Jembatan Ciledug dan Masalah Sampah yang Tak Kunjung Usai

mahasiswa prodi manajemen unpam
·waktu baca 6 menit
Tulisan dari KAYLA AMATUL ZAKIRA tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
oleh: Kayla amatul zakira Mahasiswa universitas Pamulang prodi Manajemen

Permasalahan Sampah yang Terus Berulang
Salah satu permasalahan lingkungan yang menjadi perhatian saya adalah tumpukan sampah yang terlihat setiap pagi di sekitar Jembatan Ciledug, tepatnya di pertigaan jalan menuju Pondok Kacang dan Pondok Aren, Tangerang. Lokasi tersebut merupakan salah satu jalur yang dilewati masyarakat untuk melakukan aktivitas sehari-hari.
Berdasarkan pengamatan saya, tumpukan sampah di lokasi tersebut bukan hanya terjadi sesekali, tetapi menjadi pemandangan yang berulang setiap pagi. Saya menduga salah satu penyebabnya adalah kebiasaan sebagian masyarakat yang tidak ingin membayar iuran pengangkutan sampah dari rumah, sehingga sampah justru dibuang di lokasi tersebut. Namun, penyebab ini masih memerlukan penelusuran lebih lanjut agar dapat dipastikan.
Permasalahan ini juga pernah diberitakan sebelumnya. Meskipun demikian, kondisi tersebut masih menjadi perhatian karena sampah kembali menumpuk. Setiap pagi, petugas kebersihan akhirnya membersihkan sampah yang berada di lokasi tersebut.
Menurut saya, kondisi ini menunjukkan bahwa membersihkan sampah saja belum tentu menyelesaikan permasalahan secara menyeluruh. Jika kebiasaan membuang sampah sembarangan masih terus terjadi, petugas kebersihan harus kembali menangani tumpukan sampah yang sama. Akibatnya, tenaga, waktu, dan biaya kebersihan harus terus dikeluarkan untuk menangani masalah yang berulang.
Dampak Lingkungan dan Sosial
Tumpukan sampah di sekitar Jembatan Ciledug dapat mengurangi keindahan dan kenyamanan lingkungan. Sampah yang menumpuk juga berpotensi menimbulkan bau tidak sedap, mengundang lalat atau hewan pengganggu, serta menghambat aliran air apabila masuk ke saluran drainase.
Selain berdampak terhadap lingkungan, kebiasaan membuang sampah sembarangan juga dapat menambah beban pekerjaan petugas kebersihan. Padahal, menjaga kebersihan lingkungan seharusnya menjadi tanggung jawab bersama, bukan hanya petugas yang membersihkannya setiap hari.
Menurut saya, permasalahan ini berkaitan dengan kesadaran masyarakat dalam mengelola sampah dan kesediaan untuk ikut menanggung biaya pengelolaannya. Pengelolaan sampah membutuhkan sistem yang jelas, mulai dari pengumpulan, pengangkutan, hingga pemrosesan akhir.
Oleh karena itu, perlu ada solusi yang tidak hanya berfokus pada pembersihan, tetapi juga mendorong perubahan kebiasaan masyarakat dalam membuang dan mengelola sampah.
Ecopreneurship sebagai Peluang Solusi
Ecopreneurship merupakan konsep kewirausahaan yang menggabungkan kegiatan bisnis dengan kepedulian terhadap lingkungan. Melalui konsep ini, permasalahan sampah dapat menjadi peluang untuk menciptakan kegiatan usaha yang memberikan manfaat ekonomi sekaligus mengurangi dampak negatif terhadap lingkungan.
Salah satu ide yang dapat dikembangkan adalah usaha pengumpulan dan pemilahan sampah yang melibatkan masyarakat sekitar. Sampah anorganik, seperti botol plastik, kardus, kertas, dan kaleng, dapat dipisahkan berdasarkan jenisnya untuk kemudian dijual kepada pengepul atau mitra daur ulang.
Kegiatan tersebut berpotensi menghasilkan pendapatan sekaligus mengurangi jumlah sampah yang dibuang begitu saja. Usaha ini juga dapat dikembangkan melalui sistem bank sampah, yaitu masyarakat menyetorkan sampah yang sudah dipilah dan memperoleh nilai tabungan berdasarkan jenis serta berat sampahnya.
Namun, menurut saya, solusi yang paling penting bukan hanya menjadikan sampah sebagai sumber penghasilan, melainkan juga memastikan masyarakat memiliki akses terhadap layanan pengelolaan sampah yang layak.
Jika sebagian masyarakat membuang sampah sembarangan karena ingin menghindari iuran, diperlukan pendekatan yang dapat menjelaskan manfaat pengelolaan sampah yang teratur. Besaran biaya, mekanisme pembayaran, dan kualitas layanan juga perlu disesuaikan dengan kondisi masyarakat.
