Konten dari Pengguna

Dilema Publik Iran: Kebahagiaan, Duka, dan Kekhawatiran Pasca-Kematian Khamenei

Katong Ragawi Numadi

Katong Ragawi Numadi

International Relations Lecturer and Researcher at Universitas Bali Internasional

·waktu baca 5 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Katong Ragawi Numadi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ayatollah Ali Khamenei pada tahun 2007 di Teheran, Iran. Foto: REUTERS/Stringer/File Photo
zoom-in-whitePerbesar
Ayatollah Ali Khamenei pada tahun 2007 di Teheran, Iran. Foto: REUTERS/Stringer/File Photo

Kematian Ayatollah Ali Khamenei dalam serangan udara Amerika Serikat dan Israel pada kenyataannya mendapatkan respons yang beragam dari publik Iran.

Pada satu sisi—seperti halnya yang banyak diberitakan pada media-media Barat—beberapa kelompok masyarakat maupun para diaspora Iran di berbagai negara meluapkan kebahagiaan atas meninggalnya Khamenei yang selama ini dianggap sebagai salah satu simbol kediktatoran dan pemerintahan Iran yang represif sejak Revolusi Islam 1979.

Namun, tidak sedikit pula masyarakat Iran—terutama para simpatisan Khameini—yang justru berduka dan mengutuk agresivitas Amerika Serikat dan Israel. Tulisan ini memaparkan bahwa secara umum respons publik Iran terkait kematian Khameini terbagi atas tiga kelompok.

Tiga kelompok tersebut meliputi (1) kelompok pro-demokrasi dan kalangan diaspora yang melihat perisitiwa ini sebagai wujud keberhasilan dan momentum perubahan di Iran, (2) kelompok pro-pemerintah yang berduka, mengutuk, dan melancarkan protes keras atas serangan brutal Amerika Serikat dan Israel, serta (3) kelompok masyarakat yang khawatir terhadap masa depan negaranya dan potensi konflik yang lebih besar di kawasan.

Kebahagiaan Masyarakat Iran setelah Kematian Khamenei

Warga Iran berkumpul usai pengumuman tewasnya pemimpin Iran Ali Khamenei oleh Israel and Amerika di Teheran, Iran (1/3/2026). Foto: Majid Asgaripour/WANA via Reuters

Sering meningkatnya intensitas protes masyarakat sipil Iran dalam beberapa tahun terakhir—yang terkait dengan permasalahan ekonomi dan meningkatnya perilaku represif pemerintah—kematian Khamenei disambut bahagia oleh beberapa kelompok masyarakat Iran.

Perayaan dilakukan di Teheran, Abdanan, Isfahan, dan beberapa kota lainnya di Iran, sesaat setelah pemerintah mengumumkan kematian Khamenei. Banyak masyarakat turun ke jalan, melaksanakan parade, dan bahkan merusak berbagai bangunan dan fasilitas umum yang dianggap sebagai simbol kediktatoran pemerintahan teokrasi Iran.

Kondisi serupa juga terjadi di beberapa kota besar di Amerika Serikat, Eropa, dan negara-negara lainnya, di mana para eksil dan diaspora Iran meluapkan kebahagiaannya dengan melakukan serangkaian aksi di jalanan dan pusat-pusat perkotaan.

Dukungan penuh juga disuarakan masyarakat kepada Amerika Serikat dan Israel yang berhasil melancarkan operasi pembunuhan pemimpin besar Iran yang dianggap telah memerintah secara represif dan brutal selama lebih dari tiga dekade.

Presiden AS Donald Trump mengatakan militer AS telah memulai operasi tembur besar-besaran terhadap Iran, mengikuti serangan bersama Israel yang disampaikan sebagai upaya menumpas ancaman dari rezim Iran, Sabtu (28/2/2026). Foto: Dok. Donald Trump via Truth Social/Handout via REUTERS

Bagi kelompok pro-demokrasi, para eksil, dan kalangan diaspora Iran, kematian Khamenei menghadirkan sebuah harapan baru bagi terjadinya revolusi yang akan membongkar penuh tatanan politik dan pemerintahan diktator Iran sejak masa Revolusi Islam.

Ketiadaan imam besar Khamenei sebagai tokoh sentral dalam perpolitkan Iran dianggap akan menghasilkan kekosongan kekuasaan yang pada akhirnya memberikan peluang bagi masyarakat sipil mengganti rezim pemerintahan lama yang represif dengan pemerintahan baru yang demokratis dan sekuler.

Melalui aksi dan ekspresi yang ditampilkan, kelompok masyarakat pada kubu ini membayangkan bahwa nantinya kehidupan sosial-politik masyarakat Iran setelah Khamenei akan dipenuhi dengan kebebasan dan kemakmuran, tanpa adanya rasa ketakutan terhadap adanya represi dan kekerasan pemerintah.

Duka dan Kemarahan Publik Iran atas Kematian Khamenei

Berkebalikan dengan luapan kebahagiaan kelompok pro-demokrasi dan para diaspora Iran di luar negeri, pada realitasnya mayoritas masyarakat Iran justru mengalami duka yang mendalam atas situasi perang dan kematian Imam Besar Khamenei.

