Konten dari Pengguna

Malam Satu Suro Yang Identik Dengan Suasana Horor

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Kayla Azzahra tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Prosesi Malam Satu Suro berlangsung khidmat dalam suasana hening yang mencerminkan nilai spiritual dan tradisi budaya Jawa. Foto: Generated by AI
zoom-in-whitePerbesar
Prosesi Malam Satu Suro berlangsung khidmat dalam suasana hening yang mencerminkan nilai spiritual dan tradisi budaya Jawa. Foto: Generated by AI

Malam Satu Suro merupakan tradisi yang memiliki kedudukan penting dalam budaya masyarakat Jawa. Istilah Suro berasal dari kata Asyura dalam bahasa Arab yang merujuk pada tanggal 10 Muharram. Tradisi ini semakin dikenal sejak Sultan Agung Hanyokrokusumo menetapkan kalender Jawa pada tahun 1633 M dengan memadukan sistem kalender Saka dan Hijriah. Karena itu, tanggal 1 Suro selalu bertepatan dengan 1 Muharram yang menandai awal Tahun Baru Islam.

Bagi masyarakat Jawa, Malam Satu Suro bukan hanya sekadar pergantian tahun dalam penanggalan Jawa. Malam tersebut diyakini memiliki nilai spiritual yang kuat dan berkaitan dengan berbagai tradisi yang diwariskan dari generasi ke generasi. Di sejumlah daerah, peringatannya dilakukan melalui berbagai ritual yang disesuaikan dengan adat serta keyakinan masyarakat setempat.

Ritual-ritual yang dijalankan pada malam itu umumnya bertujuan untuk memohon perlindungan dan petunjuk dari Tuhan agar terhindar dari berbagai perbuatan buruk selama bulan Suro. Selain itu, bulan ini juga dianggap sebagai waktu yang tepat untuk melakukan refleksi diri, memperbaiki perilaku, mengungkapkan rasa syukur, serta mengevaluasi kesalahan yang pernah dilakukan sepanjang tahun. Melalui tradisi tersebut, masyarakat berusaha mendekatkan diri kepada Tuhan sekaligus menyambut tahun baru dengan niat yang lebih baik.

Di samping makna spiritualnya, Malam Satu Suro juga lekat dengan berbagai mitos yang berkembang di tengah masyarakat. Banyak yang percaya bahwa malam tersebut memiliki keterkaitan dengan alam gaib, seperti terbukanya gerbang dunia spiritual dan kehadiran roh para leluhur. Keyakinan ini membuat Malam Satu Suro kerap dikaitkan dengan nuansa mistis dan kesan menyeramkan. Hingga kini, tradisi peringatannya masih dapat dijumpai di sejumlah pusat kebudayaan Jawa, seperti Keraton Yogyakarta, Keraton Surakarta, dan Pura Mangkunegaran.

Salah satu tradisi yang sering dilakukan adalah tapa bisu atau topo bisu, yakni laku prihatin yang mengharuskan peserta menjalani prosesi tanpa berbicara sama sekali. Selama ritual berlangsung, seluruh peserta berjalan dan menjalankan kegiatan dalam suasana sunyi. Keheningan yang tercipta sering menimbulkan kesan mencekam bagi sebagian orang yang tidak terbiasa melihatnya. Akibatnya, Malam Satu Suro semakin identik dengan nuansa horor, meskipun inti dari tradisi ini sebenarnya lebih menekankan perenungan diri dan pendekatan spiritual kepada Tuhan.

Pada dasarnya, Malam Satu Suro tidak hanya berkaitan dengan mitos maupun kesan mistis yang sering menjadi pembahasan masyarakat. Di balik citra horor yang melekat, tradisi ini mengandung makna mendalam sebagai sarana introspeksi, mendekatkan diri kepada Tuhan, serta memperbaiki diri dalam menjalani kehidupan. Oleh sebab itu, Malam Satu Suro dapat dipandang bukan hanya sebagai warisan budaya Jawa, tetapi juga sebagai pengingat akan pentingnya refleksi dan pembaruan diri saat memasuki tahun yang baru.