Dengan demikian, peluang usaha pengelolaan sampah dapat dikembangkan bersama upaya meningkatkan kesadaran lingkungan. Tujuannya bukan sekadar memperoleh keuntungan, tetapi juga mengurangi kebiasaan membuang sampah sembarangan.
Penerapan Prinsip 4R
Permasalahan sampah di Jembatan Ciledug juga dapat ditangani dengan menerapkan prinsip 4R, yaitu Reduce, Reuse, Recycle, dan Replace.
1. Reduce (Mengurangi)
Masyarakat dapat mengurangi sampah sejak dari rumah dengan membatasi penggunaan plastik sekali pakai, membawa tas belanja sendiri, serta memilih produk dengan kemasan yang tidak berlebihan. Semakin sedikit sampah yang dihasilkan, semakin ringan pula beban pengelolaannya.
2. Reuse (Menggunakan Kembali)
Barang yang masih layak digunakan, seperti wadah dan kantong belanja, dapat digunakan kembali sesuai fungsinya. Kebiasaan ini membantu memperpanjang masa pakai barang dan mengurangi jumlah sampah yang dibuang.
3. Recycle (Mendaur Ulang)
Sampah yang dapat didaur ulang, seperti botol plastik, kardus, kertas, dan kaleng, dapat dipilah untuk disalurkan kepada pengepul atau mitra daur ulang. Kegiatan ini juga dapat menjadi peluang usaha bagi masyarakat melalui pengumpulan dan penjualan sampah terpilah.
4. Replace (Mengganti)
Masyarakat dapat mengganti barang sekali pakai dengan alternatif yang lebih tahan lama, seperti menggunakan botol minum dan tas belanja yang dapat dipakai berulang kali. Pelaku usaha juga dapat mempertimbangkan kemasan yang lebih mudah didaur ulang.
Penerapan 4R perlu disertai kebiasaan membuang sampah pada tempatnya. Sebab, sampah yang sudah dipilah sekalipun tetap membutuhkan sistem pengumpulan dan pengangkutan yang baik agar tidak kembali menumpuk di tempat yang tidak semestinya.
Pentingnya Kerja Sama Masyarakat dan Pemerintah
Kondisi di sekitar Jembatan Ciledug menunjukkan bahwa menjaga kebersihan lingkungan tidak cukup hanya mengandalkan petugas kebersihan. Petugas memang berperan penting dalam membersihkan sampah, tetapi masyarakat juga perlu berpartisipasi dengan tidak membuang sampah sembarangan dan menggunakan layanan pengelolaan sampah yang tersedia.
Pemerintah dan pengurus lingkungan dapat membantu melalui edukasi, penyediaan informasi mengenai layanan pengangkutan sampah, serta pengawasan terhadap lokasi yang berulang kali dijadikan tempat pembuangan sampah.
Selain itu, perlu dilakukan penelusuran mengenai penyebab sampah terus menumpuk, termasuk apakah terdapat kendala dalam layanan pengangkutan, keterbatasan tempat penampungan, atau kebiasaan masyarakat yang belum berubah.
Menurut saya, jika pembersihan rutin hanya dilakukan tanpa upaya mencegah sampah dibuang kembali, masalah ini berpotensi terus berulang. Karena itu, kerja sama masyarakat, petugas kebersihan, pemerintah setempat, dan pelaku usaha diperlukan untuk menciptakan pengelolaan sampah yang lebih berkelanjutan.
Kesimpulan
Tumpukan sampah yang terlihat setiap pagi di sekitar Jembatan Ciledug, khususnya di pertigaan menuju Pondok Kacang dan Pondok Aren, merupakan permasalahan lingkungan yang perlu mendapatkan perhatian bersama. Berdasarkan pengamatan saya, sampah tersebut terus menjadi persoalan meskipun petugas kebersihan rutin membersihkannya pada pagi hari.
Kondisi ini menunjukkan bahwa penyelesaian masalah sampah tidak cukup hanya melalui kegiatan pembersihan. Perlu ada upaya untuk memahami penyebabnya, meningkatkan kesadaran masyarakat, dan membangun sistem pengelolaan sampah yang lebih baik.
Melalui konsep ecopreneurship, sampah yang masih memiliki nilai ekonomi dapat dimanfaatkan sebagai peluang usaha melalui kegiatan pengumpulan, pemilahan, dan daur ulang. Penerapan prinsip 4R juga dapat membantu mengurangi jumlah sampah yang dihasilkan masyarakat.
Menurut saya, lingkungan yang bersih membutuhkan tanggung jawab bersama. Petugas kebersihan tidak seharusnya menjadi satu-satunya pihak yang menanggung akibat dari kebiasaan membuang sampah sembarangan. Dengan menggabungkan kepedulian lingkungan, perubahan perilaku, dan peluang usaha yang berkelanjutan, masalah sampah di sekitar Jembatan Ciledug diharapkan dapat ditangani dengan lebih baik.
