Peran Perguruan Tinggi dalam Meningkatkan Kesehatan Mental pada Mahasiswa

Mahasiswa S1 Kesehatan Masyarakat Universitas Airlangga
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Kayla Azzahra tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Kesehatan mental di Indonesia merupakan topik yang sering dibahas oleh berbagai kalangan dan memiliki tingkat yang masih tergolong tinggi. Kesehatan mental pada mahasiswa dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor, baik itu dari faktor internal maupun eksternal. Contohnya yaitu faktor genetika, keluarga, pertemanan, gaya hidup, sosial, dan berbagai faktor lainnya. Tentunya faktor-faktor tersebut tidak selalu memberikan dampak yang negatif melainkan dapat memengaruhi mahasiswa secara positif. Akan tetapi, masih banyak mahasiswa kerap tidak mengetahui mana yang memberikan dampak yang baik dan buruknya.
Salah satu faktor yang berpotensi memengaruhi kesehatan mental mahasiswa adalah padatnya aktivitas perkuliahan. Masa perkuliahan merupakan masa yang penting dalam kehidupan seorang mahasiswa, karena di tahap inilah mereka memperoleh ilmu dan pengalaman baru yang akan membentuk masa depan mereka. Namun, adanya perkuliahan yang padat sering kali menyebabkan mahasiswa abai terhadap kesehatan mental mereka. Hal ini dapat terjadi karena mereka terlalu fokus pada tugas perkuliahan dan kegiatan organisasi yang diikutinya hingga lupa untuk beristirahat sejenak. Terlebih adanya tuntutan dari orang-orang di sekitar yang tanpa disadari dapat memperburuk kesehatan mental mereka.

Mahasiswa cenderung merasa tertekan dan cemas karena tekanan akademik yang dihadapi. Perasaan kewalahan dengan tugas-tugas yang menumpuk dan sulit untuk menemukan keseimbangan seakan-akan menghantui pikiran mahasiswa. Akibatnya, mahasiswa seringkali mengalami kurang tidur, pola makan yang tidak sehat, dan kurangnya waktu luang. Di samping itu, ada pula tekanan dari luar bidang akademik seperti magang atau bekerja paruh waktu demi memperoleh pengalaman yang berharga ataupun mencari uang tambahan. Hal ini membuat mahasiwa memiliki jadwal yang padat dan cenderung merasakan stres. Ketika keseimbangan antara waktu akademik, sosial, dan kehidupan pribadi terganggu, bisa terjadi risiko masalah kesehatan mental seperti kecemasan, depresi, dan kelelahan emosional menjadi lebih tinggi.
Perguruan tinggi akhirnya mulai menyadari pentingnya kesehatan mental mahasiswa. Untuk membantu mahasiswa menyelesaikan masalahnya, perguruan tinggi memiliki unit bimbingan dan konseling yang diantaranya menyediakan layanan konseling tatap (Nur, 2016). Kampus mulai memfasilitasi klinik kesehatan kampus, konseling, dan program kesejahteraan mahasiswa agar mahasiswa dapat memberikan keluh kesah untuk menghadapi tekanan perkuliahan. Penting bagi mahasiswa untuk menyadari sumber daya ini dan memanfaatkannya saat mereka merasa tertekan atau mengalami kesulitan emosional.
Selain itu, penting juga peran bagi perguruan tinggi untuk terus meningkatkan layanan program kesehatan mental serta mendukung komunitas yang dapat membantu mahasiswa merasa nyaman membicarakan apa yang mereka rasakan maupun meminta saran atas apa yang mahasiswa alami sebagai upaya pencegahan yang lebih baik.
Upaya ini membuahkan hasil, isu kesehatan mental mahasiswa mengalami perubahan dan peningkatan. Permasalahan mahasiswa yang datang ke pusat konseling mahasiswa mengalami pergeseran, dari semula terkait dengan masalah tahap perkembangan atau kebutuhan informasi, menjadi terkait dengan masalah psikologis yang semakin berat (Eklund, Dowdy, Jones, & Furlong, 2011). Meskipun masih banyak mahasiswa yang enggan mencari bantuan psikologis pada layanan psikologis formal (Rasyida, 2019), jumlah mahasiswa yang mendaftarkan diri untuk mengonsultasikan masalah psikologisnya ke unit layanan konseling universitas mengalami peningkatan dari tahun ke tahun.
Adanya peningkatan dari tahun ke tahun ini merupakan hal yang positif. Layanan konseling Help Center diharapkan dapat membantu permasalahan psikologis khususnya bagi para civitas academica Universitas Airlangga baik yang meliputi permasalahan pribadi, keluarga, pendidikan, atau perkembangan seperti fisik, sosial, maupun psikis. Mahasiswa juga tidak perlu merasa khawatir, karena layanan Help Center memiliki kode etik yang selalu dipegang yaitu menjaga kerahasiaan dan privasi. Masalah yang disampaikan dijaga oleh anggota tim baik dari identitas dan permasalahan yang dihadapi kecuali permasalahan yang berat dan perlu didiskusikan. Apabila perlu didiskusikan tim tidak akan menyebutkan identitas bahkan nama fakultasnya sekalipun. Harapannya dengan adanya Help Center dapat membantu mahasiswa menyelesaikan permasalahan yang dialami sehingga kehidupan di kampus dapat berjalan dengan baik. Jadi tidak ada mahasiswa Universitas Airlangga yang drop out karena latar belakang masalah psikologis.
DAFTAR PUSTAKA
Adrian, H. (2023). Pengaruh Padatnya Aktivitas Perkuliahan Terhadap Kondisi Kesehatan Mental Mahasiswa. https://www.kompasiana.com/haikaladrian4334/64663cd608a8b50e6d103ae2/ pengaruh-padatnya-aktivitas-perkuliahan-terhadap-kondisi-kesehatan-mental- mahasiswa
Eklund, K., Dowdy, E., Jones, C., & Furlong, M. (2011). Applicability of the dual-factor model of mental health for college students. Journal of College Student Psychotherapy https://doi.org/10.1080/87568225.2011.532677
Kesehatan mental Mahasiswa Ditinjau Dari two continua model: Pengujian multiple analysis of variance. (n.d.-a). https://www.researchgate.net/publication/352840542_Kesehatan_mental_mahasiswa_ditinjau_dari_two_continua_model_Pengujian_multiple_analysis_of_variance
Najmi Hafiy, M. (2021). Pentingnya Menjaga Kesehatan Mental Bagi Mahasiswa.https://gc.ukm.ugm.ac.id/2021/05/pentingnya-menjaga- kesehatan-mental-bagi-mahasiswa/
Newsunair. (2021). Help Center, Ruang Solusi permasalahan civitas Akademika Unair. Unair News. https://news.unair.ac.id/2021/05/20/help-center-ruang-solusi-permasalahan-civitas-akademika-unair/?lang=id
Nur C.H.W., (2016) Bimbingan Konseling Online. Jurnal Ilmu Dakwah. EISSN 2581-236x. https://dx.doi.org/10.21580/jid.36i.2 .1773
Rasyida, A. (2019). Faktor yang menjadi hambatan untuk mencari bantuan psikologis formal di kalangan mahasiswa. Persona:Jurnal Psikologi Indonesia. https://doi.org/10.30996/persona.v8i2.2586
Kayla Azzahra, mahasiswa SI Kesehatan Masyarakat Universitas Airlangga
