Perempuan dan Pendidikan: Apakah Kesempatan yang Sama Berarti Pengalaman yang Sama?

Mahasiswa Pendidikan Sosiologi, Universitas Negeri Jakarta.
·waktu baca 7 menit
Tulisan dari Kayla nahla Hanina tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Kesempatan yang sama sering dianggap sebagai tanda bahwa setiap orang telah memiliki peluang untuk berkembang. Dalam pendidikan, misalnya, perempuan dan laki-laki dapat mengakses sekolah, mengikuti perkuliahan, memilih bidang studi, hingga menyampaikan pendapat di ruang kelas. Namun, apakah kesempatan yang terlihat sama selalu menghasilkan pengalaman yang sama?
Pada kenyataannya, pengalaman setiap perempuan tidak selalu serupa. Ada perempuan yang memperoleh dukungan penuh dari keluarga untuk melanjutkan pendidikan, sementara perempuan lain harus membagi waktunya dengan pekerjaan atau tanggung jawab rumah tangga. Ada pula yang memiliki akses terhadap fasilitas belajar, tetapi ada yang harus menghadapi keterbatasan ekonomi dan lingkungan. Perbedaan tersebut menunjukkan bahwa pengalaman perempuan tidak dapat dipahami hanya berdasarkan jenis kelamin.
Persoalan ini penting dibicarakan karena kesetaraan bukan sekadar tentang memberikan kesempatan yang sama secara formal. Kita juga perlu melihat kondisi sosial yang memengaruhi kemampuan seseorang dalam memanfaatkan kesempatan tersebut. Di sinilah pemikiran bell hooks dapat membantu kita memahami hubungan antara gender, kelas sosial, dan pendidikan.
Perempuan Tidak Memiliki Pengalaman yang Seragam
Dalam kehidupan sehari-hari, perempuan terkadang dibicarakan seolah-olah memiliki pengalaman yang sama. Padahal, kehidupan seseorang dibentuk oleh berbagai keadaan, seperti latar belakang keluarga, kondisi ekonomi, lingkungan tempat tinggal, budaya, serta akses terhadap pendidikan.
Sebagai contoh, dua perempuan dapat sama-sama berstatus sebagai mahasiswa. Namun, pengalaman mereka selama menjalani perkuliahan mungkin berbeda. Mahasiswa pertama memiliki dukungan finansial keluarga sehingga dapat mengikuti berbagai kegiatan kampus. Sementara itu, mahasiswa lainnya harus bekerja untuk memenuhi kebutuhan kuliah dan membantu perekonomian keluarga.
Keduanya sama-sama memiliki status sebagai mahasiswa, tetapi kondisi yang mereka hadapi tidak sepenuhnya sama. Perbedaan tersebut dapat memengaruhi waktu belajar, kesempatan mengikuti organisasi, hingga pengalaman mereka dalam mengembangkan kemampuan diri.
Hal ini bukan berarti salah satu perempuan memiliki pengalaman yang lebih penting daripada yang lain. Justru, contoh tersebut memperlihatkan bahwa pengalaman sosial seseorang tidak dapat dilepaskan dari kondisi yang melatarbelakanginya.
Karena itu, pembahasan mengenai perempuan perlu melihat lebih dari satu aspek. Gender memang menjadi salah satu faktor yang membentuk pengalaman sosial, tetapi kelas sosial, kondisi ekonomi, dan lingkungan juga dapat memberikan pengaruh.
Membaca Gender dan Kelas Sosial melalui Pemikiran bell hooks
Salah satu pemikir yang membahas persoalan tersebut adalah bell hooks, seorang penulis, akademisi, dan feminis asal Amerika Serikat. Melalui berbagai karyanya, hooks mengkritik cara pandang yang membahas pengalaman perempuan secara seragam tanpa memperhatikan perbedaan ras, kelas sosial, dan latar belakang kehidupan.
