingatkan kita dengan fenomena pembakaran hutan yang terjadi di sejumlah wilayah di dunia, termasuk di Indonesia. Sebagai salah satu contohnya adalah pembakaran hutan besar-besaran yang dilakukan oleh oknum tidak bertanggung jawab terhadap hutan di Riau, yang akhirnya menyebabkan kota diselimuti kabut asap tak berkesudahan.
Para oknum tak bertanggung jawab tersebut jelas hanya mementingkan keuntungan mereka semata, tanpa memedulikan nasib lingkungan alam dan manusia yang tinggal di sekitarnya. Sebuah bentuk keserakahan yang berujung petaka dan jelas mencoreng julukan "Gemah Ripah Loh Jinawi Toto Tentrem Kerto Raharjo" negeri ini.
Cerita NATUH ini memang menjadikan hutan sebagai fokus utama lingkungan yang harus dijaga. Ya, NATUH adalah kebalikan dari frase "Hutan". Di akhir cerita, Luta akhirnya memenuhi panggilan ritual To' Bomoh. Makhluk itu hadir dalam keadaan marah kala mengetahui ada pihak yang merusak Natuh. Luta meluluh-lantahkan Natuh dengan sekejap mata, termasuk semua tokoh yang ada di dalamnya.

Kemunculan Luta (Foto: Galeri Indonesia Kaya)
Jelas ini merupakan sebuah pesan bahwa jika manusia merusak hutan, merusak lingkungan atau alam, maka pada akhirnya alam itu sendiri yang akan membinasakan manusia. Luta dapat direpresentasikan sebagai roh seluruh alam dan lingkungan yang ada di Natuh. Ketika tokoh babi mengusik Natuh, maka Luta mengamuk dan membinasakannya, beserta To' Bomoh, Taran, dan Tala dan penduduk lainnya. Ketika alam Indonesia dirusak, hutannya dibabat habis, maka bencana alam, seperti halnya banjir bandang dan longsor dapat muncul membinasakan penduduk di sekitarnya, tidak peduli orang itu baik atau jahat.
Kemudian, kembali ke cerita Natuh, setelah semuanya tenang, Luta berbaring di sepanjang wilayah Natuh dan bertiwikrama menjadi sebuah tunas perlambang sebuah harapan akan adanya kehidupan baru (yang lebih baik).
Ini menjadi sentilan bagi kita semua. Kala alam sudah rusak, bencana datang, barulah manusia akan sadar terhadap pentingnya menjaga alam, menjaga lingkungan. Dan pentas teater boneka NATUH hadir sebagai peringatan yang dibungkus lewat seni yang menarik agar pesan penting ini dapat tersampaikan dan teresapi di benak para penontonnya.
Pementasan yang berlangsung di Galeri Indonesia Kaya itu berjalan lancar dan sukses. Pentas teater NATUH tersebut memang sangat menarik, dan terbukti, di akhir pementasan, para penonton memberikan applause yang meriah. Beberapa penonton juga tak ragu mengungkapkan kekaguman mereka terhadap Flying Balloons Puppets dan cerita NATUH itu sendiri. Bahkan, hampir seluruh penonton yang hadir menyempatkan diri berfoto bersama boneka-boneka yang ada dan melihat ke 'dapur' pementasan.

Antusiasme penonton pascapentas (Foto: Katondio Bayumitra Wedya)

Sesi tanya jawab pascapentas (Foto: Katondio Bayumitra Wedya)

