Konten dari Pengguna

Mahasiswa FK UNAIR Teliti Resistensi Antibiotik di Mahidol University

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Kayla Shafa Saqilah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Kayla dan Dinda melakukan proses konjugasi bakteri di laboratorium Mahidol University sebagai bagian dari penelitian mengenai penyebaran gen resistensi antibiotik. Dok. Istimewa.
zoom-in-whitePerbesar
Kayla dan Dinda melakukan proses konjugasi bakteri di laboratorium Mahidol University sebagai bagian dari penelitian mengenai penyebaran gen resistensi antibiotik. Dok. Istimewa.

MAHIDOL UNIVERSITY, THAILAND - Melalui program Student Outbound yang diselenggarakan oleh Office of International Affairs (OIA) Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga (FK UNAIR), Dinda Salsabila Putri dan Kayla Shafa Saqilah berkesempatan mengikuti pertukaran akademik internasional selama satu bulan di Institute of Molecular Biosciences, Mahidol University, Thailand. Di sana, keduanya mempelajari secara langsung bagaimana bakteri dapat "berbagi" kemampuan untuk bertahan terhadap antibiotik melalui penelitian di laboratorium, sekaligus merasakan pengalaman riset yang selama ini hanya dipelajari di ruang kuliah.

Dalam penelitian tersebut, Dinda dan Kayla mempelajari proses perpindahan plasmid pembawa gen resistensi antibiotik dari Salmonella enterica Krefeld ke Escherichia coli K-12 melalui bacterial conjugation. Setelah proses transfer gen berlangsung, keberhasilannya dievaluasi menggunakan antimicrobial susceptibility testing dan pengujian Minimum Inhibitory Concentration (MIC). Hasil tersebut memberikan gambaran bahwa perpindahan materi genetik antarbakteri dapat mengubah profil resistensi antibiotik dan berkontribusi terhadap penyebaran antimicrobial resistance (AMR).

Selain memperdalam pemahaman mengenai mikrobiologi dan biosains molekuler, program ini juga memperkaya pengalaman akademik melalui interaksi dengan peneliti internasional, penerapan standar laboratorium, serta penyusunan dan presentasi hasil penelitian. Pengalaman tersebut diharapkan dapat menjadi bekal bagi Dinda dan Kayla untuk terus mengembangkan riset di bidang biomedis sekaligus memperkuat kontribusi mahasiswa FK UNAIR dalam menghadapi tantangan resistensi antimikroba di tingkat global.

Pengalaman ini mendukung SDG 3 (Good Health and Well-being) melalui peningkatan pemahaman mengenai resistensi antimikroba sebagai salah satu tantangan kesehatan global, SDG 4 (Quality Education) dengan memberikan pengalaman pembelajaran berbasis riset, serta SDG 17 (Partnerships for the Goals) melalui kolaborasi antara FK UNAIR dan institusi mitra internasional. Selain memperoleh keterampilan laboratorium, kami juga belajar berpikir kritis, menganalisis data penelitian, serta bekerja dalam lingkungan akademik multikultural yang memperluas wawasan kami sebagai calon tenaga kesehatan.