Dalam bukunya Feminism Is for Everybody: Passionate Politics (2000), hooks menjelaskan feminisme sebagai gerakan untuk mengakhiri seksisme, eksploitasi, dan penindasan. Pemikiran ini memperlihatkan bahwa feminisme tidak seharusnya dipahami sebagai gerakan yang hanya mewakili kepentingan kelompok perempuan tertentu. Perjuangan menuju kesetaraan perlu memperhatikan kondisi sosial yang beragam.
Salah satu hal penting dalam pemikiran hooks adalah keterkaitan antara gender, ras, dan kelas sosial. Pengalaman seorang perempuan tidak hanya dibentuk oleh identitas gendernya, tetapi juga oleh posisi sosial dan lingkungan tempat ia hidup. Dengan demikian, persoalan perempuan tidak cukup dijelaskan melalui satu faktor saja.
Sebagai contoh, persoalan yang dihadapi perempuan dari keluarga dengan kondisi ekonomi terbatas mungkin berbeda dengan perempuan yang memiliki dukungan ekonomi lebih kuat. Begitu pula pengalaman perempuan yang hidup dalam lingkungan dengan pandangan tradisional mengenai pembagian peran keluarga dapat berbeda dengan mereka yang berada dalam lingkungan yang lebih terbuka terhadap pembagian tanggung jawab.
Pemikiran tersebut membantu kita memahami bahwa tidak ada satu pengalaman yang dapat mewakili seluruh perempuan. Setiap individu memiliki latar belakang dan tantangan yang berbeda, sehingga pembahasan tentang kesetaraan perlu mempertimbangkan keragaman kondisi sosial tersebut.
Pendidikan sebagai Ruang untuk Memahami Perbedaan
Pemikiran bell hooks tidak berhenti pada pembahasan mengenai gender dan ketimpangan sosial. Ia juga memberikan perhatian besar terhadap peran pendidikan dalam membangun kesadaran kritis.
Dalam Teaching to Transgress: Education as the Practice of Freedom (1994), hooks memandang pendidikan sebagai praktik kebebasan. Artinya, pendidikan seharusnya tidak hanya menjadi proses penyampaian materi dari guru kepada peserta didik, tetapi juga menjadi ruang untuk berpikir kritis, berdialog, dan memahami berbagai pengalaman kehidupan.
Melalui pendidikan, peserta didik dapat belajar bahwa setiap orang memiliki latar belakang yang berbeda. Perbedaan tersebut seharusnya tidak menjadi alasan untuk merendahkan atau membatasi kesempatan seseorang dalam belajar dan berkembang.
Misalnya, ketika membahas pembagian peran dalam keluarga, pembelajaran tidak cukup hanya mengulang anggapan bahwa pekerjaan rumah tangga merupakan tanggung jawab perempuan. Peserta didik dapat diajak melihat bagaimana pembagian tanggung jawab terbentuk, mengapa kebiasaan tersebut masih ditemukan, dan bagaimana anggota keluarga dapat membangun pembagian peran yang lebih adil.
Contoh lainnya dapat ditemukan dalam kegiatan diskusi kelompok. Setiap peserta didik memiliki kesempatan untuk menyampaikan pendapat, tetapi guru juga perlu memperhatikan apakah semua peserta didik benar-benar mendapatkan ruang yang setara untuk berbicara. Jangan sampai hanya mereka yang lebih percaya diri atau memiliki kemampuan komunikasi tertentu yang terus mendominasi diskusi.
Dengan demikian, pendidikan bukan hanya mengajarkan pengetahuan, tetapi juga membantu peserta didik mengenali perbedaan, mempertanyakan anggapan yang sudah dianggap biasa, dan membangun sikap saling menghargai.
Kesetaraan Bukan Berarti Mengabaikan Kondisi Sosial
Pembahasan mengenai kesetaraan sering kali berhenti pada gagasan bahwa setiap orang harus diperlakukan sama. Padahal, perlakuan yang sama belum tentu menjawab kebutuhan setiap individu yang memiliki kondisi berbeda.
Sebagai contoh, seluruh mahasiswa mungkin mendapatkan tugas dan tenggat waktu yang sama. Namun, sebagian mahasiswa memiliki waktu lebih banyak untuk mengerjakan tugas, sedangkan mahasiswa yang bekerja atau memiliki tanggung jawab keluarga harus membagi waktunya dengan kegiatan lain.