Warga memegang poster bergambar mendiang Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei dalam protes menentang Israel dan serangan AS terhadap Iran, menyusul pembunuhan Ali Khamenei, di Sanaa, Yaman, 1 Maret 2026. Foto: REUTERS/Khaled Abdullah

Jutaan masyarakat Iran melancarkan aksi dan demonstrasi yang mengecam agresivitas dan kesewenang-wenangan Amerika Serikat dan Israel dalam melancarkan serangan brutal ke Teheran dan berbagai kota lainnya.

Sebagai bentuk dukungan penuh terhadap pemerintah, tidak jarang komunitas masyarakat berinisiatif secara mandiri menggelar kegiatan doa dan prosesi simbolik guna mengenang dan menghormati Khamenei, yang dianggap sebagai pemimpin dan pahlawan bagi bangsa Iran.

Selain itu, menyusul serangan Amerika Serikat dan Israel terhadap sekolah di Kota Minab yang membunuh 165 anak-anak, ribuan masyarakat Iran menunjukkan solidaritasnya dengan berkumpul dan ikut serta dalam prosesi pemakaman massal yang dilakukan.

Gambaran situasi tersebut jelas berkontradiksi dengan narasi dominan bahwa mayoritas penduduk Iran menentang pemerintah dan menuntut pergantian rezim, seperti halnya yang diutarakan pemerintah Amerika Serikat dan media-media Barat.

Ribuan warga gelar unjuk rasa menentang serangan Israel dan AS terhadap Iran, menyusul pembunuhan Ali Khamenei, di Sanaa, Yaman, 1 Maret 2026. Foto: REUTERS/Khaled Abdullah

Alih-alih mendukung invasi dan pembunuhan terhadap Imam Khamenei, pengutukan dan kecaman justru datang dari mayoritas masyarakat Iran terhadap Amerika Serikat, Israel, dan negara-negara sekutunya.

Serangan yang dilakukan tidak hanya dianggap sebagai pelanggaran serius terhadap kedaulatan teritorial Iran, tetapi juga telah mencederai harkat dan martabat seluruh bangsa Iran secara mendalam.

Berkaitan dengan hal tersebut, pihak Amerika Serikat dan Israel telah salah dalam menilai opini publik dan keberpihakan sebagian besar masyarakat. Keberhasilan operasi pembunuhan terhadap Khamenei serta pejabat-pejabat politik dan militer Iran justru tidak secara langsung mengarah pada eskalasi tuntutan dan upaya penggulingan rezim oleh masyarakat sipil.

Namun sebaliknya, situasi yang terjadi saat ini justru memperkuat solidaritas antarmasyarakat dan peningkatan dukungan terhadap pemerintah Iran dalam melancarkan serangan-serangan balasan terhadap Israel dan pangkalan militer Amerika Serikat di negara-negara Arab.

Kekhawatiran terhadap Konflik dan Situasi Politik setelah Khamenei

Ilustrasi konflik. Foto: Shutterstock

Meningkatnya tensi politik dan intensitas serangan militer antara Iran dan Amerika Serikat-Israel tentu memunculkan kekhawatiran di kalangan masyarakat Iran. Instabilitas regional dan potensi peperangan dalam skala luas semakin mempersulit kondisi sosial-ekonomi penduduk Iran yang telah terimbas sanksi dan embargo ekonomi secara berkepanjangan.

Sebelum eskalasi perang terjadi, perekonomian Iran telah berada pada titik terendah dengan angka inflasi mencapai 48,6% pada akhir tahun 2025. Keadaan tersebut mengakibatkan penderitaan bagi masyarakat Iran di saat harga barang dan jasa meningkat secara signifikan dan berbagai kegiatan ekonomi yang tidak dapat berjalan secara normal.

Kini, mandeknya aktivitas perekonomian dan sektor-sektor industri krusial selama perang berlangsung memperparah krisis sosial-ekonomi yang selama ini melanda penduduk Iran dan negara-negara di kawasan.

Kekosongan kepemimpinan setelah kematian Khamenei juga memunculkan kekhawatiran masyarakat terhadap ketidakpastian masa depan politik dan pemerintahan nasional di Iran.

Ilustrasi bendera Arab Saudi. Foto: Shutterstock

Pengalaman dari peristiwa Arab Spring sebelumnya—di mana tumbangnya rezim-rezim diktator di beberapa Negara Arab—tidak menghasilkan pemerintahan baru yang demokratis dan berlandaskan pada kepentingan masyarakat sipil.

Sebaliknya, pergantian rezim yang dipaksakan melalui invasi dan pembunuhan justru memperdalam disrupsi dan pertentangan politik yang terjadi, bahkan berujung pada terjadinya perang sipil yang berkepanjangan, seperti halnya yang terjadi di Libya dan Suriah.

Tanpa adanya pemahaman yang mendalam terhadap suara populer dan kepentingan mayoritas publik Iran, serta ketiadaan pendekatan strategis dalam membangun kembali pemerintahan Iran setelah tumbangnya rezim pemerintahan diktator, ambisi pergantian rezim Amerika Serikat, Israel, dan negaranya berpotensi besar berujung pada kegagalan politik yang fatal.

Kekosongan kekuasaan dan tajamnya friksi politik antara kelompok pro-demokrasi dengan mayoritas pendukung rezim revolusioner dapat berujung pada terjadinya perang sipil yang justru mengubah Iran menjadi negara konfliktual yang akan meningkatkan ancaman keamanan dan instabilitas di lingkup regional dan global.