Kumparan Logo

4 Tahun Peringatan Tragedi Kanjuruhan, Keluarga Korban Menagih Keadilan

kumparanBOLAverified-green

ยทwaktu baca 3 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Kondisi Gate 13 Stadion Kanjuruhan di Kepanjen, Kabupaten Malang, Jawa Timur, Sabtu (18/1/2025). Foto: Irfan Sumanjaya/ANTARA FOTO
zoom-in-whitePerbesar
Kondisi Gate 13 Stadion Kanjuruhan di Kepanjen, Kabupaten Malang, Jawa Timur, Sabtu (18/1/2025). Foto: Irfan Sumanjaya/ANTARA FOTO

Peringatan 4 Tahun Tragedi Kanjuruhan dilaksanakan di Stadion Kanjuruhan, Malang. Ratusan orang berdatangan silih berganti ke Museum Gate 13 Stadion Kanjuruhan, Kamis (1/10).

Mereka adalah keluarga korban, kerabat, hingga teman korban yang meninggal atau menjadi korban luka di tragedi yang terjadi 1 Oktober 2022 itu. Mereka memanjatkan doa kepada 135 orang yang menjadi korban meninggal dunia setelah laga Arema FC vs Persebaya Surabaya tersebut.

Sambil membawa bunga, mereka menundukkan kepala dan menengadahkan tangan berdoa. Bunga-bunga yang dibawa peziarah itu sendiri diletakkan di area depan Gate 13.

Tangisan terdengar ketika doa-doa disematkan oleh mereka yang berdoa di area Gate 13 Stadion Kanjuruhan untuk 135 korban jiwa. Wanginya bunga-bunga itu sudah terasa ketika memasuki ruangan yang kini disekat dengan kaca bening raksasa tersebut.

Sementara di ruangan sebelah Gate 13, sejumlah orang membaca Kitab Suci Alquran sejak pagi. Kegiatan khataman ini menjadi bagian rutin dari serangkaian peringatan 4 tahun Tragedi Kanjuruhan.

Kemudian pada Kamis malam, rangkaian Peringatan Tragedi Kanjuruhan ditutup dengan pengajian dan Munajat Akbar bertemakan 'Doa untuk Nawak - Nawak Mengenang 4 Tahun Tragedi Kanjuruhan', yang diinisiasi keluarga korban, Organisasi Aremania Utas, dan tim Arema FC.

Minsai In, ayah korban Tragedi Kanjuruhan, mengungkapkan keadilan masih sulit didapatkannya bersama beberapa keluarga korban lain. Beberapa upaya sebenarnya sudah dilakukan salah satunya mengajukan Laporan Model B ke Polres Malang, hingga ke Bareskrim Mabes Polri, tapi belum membuahkan hasil.

"Kita menunggu keadilan ditegakkan, hukum ditekakkan seadal-adilnya, terus ke Tragedi Kanjuruhan juruan, semoga bisa ditindaklanjuti diusut tuntas, supaya semua keluarga korban mendapatkan rasa keadilan," kata Minsai In, ayah dari Almarhum Rio Edit Setyawan (21) asal Tumpang, Kabupaten Malang.

Menurutnya, meskipun sudah ada 6 orang yang diproses hukum mulai dari penyelenggara pertandingan, aparat kepolisian, hingga petugas keamanan pertandingan atau security officer, hal itu tidak menggugurkan kewajiban pengembangannya.

"Semua orang yang terlibat dimanapun statusnya, siapa pun orangnya harus diusut tuntas dan ditindak, yang nembak-nembak gas air mata, misalnya kalau ada satu regu yang nembak 21 orang, ya itu harus diadili semuanya, kalau sudah, itu baru yang nyuruh siapa, yang utama yang nembak dulu," tegasnya.

Di sisi lain, Kholifah Nur, salah satu ibu korban Tragedi Kanjuruhan menyayangkan tepat pada 4 tahun Tragedi Kanjuruhan kasus hukum yang berjalan berhenti di tempat. Keadilan yang seharusnya didapat olehnya dan keluarga korban lain tak bisa direalisasikan.

"Kami belum mendapat keadilan. Tetap itu sampai kapan pun itu hukum itu harus adil, harus mereka mendapatkan keadilan seadil-adilnya," kata Kholifah Nur, yang juga Sekretaris Yayasan Korban Tragedi Kanjuruhan (YKTK), yang mewadahi keluarga korban.

Ifa sapaan akrabnya juga menegaskan, 1 Oktober selain diperingati sebagai Hari Kesaktian Pancasila juga harusnya dijadikan agenda nasional Peringatan Tragedi Kanjuruhan, supaya negara, pemerintah, dan rakyat ingat tragedi memilukan, agar tak terulang kembali.

"Ya harus dirawat terus, disejarahkan. Saya mau dan tanggal 1 Oktober saya mau hari tanpa Bola dunia kalau bisa. Ini kan masih Indonesia ya, masih di Malang ini kan memang sudah ditiadakan kalau 1 Oktober, tapi saya maunya dunia gitu kan, untuk merawat ingatan," paparnya.