Konten dari Pengguna

Televisi Masih Ditonton, Tapi Apakah Masih Dicari?

Kayla Anindya

Kayla Anindya

Mahasiswa Universitas Pamulang

·waktu baca 3 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Kayla Anindya tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Televisi masih ditonton di tengah perkembangan media digital, meski kebiasaan audiens kini beralih ke berbagai platform digital. Foto: Illustrasi AI
zoom-in-whitePerbesar
Televisi masih ditonton di tengah perkembangan media digital, meski kebiasaan audiens kini beralih ke berbagai platform digital. Foto: Illustrasi AI

Televisi masih ditonton oleh masyarakat hingga sekarang. Di banyak rumah, layar televisi masih menyala untuk menemani waktu santai, menonton berita, pertandingan olahraga, sinetron, hingga berbagai program hiburan. Namun, kebiasaan masyarakat dalam mengonsumsi media perlahan berubah seiring berkembangnya platform digital.

Dulu, televisi menjadi salah satu pilihan utama untuk mendapatkan informasi dan hiburan. Penonton harus mengikuti jadwal yang sudah ditentukan oleh stasiun televisi. Jika sebuah acara tayang pukul tujuh malam, penonton perlu berada di depan televisi pada waktu tersebut.

Sekarang situasinya berbeda. Kehadiran YouTube, TikTok, media sosial, dan layanan streaming memberikan lebih banyak pilihan kepada audiens. Konten dapat dicari dan ditonton sesuai waktu yang mereka inginkan.

Televisi Masih Ditonton di Tengah Media Digital

Fakta bahwa televisi masih ditonton tidak selalu berarti masyarakat mencarinya dengan cara yang sama seperti dahulu. Ada perbedaan antara menonton karena televisi sedang menyala dan secara aktif memilih sebuah tayangan karena memang ingin menontonnya.

Perubahan ini terlihat dari kebiasaan masyarakat yang semakin terbiasa mencari konten melalui internet. Ketika ingin mengetahui sebuah informasi, seseorang dapat langsung mengetik kata kunci di mesin pencari atau media sosial. Begitu juga dengan hiburan. Audiens dapat memilih video, film, musik, atau program yang ingin mereka tonton tanpa harus menunggu jadwal tertentu.

Hal ini membuat posisi audiens menjadi semakin aktif. Mereka tidak hanya menerima program yang disediakan media, tetapi juga menentukan sendiri apa yang ingin ditonton, kapan ingin menonton, dan melalui perangkat apa konten tersebut akan diakses.

Dari Menunggu Tayangan Menjadi Mencari Konten

Perubahan perilaku audiens menjadi salah satu tantangan bagi industri televisi. Persaingan saat ini bukan hanya terjadi antarstasiun televisi, tetapi juga dengan berbagai platform digital yang menawarkan konten secara cepat dan personal.

Menariknya, program televisi sendiri kini tidak hanya hidup di layar TV. Potongan acara televisi banyak ditemukan kembali melalui TikTok, Instagram, YouTube, dan platform digital lainnya.

Seseorang bahkan dapat mengenal sebuah program televisi tanpa pernah menyaksikan episode lengkapnya di televisi. Mereka mungkin pertama kali menemukan cuplikan wawancara di TikTok, potongan adegan di Instagram, atau tayangan ulang melalui YouTube.

Artinya, yang berubah bukan hanya tempat menonton, tetapi juga cara sebuah program ditemukan oleh audiens.

Televisi Tidak Hilang, tetapi Cara Menontonnya Berubah

Kehadiran media digital bukan berarti televisi langsung kehilangan fungsinya. Televisi masih memiliki berbagai jenis program yang menarik perhatian masyarakat, terutama untuk tayangan yang dinikmati secara langsung atau bersama-sama.

Namun, televisi kini berada dalam ekosistem media yang jauh lebih luas. Sebuah program tidak cukup hanya memikirkan bagaimana mendapatkan penonton saat jam tayang berlangsung. Program juga perlu mempertimbangkan bagaimana kontennya dapat ditemukan kembali setelah tayang.

Karena itu, banyak program televisi memperluas distribusi kontennya ke media sosial dan platform digital. Cuplikan acara, behind the scenes, hingga tayangan ulang menjadi cara untuk memperpanjang usia sebuah program sekaligus menjangkau audiens yang mungkin tidak lagi rutin menonton televisi secara konvensional.

Televisi Masih Ditonton, tetapi Apakah Masih Dicari?

Pertanyaan mengenai apakah televisi masih ditonton sebenarnya tidak cukup dijawab hanya dengan melihat apakah masyarakat masih memiliki atau menyalakan televisi. Hal yang juga menarik untuk diperhatikan adalah apakah audiens masih secara aktif mencari program televisi sebagai pilihan utama mereka.

Di tengah banyaknya pilihan media, perhatian audiens menjadi semakin terbagi. Masyarakat dapat berpindah dari televisi ke TikTok, YouTube, Instagram, layanan streaming, lalu kembali lagi ke televisi dalam satu hari yang sama.

Kondisi ini menunjukkan bahwa televisi bukan sekadar bersaing untuk mendapatkan jumlah penonton, tetapi juga bersaing untuk mendapatkan perhatian.

Pada akhirnya, mungkin persoalannya bukan lagi apakah televisi akan hilang atau tetap bertahan. Pertanyaan yang lebih relevan adalah bagaimana televisi dapat tetap menjadi media yang dipilih dan dicari, bukan sekadar media yang kebetulan sedang ditonton.