Menghafal Bukan Akhir, Murojaah Adalah Kunci

Mahasisiwa UIN Syarif Hidayatullah Jakarta fakultas ushuluddin
·waktu baca 2 menit
Tulisan dari Kayla Dhiaul Haq tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Banyak orang berlomba-lomba menghafal Al-Qur'an, tetapi tidak semua memahami bahwa menghafal hanyalah langkah awal. Tantangan yang lebih besar justru datang setelah hafalan selesai, yaitu bagaimana mempertahankan dan menjaga hafalan tersebut agar tetap kuat dan melekat di hati. Tanpa murojaah atau pengulangan, hafalan bisa memudar perlahan.
Menghafal Al-Qur’an adalah ibadah mulia. Namun, proses itu tidak berhenti ketika 30 juz sudah selesai dihafal. Justru dari sanalah perjuangan sebenarnya dimulai. Rasulullah SAW mengingatkan bahwa Al-Qur’an bisa hilang dari ingatan seseorang lebih cepat dari unta yang lepas dari ikatannya. Ini menunjukkan betapa pentingnya murojaah dalam menjaga hafalan.
Banyak penghafal yang mengalami kesulitan karena merasa "selesai" setelah hafal. Padahal, hafalan yang tidak dijaga akan hilang perlahan tanpa disadari. Murojaah adalah bentuk tanggung jawab terhadap kalam Allah. Ia bukan hanya menjaga hafalan, tetapi juga menjadi bentuk ibadah rutin yang melatih hati, pikiran, dan kedekatan spiritual.
Beberapa metode murojaah bisa dilakukan: mengulang bacaan secara rutin, menyetorkan hafalan ke guru atau teman, atau melibatkan diri dalam kegiatan tahfidz harian. Konsistensi jauh lebih penting daripada durasi panjang sekali waktu. Murojaah yang sedikit tapi istiqamah akan lebih kokoh dibanding banyak tapi jarang.
Menghafal bukanlah titik akhir dalam perjalanan Al-Qur’an. Murojaah adalah bentuk kesetiaan kita terhadap firman Allah. Hafalan akan menjadi kuat jika terus dijaga, dan akan melemah jika ditinggalkan.
Jangan merasa cukup hanya dengan menghafal. Tumbuhkan cinta pada Al-Qur’an dengan terus berinteraksi dengannya setiap hari. Karena menghafal adalah amanah, dan murojaah adalah bukti tanggung jawab kita atas amanah itu.