Kondisi tersebut tidak berarti aturan akademik harus selalu berbeda untuk setiap orang. Akan tetapi, penting bagi lingkungan pendidikan untuk memahami bahwa setiap mahasiswa memiliki situasi yang tidak selalu sama. Pemahaman tersebut dapat menjadi dasar untuk membangun lingkungan belajar yang lebih terbuka dan tidak mudah memberikan penilaian berdasarkan keadaan yang terlihat saja.
Dalam konteks ini, kesetaraan tidak berarti menganggap semua orang memiliki kebutuhan dan pengalaman yang identik. Kesetaraan justru membutuhkan perhatian terhadap hambatan yang mungkin dialami seseorang agar kesempatan untuk berkembang dapat dirasakan secara lebih bermakna.
Pandangan ini juga tidak berarti bahwa seluruh perempuan selalu berada dalam posisi yang sama atau bahwa laki-laki tidak pernah menghadapi hambatan sosial. Setiap individu dapat mengalami persoalan berdasarkan kondisi dan lingkungan masing-masing. Oleh karena itu, pembahasan kesetaraan perlu dilakukan secara terbuka tanpa membuat generalisasi terhadap kelompok tertentu.
Membangun Pendidikan yang Lebih Inklusif
Jika pendidikan dipahami sebagai ruang untuk membangun kesadaran kritis, maka lingkungan pendidikan perlu memberikan kesempatan bagi setiap peserta didik untuk belajar dan menyampaikan pengalaman mereka.
Hal tersebut dapat dimulai melalui pembelajaran yang tidak membatasi kemampuan berdasarkan gender. Perempuan tidak seharusnya diarahkan hanya pada bidang tertentu karena anggapan bahwa bidang tersebut lebih sesuai dengan dirinya. Begitu pula laki-laki tidak semestinya dibatasi ketika memilih bidang yang dianggap tidak sesuai dengan stereotip maskulinitas.
Selain itu, materi pembelajaran juga perlu menghadirkan pengalaman sosial yang beragam. Peserta didik dapat diajak memahami persoalan gender, kelas sosial, dan ketimpangan akses melalui diskusi, bacaan, maupun contoh yang dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Guru memiliki peran penting dalam menciptakan ruang belajar yang menghargai perbedaan. Namun, tanggung jawab membangun kesetaraan tidak hanya berada pada guru atau sekolah. Keluarga, masyarakat, dan lingkungan sosial juga ikut membentuk cara seseorang memahami peran gender serta kesempatan yang dimilikinya.
Dengan begitu, pendidikan dapat menjadi salah satu ruang untuk membangun masyarakat yang lebih terbuka. Bukan dengan menghapus seluruh perbedaan pengalaman, melainkan dengan memastikan bahwa perbedaan tersebut tidak menjadi alasan untuk membatasi hak seseorang dalam berkembang.
Memahami Kesetaraan dari Pengalaman yang Beragam
Pada akhirnya, kesempatan yang sama belum tentu berarti setiap orang memiliki pengalaman yang sama. Kehidupan perempuan dipengaruhi oleh berbagai kondisi sosial yang saling berkaitan, termasuk gender, kelas sosial, latar belakang keluarga, dan akses pendidikan.
Pemikiran bell hooks mengajak kita untuk melihat persoalan tersebut secara lebih luas. Kesetaraan tidak cukup dibicarakan melalui aturan atau kesempatan formal, tetapi juga perlu memperhatikan pengalaman dan kondisi sosial yang membentuk kehidupan seseorang.
Pendidikan memiliki peran penting dalam proses tersebut karena dapat menjadi ruang untuk membangun kesadaran kritis, membuka dialog, dan menghargai keberagaman pengalaman. Dengan memahami perbedaan kondisi sosial, masyarakat dapat melihat kesetaraan bukan sebagai upaya menyeragamkan kehidupan setiap orang, melainkan sebagai usaha menciptakan kesempatan yang lebih adil bagi semua.