Pose salah seorang penonton dengan boneka Natuh (Foto: Katondio Bayumitra Wedya)
Rangga dan Flying Balloons Puppets cukup yakin bahwa pesan yang ingin mereka sampaikan lewat pentas teater boneka NATUH di atas dapat menggugah hati banyak orang. Optimisme itu muncul karena pada hakikatnya, banyak orang di dunia yang berkeinginan agar alam dapat tetap lestari.
"Sebenarnya, untuk persoalan (menjaga) alam segala macam adalah cita-cita banyak orang. Kami melakukan apa yang kami bisa. Kami lakukan (penyampaian pesan) yang medianya adalah teater boneka," terang Rangga.
Dan mereka pun punya 'strategi unik' di setiap akhir pertunjukkan mereka agar pesan yang disampaikan dapat membekas di hati penonton.
"Kami mengakhiri pertunjukan dengan membagikan bibit (tanaman) kecil. Kita mulai dari diri kita dulu, menjaga hal-hal yang dekat dengan kita, (seperti merawat) tanaman. Jangan melulu membuat hal yang besar tapi gak ada efek yang signifikan, mulai dari hal kecil saja dulu," jelas Rangga.
Kesuksesan pementasan NATUH di Galeri Indonesia Kaya juga tak terlepas dari sosok mentor mereka, yaitu Subarkah Hadisarjana, yang akrab disapa pak Barkah. Beliaulah yang menguatkan unsur artistik, estetika, hingga dramaturgi NATUH. Dialah yang membuat alur cerita pementasan mereka, terutama yang dilaksanakan di Galeri Indonesia Kaya tersebut dapat menjadi lebih kuat. Selain itu, ada juga nama Garin Nugroho yang menjadi mentor mereka.
"Kalau cerita kita tetap sama, cuma pak Barkah memberikan kita masukan, terutama kayak lebih bagus di sini untuk nambahin emosi dan pengadeganan. Pak Barkah (juga) lebih fokus ke artistik dan bentuknya secara keseluruhan, karena pak Barkah memang concern-nya di situ," ujar Meida selaku pimpinan produksi NATUH.
"Mungkin seperti 'kamu coba semua barang-barang yang alami juga' sehingga kostum kita ada yang pakai daun-daun. Nah, itu (salah satu) masukan pak Barkah. Beliau juga yang memberikan ide untuk kita memakai paralon. Tadinya kita hanya pakai rotan," lanjutnya.
Untuk desain bonekanya, Rangga mengaku bahwa ia dan rekannya yang bernama Jefri adalah desainernya. Flying Balloons Puppets menggunakan boneka yang terbuat dari rangka paralon, rotan, kain, bahkan sumbu kompor, serta paper mache sebagai media komunikasinya. Pada dasarnya, prinsip mereka adalah membuat sesuatu yang istimewa dari hal-hal yang sederhana.
Format pertunjukkan ala teater boneka yang diperagakan oleh Flying Balloons Puppets cocok dipentaskan pada tempat seperti Galeri Indonesia Kaya. Galeri Indonesia Kaya adalah galeri keren nan kekinian milik Djarum Foundation yang menjadi pusat pengetahuan tentang berbagai budaya dan hal-hal tentang Indonesia.
Kita dapat memperoleh banyak pengetahuan tentang Indonesia di Galeri Indonesia Kaya, mulai dari hal yang unik dan menarik, hingga persoalan yang melanda negeri. Dalam hal ini persoalan lingkungan Indonesia, maka Flying Balloons Puppets memang tepat mementaskan pertunjukan NATUH, yang dikemas secara menarik dan beda ala mereka, di tempat ini.
Selain itu, Galeri Indonesia Kaya bertempat di Mall Grand Indonesia, yang merupakan salah satu tempat favorit yang biasa dikunjungi anak-anak muda ibu kota. Kepedulian untuk menjaga lingkungan hidup harus ada di dalam benak dan pikiran anak muda generasi penerus bangsa, terutama bagi mereka yang tinggal di perkotaan, karena lebih terbiasa melihat 'gunung-gunung beton' dibandingkan pegunungan asli yang rindang dengan hutan pepohonan.
Ketika sudah bosan rasanya menonton film di bioskop, kala jenuh berkencan hanya duduk dan makan di restoran dan butuh sesuatu yang baru, maka menonton teater boneka, seperti NATUH ini di Galeri Indonesia Kaya dapat menjadi alternatif yang baik dan menarik. Selain menghibur, pesannya juga bagus. Jadi, menaruh pentas teater boneka NATUH yang unik, beda dari yang lain, dan penuh makna ini di Galeri Indonesia Kaya Grand Indonesia, tempat yang mudah dan biasa diakses anak muda, adalah pilihan yang tepat.
Pada akhirnya, kepedulian menjaga lingkungan alam adalah tugas seluruh manusia di dunia. Akan tetapi, perlu ada sekumpulan manusia yang mengingatkan manusia lainnya untuk merealisasikan hal tersebut. Penyampaian harus benar-benar dapat menggugah hati manusia lainnya. Dalam hal ini, Flying Balloons Puppets menyampaikan pesan ini lewat seni teater boneka mereka yang unik.
#IndonesiaKaya
#RuangKreatifSeni
#GaleriIndonesiaKaya
#GIK
